Kembali
Pada senja hari ini, izinkan aku kembali lagi.
Terima kasih sudah setia menemani.
tumblr dot com
i don't do bad sauce passes
Alisa U Zemlji Chuda
dirt enthusiast
cherry valley forever
sheepfilms

Love Begins

★
Claire Keane

roma★
NASA
will byers stan first human second
Mike Driver
DEAR READER
taylor price

Andulka
Not today Justin

Discoholic 🪩

⁂
Three Goblin Art
seen from United States
seen from Australia
seen from Canada

seen from United Kingdom

seen from United States

seen from Morocco

seen from Canada

seen from Portugal
seen from United States
seen from Sweden

seen from Malaysia

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United States

seen from Australia
seen from United States
seen from Germany

seen from United States
seen from New Zealand
seen from Italy
@eniikan
Kembali
Pada senja hari ini, izinkan aku kembali lagi.
Terima kasih sudah setia menemani.
Berdamai
Setelah lama tidak berjumpa, akhirnya bisa bersapa kembali di sini. Tempat dimana dulu kala sering saya habiskan untuk meracau tak jelas. Ketika layak baca, lanjutkan. Namun jika tak layak, berujung hanya menjadi draft. Terima kasih tumblr sudah kembali.
Hari ini, saya ingin berdamai. Berdamai dengan sepi. Berdamai dengan riuh ramai yang kosong. Berdamai dengan semuanya. Agar besok saat mentari menyapa, saya sudah kembali ceria. Kembali menjadi sosok yang dirindukan hingga tidak ada lagi alasan pekerjaan untuk tidak segera membayar lunas rindu. Ya, semoga perdamaian ini tuntas juga malam ini.
Selamat berdamai dengan diri sendiri :)
Meluaskan Sabar
Sudah sebulan lebih saya dan suami tidak bertemu. Lebih tepatnya karena memang kami sedang LDMan Bogor - Semarang. Kangen ? Sudah pasti. Meskipun setiap hari video call juga masih tetap beda rasanya kalau tidak bertemu langsung. Mimpi buka sahur bareng, mimpi merayakan hari-hari spesial bareng, ternyata benar-benar mimpi. Hehe
Pertemuan terakhir hanya dua hari. Tidak sampai dua hari mungkin ya. Ketika saya mudik ke Kebumen, Mas Bojo ikut mudik juga. Izin ke bosnya mau syukuran 4 bulanan dedek yang sekarang sedang aktif-aktifnya nendang2 perut saya. hehehe
Sebulan tidak bertemu, diobati hanya 2 hari. Belum juga selesai melepas rindu, kami sudah harus kembali menimbun rindu. Nikmat sekali ya rasanya. Tapi semuanya harus disyukuri. Bagaimana tidak ? mungkin jika setiap hari bertemu, tidak akan serindu ini rasanya. hahaha
Suatu hari saya iseng minta dibuatkan sebuah puisi. Saya tahu betul Mas Bojo bukan tipe orang yang pandai berkata-kata. Tapi saya memaksa. Setiap hari saya mengingatkan “Yang, PRnya jangan lupa yaaa” dan selalu jawaban sama yang saya dapatkan “Mas ga bisa buat begituan sayang, ganti lainnya saja yaa” sampai suatu ketika, tepatnya dua hari yang lalu ada email masuk dari Mas Bojo. haiyaaaaa ..... Mas kirim puisi (eh, itu puisi apa bukan ya ? :p) Dikirim tengah malam dan saya baru membacanya pagi hari ketika bangun sahur.
Terlihat biasa saja mungkin. Tapi bagi saya maknanya sangat dalam. Mas mengingatkan untuk meluaskan kesabaran. Ya, kami berdua sedang sama-sama berjuang. Melatih kesabaran. Meluaskan sabar.
