Telaga dan Kisah Peramu Warna (bagian lima)
Ayah dan Nusaindah sudah sampai di pelatar rumah setelah berlari dari telaga yang sudah dipenuhi warna gelap. Pintu rumah dibuka dengan sekujur tubuh mereka yang basah kuyup. Ayah memberi intruksi ke Nusaindah untuk bergegas ganti baju. Sementara sang ayah pergi ke ruang kerja jahit sang bunda.
“Bun, bundaaa…” teriakan Ayah sampai ke kamar Nusaindah saat ia sedang berganti. Ia mempercepat diri, lalu segera menyusul ke ruang di mana ayahnya memangil bundanya.
“Ayah, bunda di mana?” Nusa masuk ke ruangan dan tidak menemukan sosok yang dicari.
Ayah Nusaindah memegang gagang pintu lemari kayu di ruang jahit istrinya. Nusaindah mengamati ruangan dengan seksama, ini kali pertama masuk ruang kerja bunda. Ada berbagai lemari kaca berisi gaun jahitan bunda dari pelanggan. Lemari kaca mungil berisi peralatan jahit. Lemari kaca berisi benang berwarna warni dan lemari kaca berisi benang putih. Serta satu lemari kayu besar di hadapan sang ayah.
“Ayah, bunda di dalam?” Nusaindah mulai mendekati ayahnya yang matanya sudah sembab berair.
“Kita harus bantu bunda keluar dari ruang peramu warna,” ayahnya berbalik arah dan siap meninggalkan lemari yang sedari tadi ia pandangi.
“Apa yang bisa kita lakukan agar bunda bisa keluar, yah?” Nusaindah tidak benar-benar memahami maksud ayahnya.
“Nusa, tolong ambilkan benang putih di lemari kaca itu,” Ayahnya menujuk salah satu lemari yang sudah diamati Nusaindah sejak pertama masuk ke ruangan ini.
Saat Nusaindah menuju lemari berisi benang putih, ia masih berbalik dan mengamati lemari kayu yang kata ayahnya tempat di mana bundanya terkurung bersama langit gelap. Sang Ayah sedang mengambil salah satu tas yang ada di tumpukan kain perca sisa hasil jahit bunda. Nusaindah bergegas mengambil beberapa gulung besar untuk dimasukkan ke tas jinjing yang ayahnya bawa menuju pintu keluar.
Ayah dan Nusaindah sudah bergegas ke garasi. Ayahnya kini tak banyak berkata. Ia membuka pintu garasi dengan kekuatan penuh. Ayah memberi aba-aba kepada Nusaindah untuk bersiap. Gadis berusia empat belas tahun itu memahaminya. Nusaindah akan menaiki mobil Jeep dalam garasi ini entah menuju ke mana. Hanya ayahnya yang tahu. Sembari mobil Jeep keluar dari halaman rumah yang masih beraura gelap dari langit-langit yang dipenuhi awan pekat, Nusaindah berbalik arah melihat rumah yang di dalamnya ada bundanya, seorang peramu warna yang tertahan di dalam ruangan peramu warna.
“Kita mau kemana, yah?” di perjalanan Nusaindah mulai ingin tahu.
“Menemui peramu warna di telaga lain, sayang. Kita harus menyelematkan bunda sesegera mungkin,” ayahnya menjelaskan.
“Peramu warna di telaga lain?” Nusaindah mengulang kalimat ayahnya dengan nada bingung.
“Iya, saat di telaga sudah ayah jelaskan. Di dunia ini ada banya peramu warna yang menjaga telaga dari langit kejahatan.
Nusaindah mengarahkan kepalanya ke atas awan yang sudah tak lagi hitam. Ia lalu menoleh ke belakang. Awan gelap itu tertinggal hanya di langit hutan tempat tinggalnya. Ia mematung melihat pemandangan yang baru pertama ia lihat itu. Sepanjang perjalanan ia menghawatirkan bundanya dalam lemari kayu, juga menyeruak rasa penasaran akan bertemu dengan peramu warna lainnya.
“Bisa ayah ceritakan siapa peramu warna yang akan kita temui nanti?” Nusaindah bertanya karena ingin tahu.
