Skripsi Jilid 2 : Ego Diri Yang Terluka
"ah nanti juga dipermudah, masa ngebiarin gitu aja" dalam benak yang congkak
Kemudian Allah memberi jalan, jalan yang berliku tapinya, yang membungkam kalimat 'ah nanti juga dipermudah'
.
Mulai dari nilai semester sebelumnya tak kunjung keluar karena sistem yang ternyata muter-muter birokrasinya. Terus dosen yang harus tes dulu agar nilainya keluar lagi. Sampai administrasi yang ini belum, itu belum
.
Kebayang aku yang panik, tapi yang ngejalanin sangat tenang. Tenang yang terlihat. Ku amati diam-diam sebenarnya ia pun ada paniknya. Tapi ia sembunyikan agar aku tak terus-terusan panik yang malah bikin kacau keduanya
.
"Ya mau gimana, harus dilalui, kerjain dan pasrah minta bantuan ke Allah" kalimat yang akhirnya keluar. Aku terdiam, dan akhirnya aku putuskan "oke aku ngga bisa dengan cara brutal paksa wkwk. Aku ikuti aturan mainnya"
.
Support system, kayaknya masih jauh dari sebutan itu, tapi aku terus berusaha sampai titik itu. aku bagian pritilan-pritilan, nyimpen dokumen, ngerapihin, ngecek perparagraf, ngga banyak komen, ikut ke perpus, ikut ke lapangan, ngejalanin aja senyaman doi untuk mau aku bantu
.
Karena pernah dipaksa "hayuk beresin, ini udah belum, itu gimana?" meski kalimat bukan perintah, ternyata itu bikin sebagian orang tertekan juga
.
Terus kunci utama dalam hal mendampingi melawan ego adalah Apresiasi. Sekecil apapun, itu jadi semangat doi ceunah. Akunya jangan kelihatan panik, senyum, tenang (padahal mah) wkwkw
.
"Tuhkan apa yang aku bilang! Coba urus dari kemarin" kalimat ini mematikan semangat, hati, dan memercik api
.
.
Ini adalah babak baru bagi kami, pelajaran berharga buat aku yang mungkin sebagian orang ngalamin juga
.
Remeh sih (mungkin buat sebagian orang) tapi kami belajar, oh gini bersama untuk berjuang menuntaskan cita-cita. Yuk lagi, semangat untuk kita ke misi kita berikutnya! Ceklis 👍
.
Tentang Ego diri yang harus berbenah, dari sini aku belajar, bahwa berpengalaman juga belum tentu jadi metode yang pas untuk dipakai ke orang lain. Semakin memaksakan sesuai kehendak kita, bisa jadi akan ada yang tersakiti. Mending kehendak kita dinegosiasikan dulu ke Allah, biar Allah yang 'sentuh' ia dengan caraNya 😊










