Menjaga Perasaan
Usia 20-an seringkali dikaitkan dengan perihal memiliki pasangan hidup. Bahkan bagi sebagian orang momen lebaran menjadikannya momok menakutkan untuk bertemu dengan keluarga besar. Bermacam-macam pertanyaan perihal pasangan membuat ketakutan tersendiri. Meskipun tidak jarang pertanyaan tersebut hanyalah pertanyaan basa-basi. Tapi untuk orang yang baper mah jadinya pertanyaan serius.
“Mba Eni kapan dikenalin calonnya ?”
“Mba Eni jadinya kapan nikahnya ?”
Yang ditanya paling hanya mesam-mesem sambil menjawab iseng atau paling aman adalah menjawab “mohon doanya ya”
Tidak hanya pertanyaan kapan nikah, bagi yang sudah menikah pun diberondong pertanyaan horor lanjutan. Pertanyaan yang seringkali membuat jengkel.
“Mba udah isi belum ?”
“Gimana mba, kapan mau kasih mama cucu ?”
Gampang kali ya kalau hanya nanya. Tapi dipikir-pikir ngeselin juga kalo tiap ketemu yang ditanya seperti itu. Semacam tidak ada pertanyaan lain saja.
Baiklah, perihal tanya menanya biarlah. Yang penting mah yang ditanya dibuat seneng aja ya biar tidak sakit hati. Sembari berdoa biar yang belum dapat jodoh segera didekatkan dan dipertemukan dengan jodohnya. Dan yang belum diberi anugerah momongan jangan patah semangat untuk terus berusaha sembari berdoa agar Allah menitipkan amanah buat keluarga kecilnya.
Seringkali juga kita lupa menjaga perasaan orang lain. Bagaiamana rasanya ketika kita yang berada di posisi mereka-mereka yang tersakiti. #tsaaahh
Bisa dijadikan contoh yaitu pasangan yang baru menikah. Bahagia ? tentu saja bahagia. Bahkan mungkin bahagianya melebihi apapun. Hahaha (sotoy) seringkali mereka lupa bahwa masih banyak teman, sahabat, saudaranya yang belum dipertemukan jodohnya (ya kayak saya ini). Kemudian isi sosial medianya dipenuhi dengan foto dan cerita berlebihan tentang dirinya dan pasangannya. Aduuh ,,,, lelah adek bang liat media sosial yang ada tu anak. Hahaha
Tidak hanya itu si pasangan yang baru nikah ini juga aplod-aplod hal remeh temeh yang akhirnya saya jadi tahu tu anak kayak apa. #nahlooo emang dulunya ga gitu ya ? Meskipun begitu tidak apa juga si. Lumayan buat hiburan yang bisa jadi pelajaran. Sambil kuat- kuat berdoa biar nanti saya tidak begitu. Hehe
Nampaknya hampir semua teman saya juga bilang begitu dulu sebelum menikah. Tapi setelah menikah ya sama saja kayak yang dulu dia komentari. “Ya Allah .... jaga hati saya biar tidak melakukan hal-hal yang berlebihan” Aamiin.
“Mba Eni, aku kesel banget deh liat si A. Kok gitu si ? Doakan aku ya mba biar aku ga kaya si A yang mengumbar foto-foto mesra di FB setelah menikah”
“Mba Eni, semoga nanti aku ga pamer kegiatan harianku sama suami di FB ya”
Dan sederet kata semoga dan semoga. Yang diajak cerita mengAminkan dan sekarang mesam – mesem sendiri saat liat timeline FB doi dipenuhi dengan catatan harian doi sama pasangannya. Hahaha
Itu cerita yang baru menikah. Yang sedang hamil anak pertama juga tidak kalah heboh. Menurut saya ini lucu. Hal ini dilakukan oleh mamah muda dan calon mamah muda. Si calon mamah muda tiap hari kerjaannya apdet berita kocak. Tapi sebenernya saya jadi tau juga si.
“Aduuhh ... udah tri semester kedua kok masih mual ya ?”
“Berat badan udah naik lebih dari 5 kilo kok aku ga gendut juga ya ?”
“Lucunya si dedek yang sedang gerak2 di perut ummi”
Ah iyaa .... ini ceritanya seolah-olah saya kesel gitu ya. Hehe
Tenang sodara-sodara .... saya tidak sedang kesel kok. Saya hanya sedang ingin cerita saja. Dan kebetulan tadi pagi dapat bahan bacaan yang cukup membuat saya tergelitik.
Adalagi ketika ternyata teman atau sahabat kita tiba-tiba cerita kalau sekarang sudah tidak lagi bersama suaminya alias bercerai. Nah ..... setan pasti akan langsung membuat kita bernafsu untuk bertanya macam-macam. Lantas apakah kita akan langsung bertanya kenapa ? bagaimana kronologinya ? aaahh .... rasa-rasanya itu terlalu menyakitkan. Saya pribadi memilih untuk diam dan mendengarkan. Saya memilih agar si orang cerita dengan sendirinya. Bukan karena saya bertanya macam-macam. Kebayang ga sih ? sedang bercampuraduk perasaan dihatinya, kemudian kita tambahkan dengan pertanyaan yang mungkin secara tidak sadar bisa jadi semakin menyakiti hatinya.
Intinya sih saya sedang mencoba menjaga perasaan. Baik perasaan saya sendiri maupun oranglain. Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Teh manis yang kebanyakan gula pun jadinya tidak enak. Pun ketika membeli jeruk yang rasanya terlalu asam. Tidak hanya rasanya yang tidak enak, namun bisa jadi membuat sakit perut.
Berkabarlah yang baik-baik. Cukup dan sewajarnya. Tidak perlu berlebihan. Karena kita tidak akan pernah tahu bagaimana perasaan orang-orang disekitar kita. Yah ... mungkin kita bisa berargumen kalau memang tidak suka dengan postingan saya silahkan unfriend. Ya Allah .... tapi apakah rasul mengajarkan demikian ? apakah orangtuamu mengajarkan demikian ? tidak bukan ? maka dari itu akhirnya saya memutuskan untuk saling menjaga perasaan. Lagi pula untuk hal-hal seperti ini kok. Hal-hal yang mungkin sebenarnya ini untuk konsumsi pribadi.
Percayalah, dengan menjaga perasaan diri dan orang lain, hidup akan damai. Hidup tenang dan bahagia. Saya mohon maaf juga ya kalau postingan saya membuat kesel teman-teman semua. Saya sering posting kegiatan atau foto-foto ketika bekerja yang kebetulan bonusnya mengunjungi sisi lain Indonesia. Ini bermaksud memberitahu saja kok kalau Indonesia sangat indah. Memberi motivasi agar teman-teman juga bisa berkeliling Indonesia. Bukan untuk menyakiti. Hehe
Jadi, yuk kita saling menjaga perasaan. Seimbang. Tidak berlebihan. Dan semoga tetap saling menjaga persaudaraan kita semua.










