Perjuangan dan hal-hal yang menyertainya
Bicara soal berjuang, teringat pada kisah Chihiro dalam Spirited Away yang merupakan salah satu masterpiece dari Hayao Miyazaki—yang selalu menjadi favorit banyak orang.
Hampir setiap orang merekomendasikan film ini. Spirited Away seolah merangkum semua hal yang menakjubkan dalam film-film studio Ghibli. Film ini menceritakan perjuangan seorang anak perempuan yang masuk ke dalam dunia lain. Untuk bisa tetap hidup di dunia lain tersebut semua makhluk harus punya pekerjaan, demi tidak dikutuk menjadi babi seperti yang terjadi pada kedua orang tuanya.
Dalam berbagai kesempatan, ia berusaha mencari keberadaan kedua orangtuanya dan ingin berusaha mencari berbagai cara untuk menolong keduanya agar kembali menjadi manusia dan pulang ke dunia yang sesungguhnya.
Ngomong-ngomong soal berjuang, saya pernah hampir menyerah di waktu-waktu terakhir saat sedang memperjuangkan pendidikan (baca: menyelesaikan skripsi). Hampir menyerah untuk bisa ikut wisuda di bulan Agustus 2020 karena dosbing yang tak kunjung membalas pesan saya. Menyerah dalam arti tidak mau memaksa untuk ikut wisuda agustus, jika pada akhirnya harus wisuda selepas Agustus.
Saya hampir menyerah, tetapi seorang sahabat berkata, "coba saja dulu sampai waktunya benar-benar sudah habis."
Satu kalimat yang akhirnya membuat saya optimis dan membuka jalan di depan semakin lebar. Sisa waktu satu hari itu saya pergunakan dengan baik, melengkapi seluruh berkas, juga memaksimalkan doa. Hingga malamnya dosbing saya membalas pesan saya, mengiyakan, lalu saya bergegas menghubungi kepala jurusan yang ternyata masih online dan membalas pesan saya pada jam sebelas malam.
Saya tidak akan pernah lupa pada hari itu, pada orang-orang yang terlibat di dalamnya. Mengarsipkan chat-chat whatsApp di masa-masa itu lalu membaca-bacanya di masa sekarang masih membuat jantung saya berdegup tak menentu, layaknya waktu itu. Degupan di hari-hari perjuangan.
Satu lagi, perkataan sahabat saya itu, ketika salah satu teman kami mengalami sebuah kesulitan, saya memikirkan bantuan apa yang kiranya bisa saya lakukan untuknya. Yang lain dalam keadaan tidak bisa membantunya, tetapi saya berpikir pasti ada yang bisa saya lakukan, jika bukan lewat kedua tangan saya, barangkali saya bisa menghubungkannya dengan orang lain. Tetapi sahabat saya yang satu itu berkata, "kalau dia memang ingin dibantu, dia pasti akan berjuang menemukan seseorang yang mau membantunya. Atau kalau dia memang sungguh membutuhkan apa yang dia butuhkan, seharusnya dia akan berusaha mencoba berbagai cara untuk mendapatkan apa yang dia butuhkan."
Saya sedikit tertegun. Seperti memperoleh pandangan lain. Apakah iya bahwa kadang kita tidak perlu semudah itu membantu orang lain, bila diri mereka saja semudah itu menyerah dan tak ingin memperjuangkan sesuatu yang mereka sendiri butuh untuk perjuangkan?
Masih dalam topik berjuang, dalam sebuah buku yang saya baca dituliskan bahwa menunggu adalah juga berjuang. Dalam hal ini ada sesuatu yang saya pahami bahwa menurut saya, dalam berjuang (menunggu atau apapun) ada bersabar, meski begitu berjuang itu berbeda dengan bersabar. Bersabar itu tidak memiliki batas, sementara itu berjuang punya batas. Batasnya apa? Batas berjuang adalah sampai kita tidak bisa berjuang lagi.
Prajurit bumi dalam bukunya berkata, kataku sebelum memasuki medan perang, hanya orang-orang yang berjuang
yang pantas untuk diperjuangkan.
Saya pernah memperjuangkan sesuatu hingga tiba di titik dimana saya menyadari bahwa apa yang saya perjuangkan seperti tak pantas untuk saya perjuangkan lagi, saya tiba di titik dimana saya menyadari bahwa jika diteruskan akan membuang-buang waktu yang sejujurnya memang sudah begitu banyak waktu saya yang terbuang untuk hal itu. Batas berjuang adalah saat dimana kita sadar kapan kita harus berhenti.
Walau begitu, menyudahi perjuangan berbeda dengan menyesali apa yang pernah diperjuangkan. Sebab, barangkali proses-proses tersebutlah yang mengantarkan kita pada perjuangan selanjutnya—memperjuangkan sesuatu yang lebih baik, yang lebih layak untuk diperjuangkan.
Saya menyadari bahwa setiap masing-masing dari kita sedang memperjuangkan sesuatu dan masing-masing dari kita sendirilah yang tahu kapan waktu untuk berhenti. Entah berhenti karena dipaksa keadaan, atau berhenti karena apa yang diperjuangkan akhirnya tiba di titik yang kita inginkan.
Yang perlu kita pahami bahwa satu perjuangan yang telah selesai, tidaklah benar-benar selesai, sebab hidup adalah dari satu perjuangan ke perjuangan lainnya. Dari satu perjuangan mampu melahirkan puluhan perjuangan lainnya.
Yang perlu kita ingat juga adalah memperjuangkan sesuatu yang baik, perlu diikuti dengan cara-cara yang baik pula. Puluhan penulis mengatakan hal ini.
Berjuanglah sampai tidak bisa lagi berjuang. Berjuanglah sampai kita kehabisan waktu untuk memperjuangkan.
Bdg, 23 Sept 2021 | 21.30