Aku selalu berterima kasih padamu. Karenamu, aku mulai percaya akan diriku.
Ucapanmu kala itu berhasil jadi cambuk untukku agar bisa bergerak lebih baik. Aku yang katamu terlalu takut dan ragu-ragu, perlahan mulai berani meski ya masih malu-malu.
Aku berterima kasih padamu, karena lewat kamu aku bertemu banyak hal baru. Aku mungkin tidak kenal dengan duniaku sekarang kalau aku masih terus terkungkung dalam lingkaranku yang dulu.
Ternyata dunia seluas itu.
Aku selalu berterima kasih padamu, meski kisah kita justru berakhir pilu.
Tapi, untuk bisa bergerak sejauh saat ini, kamu adalah salah satu yang dengan sukarela mendorongku.
Saat ini mungkin kita sudah teramat jauh. Kamu dengan hidupmu, dan aku dengan duniaku. Nyaris tidak ada lagi benang yang bisa menghubungkan kita.
Seperti katamu, kita mungkin memang hanya muara sementara.
Saat itu kita masih terlalu belia. Jangankan untuk bicara rumah tangga, terpikir untuk hidup bersama rasanya masih terlalu jauh ya.
Aku dan kamu kala itu tidak lebih dari romansa remaja tanggung yang sedang bingung maunya apa.
Hanya berupaya saling mengisi dengan cara-cara yang kita tahu, dengan penuh sederhana.
Ah, memori manusia cepat sekali mengingat kalau tentang yang lalu-lalu.
Tapi hari ini, kita sudah mendewasa. Mungkin pikiran-pikiran dan angan lucu zaman dulu hanya bisa kita tertawakan kalau saja kita bisa kembali duduk dan berjumpa.
Aku lihat, kamu sudah jauh lebih matang. Akupun banyak belajar yang menjadikanku seperti sekarang.
Bagaimanapun, masa-masa yang mungkin terasa aneh kala itu, sempat membuat kita sama-sama tumbuh.
Bagaimanapun, tidak perlu disesali, sekalipun kita tidak bisa saling memiliki.
Bagaimanapun akhirnya, aku tetap akan selalu berterimakasih kepadamu.















