Titik Akhir: Petualangan Memilukan (1)
Tak ada yang kebetulan, ini skenario Semesta yang sudah disusun sedemikian Rapi pada bait pertemuan tiap Manusia. Kita yang dari latar belakang apapun, tanpa kecuali punya kesempatan yang sama untuk menjadi Bahagia bukan?
Sayangnya dari sekian banyak skenario terkadang kita ga peka, karna ia hanya bisa dimaknai oleh akal dan hati yang mau berkompromi tentang keindahan yang telah diskenariokan oleh Pemilik Semesta. .
Lalu ambillah kebaikan dari siapa pun tanpa ada “kata orang-orang” di dalamnya.
Kebaikan serupa Tulus, mereka masih tetap mengindahkan pertemuan tanpa kepentingan pribadi. Menjaga ketulusan agar tak terkikis oleh waktu dan kian langka. Seraya pertemuan diindahkan diawal dan membingkai hingga nanti muncul kebahagian bahkan kenyamanan.
kamu tahu,, bahwa proses akhir sebuah petualangan adalah rasa ingin berlabuh, rasa ingin bermuara dan rasa ingin melepas kepenatan berpetualang. yang kebetulan skenario tuhan kini menggariskan bahwa aku telah menemukan titik, menemukan labuhan terakhir yang sekiranya aku bisa beristirahat dengan damai. hingga menemukan kebahagian yang utuh di lain tempat.
“kita tidak bisa mencari kebahagian di tempat yang sama kita kehilangan”
bahkan sesekali pengharapan kebahagian itupun muncul di saat inti jiwa ini meronta ronta untuk menghangatkan kembali jiwa yang terkikis hingga menjelma pada permintaan.
yang menjadi kunci, pembuka mimpi-mimpi, yang tak pernah berani tuk diungkapkan, bahkan diterbangkan. Yang sayap-sayapnya tak dapat tuk dikepakan kecuali oleh kehadiran.
yang menjadi jendela, tempat melihat keindahan, dari tempat paling tidak nyaman sekalipun”
lalu pada pengharapan kebahagian itu, aku mencoba menerima bahwasanya hal yang menyakitkan memang tak bisa seutuhnya untuk memiliki mu, bahkan sekedar menyapamu dipelabuhan terakhirku pun serasa ada kelu dan membuat ku takut.. entahlah memang perih jika memang perasaan itu dipaksa.
Kita percaya bahwa muara hidup ini bukanlah segala hal yang tampak megah dalam hidup. Tapi bagaimana kita bisa melewati hidup ini dalam keadaan sabar dan syukur yang tak pernah surut. Dalam ikhtiar dan tawakal yang berkesinambungan. Dalam iman dan amal saleh yang tak pernah terpisahkan.
seraya pertemuan dalam petualangan ku bias, sebab kenapa ada satu permintaan yang ku pendamkan pada permintaan itu, hingga berakhiran dengan Petualangan yang memilukan.
Hingga suatu ketika aku menulis bahwasanya dalam sebuah kala tempat kita bermula pada sebuah percaya kita ingin bermuara, Merasa ambigu, jika suatu ketika semua lara itu terbalaskan dan memantik rindu dan bermuara romansa yang tenang. Ketika apa yang diharapkan ternilai dan terwujud..
YOGYAKARTA, 4 desember 2019
©SORENTHERIAHUNTERWORDS | #Tryaszoe
https://www.instagram.com/tryaszoe/?hl=id