#1 Sindoro: Mega-Mega dan Moratorium.
02 April, 2021. Sindoro. Melalui Kledung, Wonosobo.
Hari itu, pagi begitu memukau. Cuaca bersahabat, langit cerah, mega-mega beterbangan bermain-main bersama burung-burung. Udara begitu sejuk dan segar. Orang-orang begitu ramah. Suasana begitu hangat; oleh perbincangan sambil-lalu, dan oleh senyum tulus yang semarak merekah. Orang-orang berbagi selimut kebahagiaan bersama alam.
Jika tak tersendat macet, rencananya kami akan mulai mendaki di siang hari sehabis solat jumat. Sekira pukul delapan atau sembilan. Andaikan kami berangkat pagi, rencananya sore-sore kami menarget telah sampai di pos tiga. Mendirikan tenda, mengaso menghabiskan sore sembari ngopi, dan berbincang serta mengabadikan peristiwa senja dari ketinggian beribu-ribu meter. Alangkah akan indah jadinya. Namun apa dikata, alam punya kehendaknya sendiri. Kami diajari bersabar untuk meniti kebahagiaan secara perlahan. Tak terburu-buru. Akhirnya, setelah menunggu hampir sepuluh jam, kami bersiap untuk berangkat setengah delapan malam sehabis isyaan. Segala peralatan, perlengkapan, dan perbekalan selesai dikemas pukul tujuh. Kami bersiap. Oh ya, dikarenakan Sindoro merupakan gunung yang tidak memiliki mata air, oleh itu, masing-masing dari kami membawa tiga sampai empat botol besar air putih untuk minum maupun keperluan memasak, dan juga beribadah. Menyiapkan fisik dan mental, membulatkan tekad, dan tak lupa berdoa supaya diberi kelancaran. Sebab pada hakikatnya, mendaki adalah upaya untuk kembali; kembali kepada diri, kembali kepada alam, dan kembali menuju Ilahi. Bismillah..














