Yang Lebih Melelahkan Dari Yang Kita Kira
Tiap kepala pasti riuh. mereka memiliki bisingnya masing-masing. Besar dan kecil riuh isi kepala emang beda-beda. Kita enggak perlu menyamakan apalagi membandingkan siapa yang paling lelah dan riuh.
Seperti isi kepala seorang ayah yang mungkin saja riuh karena resah memikirkan bagaimana upaya ia tetap memiliki penghasilan nafkah harta untuk keluarga cukup, atau bisingnya isi kepala ibu yang memikirkan urusan domestik, anak, dan bagaimana mengelola nafkah harta yang ayah beri dapat cukup, Sedangkan harga pangan terus melonjak. Generasi sandwich yang kewalahan menanggung kebutuhan keluarga, diri yang babak belur, namun usahanya minim apresiasi bahkan nggak dihargai. Sedangkan keadaan memaksanya harus tetap kuat.
Bagi anak-anak, mungkin lelah selalu dikekang dan diatur. ingin sekali segera dewasa agar leluasa terlepas dari kungkungan orangtua. Bagi remaja mungkin masalah insecure, prestasi sekolah, adalah hal yang paling melelahkan untuk dihadapi. Atau bagi mahasiswa, tekanan skripsi, nilai ipk, cinta, menjadi batu batu besar untuk ia lewati. Rasanya sulit dan melelahkan.
Selama memiliki kepala, sepertinya selama itu pula kita akan berteman dengan lelah dan riuh. Upaya yang nggak dihargai, ketakutan yang menghantui, diremehkan, merasa tak punya pencapaian, merasa nggak berguna, nggak didengar, putus asa, semua hal itu menambah kebisingan isi kepala. bingung bagaimana melerainya.
Beberapa memilih bertahan, mengurainya dengan ilmu atau hiburan, beberapa memutuskan untuk menyelesaikannya dengan mengakhiri hidup, memutus perkara-perkara yang membuat ia lelah dan bising dengan cara bunuh diri.
Ah, ternyata dunia ini memang diatur untuk menjadi tempat ujian yang melelahkan. Riuh dan bisingnya isi kepala memang sengaja di desain supaya kita mampu menguraikan dan memecahkannya.
Atas apa-apa yang kita rasakan, Semoga kita selalu bisa memenuhi tangki-tangki sabar dari jalan manapun, dari hal apapun yang bisa menjadi pelajaran. sebab sudah menjadi janjiNya, bahwa bersama kesulitan pasti ada kemudahan. Qs. Al-insyirah: 5-6
Atas segala kelelahan yang menimpa dan membuat putus asa, semoga kita nggak pernah menjadikan bunuh diri sebagai solusi. Sebab bagaimana kalo rupanya lelahnya setelah bunuh diri itu lebih melelahkan dari yang kita kira. Bagaimana kalo ternyata bunuh diri menjadi awal perjalanan paling panjang dan melelahkan yang tak ada ujungnya? Ah, bagaimana?
Dari Jundub bin Abdullah, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda, Dahulu ada seorang laki-laki sebelum kamu yang mengalami luka, lalu dia berkeluh kesah, kemudian dia mengambil pisau, lalu dia memotong tangannya. Kemudian darah tidak berhenti mengalir sampai dia mati. Allâh Azza wa Jalla berfirman, "Hamba-Ku mendahului-Ku terhadap dirinya, Aku haramkan surga baginya." (HR Al-Bukhari).
Semoga selalu ada alasan untuk bertahan. bahwa, diciptakannya kita di bumi memang untuk ibadah kepada Allah. Ad-dzariyat:59. Ujian-ujian yang Allah beri untuk kita hadapi supaya kita menjadi menjadi muslim dengan next level yang lebih baik.
Sekali lagi selalu ada alasan untuk bertahan