Kami baru menikah akhir tahun lalu. Sebelumnya kami tidak mengenal satu sama lain. Perkenalan hanya mungkin sekitar 4-5 bulan. Intens komunikasi menjelang akad karena mempersiapkan pernikahan. Berbekal keyakinan ingin beribadah, insya Allah dimudahkan dan dilancarkan. Benar saja, sejak pertama kali Mas Bojo menghubungi, kemudian dengan berani datang ke rumah untuk bertemu Bapak, Alhamdulillah lancar sampai hari akad. Kedua orangtua dan keluarga besar juga mendukung. Meskipun awalnya bingung waktu bilang ke Bapak. Dan lagi-lagi ini tentang kesabaran. Bagaimana saya dan Mas Bojo meluaskan kesabaran. Sabar dalam penantian. Kurang dari tiga bulan setelah menikah, Mas Bojo pindah tugas dan yaaa ... akhirnya kami harus terpisah Bogor - Semarang, dan sebentar lagi akan pindah ke Jember (makin jauh aja dari Bogor). Belum terbayangkan sebelumnya oleh saya, menjalani kehamilan sendirian di perantauan. Hiks .... hiks .... (mungkin ada yang bertanya-tanya, kenapa saya tidak ikut suami saja ? inginnya begitu, namun ..... nanti ya saya ceritakan di tulisan yang lain)
Hari ini juga saya harus meluaskan sabar. Dimana hari ini adalah hari lahir Mas Bojo. Idealnya saya akan iseng buat kejutan, kemudian buka puasa di luar seraya bersyukur masih diberi umur sampai hari ini. Namun, ternyata mas Bojo tidak bisa pulang ke Bogor. Padahal awalnya bilang akan pulang tanggal 5. Kerjaan menuntut Mas harus standby di Semarang. Mungkin sampai nanti menjelang Lebaran. Semoga masih kesampaian buka dan sahur bareng yaaa :)
Ditengah-tengah ujian meluaskan kesabaran ini, semoga kami berdua lulus dengan hasil yang baik. Semoga dedek di perut juga tidak ikut protes ketika bapaknya sementara ini jadi bang toyib. hehehe
Barakallahu fii umrik Mas Bojo ..... Doa terbaik untukmu. Terima kasih untuk senantiasa mengingatkan istrimu ini. :)
Untuk yang sedang berjuang, yuk sama-sama meluaskan sabar. Bukankah Allah mencintai orang-orang yang sabar ? :)
Entahlah
Entahlah. Rasa-rasanya hanya ingin pulang. Melepas penat di rumah. Melihat senyum orang-orang tersayang. Mendengar banyak cerita yang mungkin banyak terlewatkan.
Entahlah. Mungkin hanya sebatas bosan yang berujung pada pelarian. Semoga tidak menjadi sia-sia. Semoga Tuhan masih tetap menjaga kita.
Entahlah. Bisa jadi hanya kurang bersyukur. Sedang jauh dari Tuhan yang nyata-nyatanya Tuhan tak pernah jauh dari kita. Malah kita yang seenaknya menjauh dari Nya.
Entahlah.
Entahlah.
Semoga masih diberi kesempatan untuk menjadi lebih baik. Diberi kesempatan lain untuk semakin menjadi lebih baik.
Selamat hari rabu. Ya, Rasanya Aku Butuh kamU :)
Musuh Terbesar Seorang Ibu
Musuh terbesar seorang Ibu bukanlah pornografi dan pornoaksi yang rentan memapar otak anak-anaknya. Bukan pula kekerasan seksual yang mengintai langkah pendek anak-anaknya. Bukan pula paham radikalisme yang bisa menjangkiti keyakinan anak-anaknya. Semua itu musuh kita bersama, namun ada yang lebih berbahaya dari itu semua.
Musuh ini tak tampak. Hadirnya sulit dideteksi oleh indera. Memata-matai dari sangat dekat. Mudah datang tanpa diundang. Mudah menginfeksi tanpa diketahui. Halus dan perlahan-lahan. Musuh itu adalah stigma bahwa profesi Ibu (rumah tangga) adalah pekerjaan biasa.
Menghabiskan hari-hari di rumah untuk merawat anak sekaligus menyelesaikan pekerjaan rumah yang itu-itu lagi sangat berpeluang membuat Ibu terjebak dalam rutinitas yang kaku, beku, dan membuat jenuh. Kadang Ibu membayangkan betapa menyenangkan jika Ibu bisa travelling dengan teman-teman seperti saat Ibu lajang. Namun sekarang hidup tak sesederhana itu.
Melihat rekan-rekan satu sekolah dulu sudah mencapai jenjang karir tertentu di perusahaan-perusahaan besar, atau menjadi pengusaha, atau sedang studi lanjutan di negeri lain, kadang-kadang bisa membuat Ibu kehilangan makna. Ibu mulai menilai diri Ibu sebagai orang biasa, yang tidak hebat, yang tidak keren, yang tidak bergengsi. Dan membuat Ibu perlahan-lahan melepaskan mimpi-mimpi dan standar-standar profesional seorang Ibu.
