5 Alasan Kenapa Biaya Pendakian Gunung Cartenz Sangat Mahal
Berada di sudut Indonesia paling timur, berdiri megah setinggi 4.884 mdpl di atas kawasan sepanjang Provinsi Papua. Sangat istimewa, puncak Jayawijaya diselimuti oleh tumpukan salju, menjadi impian dan harapan bagi sebagian besar pendaki gunung di Indonesia. Sebuah kepuasan tersendiri bagi mereka yang pernah mencicipi alam liar di puncak ini.
Namun, adalah sebagai batu sandungan yang amat besar bagi mereka, biaya pendakian untuk menjamahinya tidaklah murah, bahkan puncak Jayawijaya merupakan salah satu tempat termahal di dunia. Setidaknya, kamu harus menyiapkan uang sebesar 50-70 juta rupiah untuk melakukan pendakian menuju puncak Jayawijaya. Angka yang lebih mahal dibanding pendakian di gunung Elbrus di Rusia atau gunung Kalimajaro di negara Tanzania.
Sementara di sisi lain, masih banyak para pendaki yang menanyakan kenapa bisa semahal itu?. Bagaimana bisa kita dipersulit untuk menggapai puncak tertinggi di Indonesia, negara kita sendiri. Untuk menjawabnya, saya akan menjabarkan tentang 5 alasan kenapa biaya pendakian di puncak Jayawijaya memiliki harga selangit. Berikut di bawah ini.
Transportasi yang Amat Mahal
Menurut Maximus, pemilik Adventure Cartenz perjalanan menuju gunung Jayawijaya memiliki ongkos yang amat mahal. Misalkan saja kita dari Jakarta, terbang ke Timika dengan ongkos Rp. 3 juta, dilanjut terbang lagi ke Sugapa dengan ongkos Rp. 3 juta, kemudian naik ojeg seharga Rp. 300 ribu. Belum lagi harus sewa pesawat (perintis) untuk mengangkut logistik dengan harga Rp. 35 juta per pesawat. Setidaknya kamu harus menyiapkan uang ongkos sebanyak Rp. 10 juta sekali jalan.
Sulitnya Akses Perjalanan
Perjalanan menuju pintu gerbang pendakian pegunungan Cartenz bukanlah hal yang mudah. Selain ongkos, banyak faktor yang harus diperhitungkan, termasuk keamanan selama perjalanan dan akses jalan yang cukup sulit untuk ditempuh. Terlebih kita tahu bahwa basecamp-nya sendiri berada di kawasan PT. Freeport, tidak sembarang orang bisa memasukinya.
Harga Logistik yang Meroket
Karena konektifitas yang belum terkoneksi secara menyeluruh, biaya hidup di kawasan Sugapa sangatlah mahal. Kita ambil saja salah satu contoh, air mineral 600 ml, bila di Jakarta kita bisa membelinya dengan harga Rp. 5.000, maka di sana, harga yang dibanderol adalah Rp. 25.000. Bagaimana bila kita membeli makanan?, kamu bisa membayangkannya sendiri.
Faktor Keamanan yang Rentan
Sejauh ini, puncak Cartenz berada di urutan ke-3 dalam jajaran gunung termahal di dunia, setelah gunung Everest di Nepal dan gunung Vinson Massif di Kutub Selatan. Namun, pendakian di gunung Cartenz bisa saja jadi yang termahal, tergantung kondisi keamanan. Pasalnya bila terjadi konflik antara penduduk setempat, biaya bisa menyentuh dua kali lipat.
Harga Jasa Porter yang Amat Tinggi
Alasan terakhir adalah jasa guide atau porter yang sangat mahal, harganya sekitar Rp. 7-10 juta dalam sekali pendakian. Mungkin kita merasa bahwa harga tersebut sangat mahal, namun bagi mereka tidak seperti itu. Uang sebesar itu hanya cukup untuk keperluan keluarga dalam sehari-hari. Itu tadi, biaya hidup di sana sangat mahal.
Namun tidak jarang juga, beberapa narasumber yang pernah melakukan pendakian di gunung Cartenz mengaku tidak puas dengan pelayanan beberapa porter yang belum tersentuh edukasi, banyak uang tak terduganya, bila tidak dikasih mereka akan pulang meninggalkan kita di atas gunung.
Demikian adalah 5 alasan kenapa pendakian di gunung Jayawijaya sangat mahal. Harapan saya adalah akses jalan yang semakin mudah dan keamanan yang lebih kondusif. Masa iya kita tidak pernah menikmati gunung kebanggaan negara kita sendiri.