“Namanya Tante Jingga. Kita butuh waktu tiga jam untuk sampai ke rumahnya di sebrang telaga utara sana,” ayahnya menjelaskan dengan mengendarai Jeep hati-hati.
“Apa Tante Jingga juga penjahit seperti bunda?” Nusaindah memiliki stok pertanyaan banyak sekarang.
“Bukan, Tante Jingga seorang ilmuan.” Ayahnya menjawab singkat karena fokus ke jalanan di depan mata.
“Lalu kenapa kita membawa benang putih dari ruang jahit bunda?”Nusaindah menatap tas yang terdampat di bagian belakang mobil.
“Benang bunda harus diwarnai dengan air telaga. Kita harus bantu bunda menuntaskan tugas meramunya. Kemungkinan besar benang yang dibawa bunda ke ruang meramu warna habis saat dipintal melawan langit kejahatan,” ayahnya menginjak gas mempercepat laju mobilnya.
Nusaindah menelaah kalimat ayahnya yang sulit dia pahami. Mewarnai dengan air telaga. Dipintah melawan . Ia diam memikirkan banyak hal yang ia tak tahu. Bahkan pada apa yang bundanya sedang lakukan di balik lemari kayu, ia bergeming. Sesekali ia masih menoleh ke arah belakang, titik hitam dari langit makin kecil. Perjalanannya dengan sang ayah sudah sangat jauh.
“Memang Tante Jingga bisa bantu bunda keluar dari lemari, yah? Orangnya ada di rumah atau sedang meneliti sesuatu?” Nusaindah celinggukan saat mobil Jeep ayahnya sampai di pelatar sebuah rumah tepat di depan sebuah telaga.
“Tadi sudah ayah telpon kok, pasti bisa bantu kita dan bunda,” Ayahnya membuka pintu dan bergegar mengambil tas jinjing berisi benang.
Seorang perempuan berkacamata ke luar dari balik pintu bersama seorang laki-laki berperawakan besar. Keduanya memakai baju kemeja putih, seperti baju praktikum sains yang Nusaindah pakai di sekolah saat jam praktik di laboratorium. Jingga dan Grey adalah sepasang ilmuan yang tinggal dan menjaga telaga utara. Setelah mendapat kabar dari Ayah Nusaindah, mereka bergegas pulang dari tempat kerja di sebuah lembaga penelitian bahan makanan alami.
“Hai, Nusa! Hai, Ardi,” Jingga menyapa Nusa dan ayahnya. Ardi adalah sapaan orang terdekat ayah Nusaindah, potongan dari namanya Lazuardi.
“Ini, mohon bantuannya ya Jingga,” Ayah Nusaindah menyerahkan tas yang ia jinjing.
“Yuk, Nusa ikut tante,” Jingga mengajak Nusaindah setelah menerima tas yang diberikan padanya.
“Sini, Di. Kita tunggu di teras,” Grey, suami Jingga mempersilakan Ayah Nusaindah.
“Itu nggak papa Nusa ikut ke telaga?” Ayah Nusa nampak khawatir.
“Aman, akan ada saatnya dia jadi penerus.” Jingga berjalan menuju telaga diikuti Nusa di belakangnya yang sempat menoleh ke arah sang ayah.
Di pinggir telaga utara, Jingga duduk sembari membuka tas yang baru ia terima. Dikeluarkanya satu persatu benang putih dalam gulungan besar. Ia menoleh ke arah samping dan melihat Nusaindah kebingungan. Ia tersenyum sembari fokus pada benang yang sudah di luar tas. Gulungan benang putih itu ia celupkan perlahan ke air telaga, seketika ikan-ikan berwarna orange muncul ke permukaan. Kilauan cahaya dari telaga berangsur terserap pada benang. Nusaindah kini terbelalak.
“Kamu belum pernah diajak bunda mengisi benangnya di telaga,” Jingga menatap Nusaindah.
“Mengisi benang? Di telaga?” Nusaindah mengulang kalimat Jingga dan mengelengkan kepala tanda menjawab tidak tahu.
“Kita akan membawa benang berkilau air telaga ini ke dalam ruang meramu warna di rumahmu. Pertama kita isi kilaunya dulu. Lalu bantu bundamu mendapatkan benang ini,” Jingga mulai memasukkan benang yang ia telah celupkan kembali dalam tas.