Ibu harus memasak masakan sehat agar keluarga sehat. Ibu harus menjaga kesehatan agar tidak sakit–karena keluarga membutuhkan Ibu. Ibu harus mengelola keuangan agar pemasukan seimbang dengan pengeluaran. Ibu harus mendidik dan memberi contoh baik agar anak ikut-ikutan menjadi baik.
Semua standar itu kalah oleh perasaan minder dan tak berharga.Self-esteem rendah, kebahagiaan Ibu menurun, Ibu pun akan sulit menjalani peran dengan baik.
Lalu Ibu merasa tidak perlu belajar, untuk apa seorang Ibu menjadi terpelajar? Lalu yang paling menakutkan, Ibu berhenti berdoa–padahal kunci langit ada di lisan Ibu yang tulus.
Ibu pun menjalani hari hanya untuk menanti malam tiba, lalu menghabiskan malam untuk istirahat agar cepat bertemu esok. Tak ada hari istimewa, setiap hari sama : penuh dengan rutinitas yang membosankan. Hilang sudah semangat bermain dengan anak, hilang sudah dorongan memasak makanan sehat, hilang sudah harapan untuk membangun keluarga hebat.
Ibu pun sepenuhnya menerima tanpa perlawanan, bahwa pekerjaan Ibu rumah tangga memang pekerjaan biasa.
Itulah musuh terbesar seorang Ibu, jauh lebih berbahaya daripada pornografi, kekerasan seks, penyimpangan perilaku seksual, kecanduan gawai, paham radikalisme, liberalisme, dan sederet permasalahan lain yang mengancam di luar sana.
Mengapa lebih berbahaya?
Karena yang harus dilawan adalah pikiran dan perasaan Ibu sendiri.
Repost
Ternyata sebegitu dekat :(
Membalas Kebaikan
Pernahkah terpikirkan membalas semua kebaikan orang yang pernah ia lakukan ? Rasa-rasanya itu hal yang sulit jika semuanya harus dibalas. Tapi saya sedang berusaha. Bukan, bukan agar tidak merasa punya hutang budi. Tentu saja bukan itu.
Entah mengapa akhir-akhir ini saya merasa kematian semakin dekat. Memang begitu bukan ? hal yang paling dekat dengan kita adalah kematian. Namun, apakah saya takut mati ? tentu. Saya masih merasa sangat jauh bekal untuk hari akhir nanti. Mungkin terlalu picik ketika ingin berbuat baik tapi dengan niat agar masuk surga misalnya. Tapi apakah itu salah ? menurut saya, itu bukan perkara benar atau salah. Ya apalah saya ini bisa membenarkan atau menyalahkan hal demikian sementara ilmu saya masih cetek begini. Hehehe Namun saya meyakini, bukankah sebagai seorang muslim ingin meninggal dalam keadaan baik ? Meninggal dalam keadaan khusnul khotimah ? Nah, berbuat baik dan membalas kebaikan ini mungkin bisa menjadi jalan menuju kepergian yang baik pula.
Saya jadi ingat pesan Bapak “Jangan pernah mengingat kebaikan kita pada orang lain. Ingatlah sebaliknya, kebaikan orang terhadap kita. Dan jangan mengingat kesalahan orang lain terhadap kita, tapi ingatlah kesalahan kita pada orang lain”. Pesan bapak kali ini paling tidak menjadi kawan saya selama berkawan dengan yang lain.
Saya tiba-tiba teringat semua kebaikan-kebaikan seseorang yang tidak pernah saya kenal sebelumnya. Seseorang yang tidak pernah terbayangkan dalam pikiran, bahkan tidak pernah bertemu sebelumnya untuk sekadar bertegur sapa. Dan sekarang senantiasa mengisi hari-hari saya. Kebaikan yang ia tunjukkan tidak hanya lewat kata-kata. Kebaikan yang saya rasa ini tidak semata-mata karena sekarang ia sudah menjadi suami saya. Kebaikan yang tidak hanya sebatas tanggungjawabnya sebagai kepala keluarga. Ya, ini soal karakter mungkin. Karakter yang melekat dengan baik pada dirinya. Saya tidak akan memujinya setinggi langit. Paling juga kalau saya puji nanti ada yang bilang “Maklum, penganten baru” Bagi saya tidak masalah. Mau penganten baru ataupun penganten lama, semoga ini bisa jadi seterusnya. Kebaikan senantiasa menyertai kami dan kami pun bisa terus istiqomah melakukannya.
