Sepucuk Surat Masa Lalu (Part 1)
Ruangan seluas stadium olahraga itu selintas dari luar terlihat biasa saja tapi siapa sangka ketika pintu kayu berukuran 2 x 3 meter dengan lempengan hitam berbahan baja sebagai gagang pintu itu dibuka, maka akan nampak sebuah ruangan berkapasitas 500 orang dengan deretan kursi yang disusun layaknya ruang teater mengerucut ke bawah panggung. Lantai yang berlapis karpet coklat muda dengan corak garis hitam di ujung yang membingkai warna dasar karpet, tak luput juga dinding yang ditaburi ornamen-ornamen classic di setiap sudutnya serta pencahayaan lampu dari langit-langit dinding membuat nuansa classic dan modern saling bersatu padu. Di atas panggung sana juga tersusun barisan kursi yang telah diduduki oleh para jajaran petinggi kampus. Sedangkan di samping kanan panggung, seorang guru besar sekaligus rektor dari kampus ini berdiri di atas podium dan tepat dibelakang sisi kirinya terdapat layar besar yang akan menampilkan sosok guru besar tersebut sedang memberikan pidato, motivasi dan sesekali lontaran candaan diberikannya.
Setelah serangkaian acara pembukaan dan sambutan oleh rektor, guru besar dan dekan fakultas selesai, di lanjutkan pada acara intinya yaitu pelantikan dan pengambilan sumpah dokter.
Hari ini kami berjumlah delapan puluh lima dokter muda dengan setelan kemeja sage green yang dipadukan dengan celana hitam untuk laki-laki dan rok hitam untuk kami perempuan. Tak luput juga kami mengenakan dasi dengan warna lebih tua dari warna kemeja yang kemudian dibalut dengan jas seragam putih. Disini saat lafal kalimat demi kalimat sumpah dokter kami ucapkan, rasanya jantungku berdetak lebih kencang, telapak tangan mulai berkeringat dan udara dingin dari pendingin ruangan rasanya juga lebih dingin dari beberapa menit yang lalu. Perasaanku kini bercampur-campur. Ada rasa lega karena apa yang telah aku usahakan berbuah hasil yang baik. Ada perasaan cemas karna setelah ini mimiliki amanah baru dalam babak kehidupanku sekarang. Dimana menjadi seorang dokter bagiku adalah amanah besar yang diberikan oleh Allah untukku karena itu menyangkut hidup dan mati seseorang. Disisi lain aku merasa bangga terhadap diriku yang berhasil meraih impianku sejak kecil. Ku yakin diriku. “Bismillah Ara, Bismillah” gumamku lirih pada diriku sendiri.
Setelah acara pelantikan dan pengambilan sumpah dokter usai, aku merasakan serangkaian acara selanjutnya berjalan sangat cepat. Alhamdulillah tak terasa prosesi pelantikan ini telah berlangsung selama tiga jam dan waktu menunjukan di penghujung acara. Kami semua yang berada dalam ruangan ini melakukan sesi foto bersama yang terbagi tiga sesi. Kini kami sebagai dokter muda yang berada diruang ini resmi menyandang gelar profesi dokter. Ku ucapkan rasa syukur banyak banyak pada Allah. Tanpa campur tangan dan kuasaNya rasanya mustahil aku bisa meraih gelar profesi tersebut.
Suasana ruangan itu yang awalnya hening kini menjadi hidup dan pecah oleh tawa bahagia kami setelah acara pelantikan ditutup.
Kami saling melemparkan senyuman dan saling memberikan ucapan selamat, dan sesekali diantara kami berbincang menanyakan goal-goal ke depan yang akan dicapai dalam dunia kesehatan atau pun sekedar menanyakan kabar keluarga. Tak ingin berlama-lama dalam ruangan, ku langkahkan kakiku menuju pintu keluar Hall Center Medical. Sesampainya dipintu keluar ku edarkan mataku mencari sosok perempuan yang sangat aku tunggu. Tak lama aku menemukan sosok yang aku cari dari tempatku berdiri sosok perempuan muslimah keturunan tiongha yang berbalut gaun warna peach yang dipadukan uluran jilbab hitam bermotif bunga itu nampak sedikit belari ke arahku.
