Agenda kami selesai lebih cepat, kami sudah bisa pulang. Jarum di jam tangan menunjukkan 14.43, pasti beberapa menit lagi adzan. Mendung membuat aku ragu, akan sampai rumah pukul berapa kalau terjebak hujan di jalan. Akhirnya kami mampir ke masjid terdekat sebelum pulang.
“Duduk sana, yok!” ajakku sambil menujuk arah pilar besar dekat kolam ikan.
“Duluan sana, aku mau mindah sepatu dulu ke loker, mendung soalnya. Khawatir nanti jadi perahu” celetuknya. Omongannya kadang suka ngelantur, tapi sering benar juga.
Beberapa saat kemudian dia kembali. Duduk bersandar di pilar besar. Sementara aku disampingnya asik melihat-lihat Ikan Koi di kolam. Masjid sore ini belum begitu ramai. Kami juga bersantai – santai disini sembari melemaskan otot – otot yang tegang.
“Eh, liat deh, Ikan Koinya bagus ya?” kataku mencoba membangun obrolan.
“Hmm.. suasana enak banget disini…” jawabnya tidak nyambung.
“Apa ikan – ikan itu bisa berbicara ya?” tanyaku iseng.
“Gawat sih kalo mereka bisa bicara, nanti mereka engga mau barengan lagi,” tuturnya sambil merem.
“Kok gitu?” Aku terpancing jawabannya.
“Liat tuh, corak mereka beda-beda tho.. Entar mereka ngeributin perbedaan corak itu lagi,” jawabnya masih sambil merem.
“Serius amat sih jawabanmu. Masa iya gitu?” Aku menggerutu.
“Lhooh, iya thoo bener, perbedaan corak mereka yang bikin lebih menarik. Ada yang corak hitamnya lebih banyak, corak putihnya dominan. Bahkan, corak merah mereka kadarnya juga engga sama. Kalo mereka sama semua coraknya, bukan Ikan Koi sih namanya,” balasnya agak kesal.
“Iya sih yaa..” balasku.
“Tapi aku pernah denger atau baca kisah gitu, ikan-ikan itu meskipun berbeda-beda, mereka selalu bertasbih ke penciptanya lho..” tutur dia.
“Oh ya? ini kamu gak lagi mau nyindir aku kan?” jawabku curiga.
Tidak ada suaranya lagi menjawab kecurigaanku itu. Pandanganku teralihkan ke arahnya. Ternyata gelombang otaknya telah berubah menjadi Beta, alias tertidur. Agak kesal, tapi bagaimana lagi. Ubin masjid yang sejuk, suara murottal jelang adzan dan gemercik air kolam membuatnya tak bisa mempertahankan kesadaran.
Sesungguhnya aku tersindir ucapannya tadi. Entah kenapa. Sepertinya teman sambatku ini menangkap kegelisahanku. Belakangan ini, aku sering sekali membanding-bandingkan diri. ‘Rumput tentangga terlihat sangat-sangat lebih hijau daripada rumputku.’ Pandangan diriku jadi negatif terus-menerus. Aku menyadari sesuatu. Membanding-bandingkan diri ini kadang jadi kecenderungan pada sebagian manusia, kan ya? Kecenderungan ini sedang sering mampir di diriku. Rasanya, kok jadi semakin sulit saja mencintai diri sendiri ya? Aku memandangi lagi kolam sambil merenung.
“Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah…” Tiba-tiba mulutku mengeluarkan suara itu, hatiku merasa ada sikapku yang kurang pas.
Aku mencoba untuk membuang perbandingan-perbandingan yang sempat menguasai pikiran. Khawatir semakin membawa dampak yang tidak baik. Seketika aku ingin jadi seperti ikan-ikan itu saja. Mereka tetap bertasbih pada Sang Pencipta. Terlihat tidak terlalu memperdulikan perbedaan diantara mereka. Tidak terlampau silau melihat yang lainnya memiliki ini, dan diri sendiri memiliki itu. Mencoba menerima, bagaimanapun kondisi, bagaimanapun bentuk saat ini. Lalu muncul pertanyaan kembali dalam hati. Kira-kira kenapa ya, Sang Pencipta menciptakan aku begini, seperti ini? Tanda tanya besar dalam hidup.















