Diorama Hati #04: Penantian
Seiring detik berubah menjadi menit, menit berubah menjadi jam hingga berakhir berganti Hari, Bulan, Tahun rasa ini masih tetap sama. tidak berkurang dan tidak hilang bahkan semakin bertambah besar. pertemuan tidak sengaja itu memberikan dampak yang begitu besar, hingga aku berani melupakan semuanya dan berani melangkah mantap memilihmu. namun aku takut untuk menatapmu lebih dekat, sebab kurasa alam melarangku untuk lebih dekat denganmu.
Aku tak tahu kenapa hati dan mata ini mantap memilih mu hingga pada detik ini, aku pun merasa tak pantas memiliki perasaan lebih dan besar ini kepada mu, hingga akhirnya aku sadar selama ini penantianku mungkin akan berakhiran sia-sia. Aku sebenarnya takut untuk kehilanganmu ketika aku tahu dikau akan melanjutkan program studimu ke lebih tinggi, itu sama saja membuat jarak diantara kita, namun realitanya aku bukan siapa-siapa kamu yang berhak melarangmu kemanapun kau melangkah.
Wahai pemilik hati disana,, aku tak meminta lebih untuk meminta belas kasihanmu untuk membalas perasaan ini, aku juga tak berhak memaksamu untuk menatapkku lebih dekat, ketika kau mengajakku untuk menonton bioskop dan duduk disampingku tempo lalu, aku sadar aku bukan siapa-siapa. tapi kenapa jantung keparat ini selalu berdetak disaat kita berdua bersama walaupun aku tahu kamu menyimpan rasa yang sama. hanya saja aku takut, aku pengecut kenapa saja aku bukan lahir dari golongan berada yang bisa saja bersamamu. jujur saja penantianku slama ini tak luput dari bayanganmu, sosokmu selalu hadir tiap kali aku mengunjungi tempat yang pernah kita kunjungi bersama, aku tak tahu lagi harus bersembunyi dimana lagi agar bayangmu tak selalu menghantuiku, bahkan saja pertemuan terakhir kita 4 bulan yang lalu, karena covid yang lebih berkuasa.
kini aku sadar, Setelah pada akhirnya, aku sungguh-sungguh menyadari bahwa aku yang menaruh hati terlalu dalam, aku telah terjatuh pada kepedihan ini pada sebuah penantian yang semu, dalam asa yang sangat hitam, aku telah terpuruk pada kepedihan dalam hidup yang sangat kelam, sehingga menghantam segala perasaan yang menghujam
Wahai pemilik rindu, sebenarnya aku tak kuasa mematikan debar dada keparat ini pada saat aku melihatmu di lorong Fakultas itu. aku tak sanggup menyembunyikan peraaan ini, apalagi saat berjalan berdua saja denganmu, apakah mungkin saja, bibirku mendahului rasaku untuk mengutarakan perasaan dalam dada, sementara itu teriakkan hatiku tetap saja tidak bisa kamu jangkau dan rasakan.
Bahkan saja aku merasa sang waktu sangatlah curang, menggumpalkan rindu yang tak wajar selalu bertambah besar tanpa permisi pada sang empunya. kadang kala perasaanku dan logikaku tak bisa berjalan dengan singkron. perasanku semakin liar menjalar namun logikaku mengahalangimu, aku sadar mungkin hanya sebuah penantian semu yang aku lakukan ini akan berujung sia-sia. Terkadang pula Rasa selalu bimbang, tapi kenapa hatiku masih mampu berteriak lantang untuk berjuang mengharapkanmu?? tak sadarkah aku ini sedang jatuh hati pada pemilik rindu disana, namun alam melarangnya untuk berlabuh.
aku senang ketika kamu masih mendoakan aku disaat aku kemarin berulang tahun, pesan text mu masih aku simpan dengan rapi tanpa aku berniat untuk menghapusnya, akupun masih berharap berbalas pesan hingga aku merasa lupa aku siapa, namun kuurungkan karna memang sekali lagi alam tak pernah sedikitpun mengijinkanku. hingga akhirnya aku hanya bisa menahan pilu yang terus memburu.
setelah pada akhirnya aku menyadari akulah yang menaruh hati terlalu dalam, aku sadar aku telah terjatuh pada lubang hitam buatanmu, aku telah terjatuh pada pedihnya harap, aku sadar. telah terpuruk pada kepedihan penantian rasa yang sangat kelam.
apakah menaruh hati padamu sama saja sebuah kesalahan? menjadikan dirimu sumber rindu juga sebuah kesalahan? tolong berhentilah untuk menghantui aku dengan senyumanmu aku sungguh tak kuasa. :((