“Araaa…” teriaknya keras sambil melambaikan tangannya ke atas berlari kecil menuju ke arahku.
Aku lambaikan tangan kananku ke atas sembari senyumku semakin mengembang seiring kedatangan Aisyah. Yaa dia sosok yang sedari tadi aku cari dan aku tunggu. Dia adalah Aisyah, sahabatku sejak duduk dibangku SMP. Jika diingat ingat dia dan keluarganya-lah yang banyak menolongku hingga aku bisa berdiri disini dengan gelar dokter.
“Ara congratulation.”dipeluknya diriku dilanjutkan dengan memberikan sebuket bunga peony
“Thank you Ais. Aku pikir kamu gak bakalan datang, karna teraakhir kita jumpa kemarin kamu masih sibuk dengan usahamu itu.” ku hirup bunga peony. Sahabatku ini tahu betul apa yang aku suka.
“Yee gak mungkin lah aku gak datang. Kalau aku gak ada yang ada bisa kena perang dingin aku dari dua kubu dong aku.” kekehnya
“Eh ciee sekarang udah resmi jadi bu dokter. IBU DOKTER AZHIRA” Godanya sambil menyenggol pundakku
“Tapi serius raa aku senenggg banget akhirnya kamu bisa jadi dokter sekarang. Mama papaku pasti juga ikutan bangga sama kamu. Oh ya tadi dapat salam dari mereka dan maaf mereka gak bisa ikutan datang ke acara pelantikanmu. Biasalahh trip business.” Sambungnya panjang lebar
“Iya gak papa Ais. Kamu udah dateng aja aku udah seneng banget.”pelukku erat padanya
“Ais sebenernya ada yang ingin aku sampaikan ke kamu.” Ucapku lirih. Belum sempat aku melanjutkan perkataanku tiba-tiba beberapa temanku dari lintas jurusan datang memberikan selamat, bingkisan dan diantaranya kami berfoto bersama.
“Raa ke café depan sana yukk. Laper nih aku.” Ajaknya yang sudah menyeret tanganku melangkah ke arah café tersebut.
“Oh ya tadi kamu mau ngomong apa Ra?” tanyanya sambil membantu meletakan barang-barangku ke bangku.
Aku hanya diam menatapnya sejenak dan menimang susunan kata yang pas untuk aku sampaikan.
“Araa?” panggilnya kali ini
Rasanya mulutku sedikit berat mengatakan jika aku ingin balik ke kampung halaman bertemu ibuku. Aku tau dia dan orang tuanya mungkin akan melarang aku untuk pergi. Mengingat kejadian tiga belas tahun yang lalu membuat diriku depresi dan trauma hebat. Di tambah tiga tahun yang lalu abahku meninggal membuat hubunganku dengan ibu semakin tidak baik-baik saja.
“Hmmm sebenernya.” Ku gantungkan ucapanku sambil menatap lekat-lekat wajah sahabatku
“Sebenarnya lusa depan aku mau balik ke kampung Ais.” sambungku yang sedikit ragu
“Kamu yakin mau balik?” tanyanya sedikit terkejut dengan tatapan matanya yang mengisyaratkan bahwa ia tak setuju dengan keputusanku.
“hHuum” senyumku mengembang disertai anggukan kepalaku menyakinkan sahabatku bahwa keputusanku sudah bulat
“Aku hanya satu sampai dua minggu disana Ais, sebelum benar-benar aku pindah dan menetap tinggal di kota ini. Dan aku juga ingin memastikan bahwa kondisi ibu baik-baik saja Ais. Entah sejak mimpi buruk waktu itu ada perasaan tidak nyaman di hatiku Ais.” Jelasku
“Ok. Jika memang itu keputusanmu, sebagai sahabat aku hanya bisa mendukungmu. Tapi Raa ijinin aku kali ini aku ikut denganmu pulang ya. Aku gak ingin kamu kenapa-kenapa lagi.” Pintanya
Aku balas dia hanya dengan anggukan. Kemudian kami lanjutan dengan obrolan ringan sembari menyantap makan yang baru saja di antarkan oleh pelayan café.
Mungkin kalian akan bertanya kejadian apa yang menimpaku lima belas tahun yang lalu hingga membuat Aisyah dan keluarganya sangat khawatir terhadapku jika aku kembali ke kampung.