Pernahkah mengalami situasi dimana kita yang salah, tapi orang lain yang meminta maaf ? pernahkah mengalami kita yang teledor, tapi oranglain yang kena batunya ? Nah, ini terjadi pada saya. Selama dua purnama lebih ini saya memulai kehidupan baru sebagai istri. Istrinya pak Zainudin. Bisalah kalo saya dipanggil neng Hayati. hahaha
Selama itu pula saya beradaptasi. Berhati-hati dalam berbicara dan bertindak. Takut kalau menyakiti suami. Tapi apa yang terjadi ? sifat saya yang kekanak-kanakan ini membuat semua sifat asli saya semakin terlihat. Hebatnya, ketika neng Hayati sudah sangat lelah dan sedang marah kepadanya, pak Zainudin tidak pernah sekalipun marah balik. Tetap konsisten senyum. Yang ada malah pak Zainudin yang berkali-kali minta maaf. Semakin menjadi minta maaf terus ketika tahu saya cengeng nangis ga berhenti. Padahal ya, saya yang salah, saya yang nangis, dan kocaknya, pak zainudin yang minta maaf. :p
Bahkan ketika saya sedang ngomel-ngomel, bapak satu ini malah ingin tertawa. Ya apa coba pak, saya marah bapak malah tertawa. Tentu saja cerita ini beliau ungkapkan ketika kita sama-sama sedang bercanda. Seringkali saya kesal menunggu (padahal paling lama juga setengah jam), tapi bapak satu ini menunggu berjam-jam juga tetep aja mesam mesem pas ketemu. senyum plong, lega, tanpa merasa dikecewakan. Catat itu sodara. :p
Dari beberapa peristiwa itulah akhirnya saya dengan rendah hati mulai melepaskan idealisme yang saya buat sendiri. Mulai mengurangi “harusnya tuh mas begini, harusnya tuh aku begini”. Mulai menyadari bahwa sebenarnya ada waktu dan tempat untuk melakukan itu. Saya mulai bercermin. Ketika saya menuntut banyak hal kepada oranglain untuk melakukan perubahan, tidak ada salahnya saya dulu yang mulai perubahan itu sendiri. Berubah untuk menjadi pribadi yang lebih baik tentunya. Melakukan kebaikan yang nyata.
Sampai hari ini saya masih sering bertanya “Kenapa ya Allah memepertemukan saya dengan suami saya?” mungkin ini salah satu jawabannya. Allah ingin saya menjadi lebih baik dengan menghadirkan pendamping yang senantiasa berbuat baik dengan caranya. Belajar sabar. Belajar mengerti oranglain. Apakah suami saya seorang aktivis seperti aktivis jaman di kampus dulu ? jawabannya bukan. Dia hanya laki-laki biasa. Bahkan kehidupan kampusnya dihabiskan dengan kuliah dan main bola. Tapi semakin hari semakin terlihat bagaimana Allah menunjukkan kebaikannya kepada saya dengan menghadirkannya.
Ketika sedang mengingat kebaikannya saya sering elus-elus perut, biar sifat baik bapaknya nurun ke dedek. Janganlah sifat bocah emaknya yang nurun. Hehehe
Saya tidak tahu persis bagaimana saya harus membalas kebaikannya. Tapi yang pasti, saya sedang mulai berbenah. Menjadi seorang istri yang baik, menjadi teman dan sahabat yang baik baginya. Dan insya Allah akan segera menjadi seorang ibu yang baik nantinya dan bisa menjadi sekolah pertama bagi anak-anak bapak zainudin. Aamiin Yaa Rabb :)
Lalu, bagaimana dengan membalas kebaikan Allah yang selama ini saya terima ? Tentu saja saya selalu berusaha menjadi hamba yang baik. Insya Allah selalu berproses untuk selalu taat kepada Nya. Semoga dengan Allah memberikan kebaikannya menghadirkan pak zainudin, dengan itu pula kami senantiasa taat kepada Mu. Bismillah .....
Terima kasih Yaa Allah, menegur saya dengan lembut. Menegur dengan menghadirkan ciptaanmu yang sabar dan penuh tanggungjawab.
Terima kasih Pak Zainudin, Insya Allah neng Hayati sudah tidak lelah lagi :p Semoga kita senantiasa menebar kebaikan meski mungkin tidak diperlakukan dengan baik oleh orang lain. Karena berbuat baik bukan praktek jual beli. Yang pasti akan membalas kebaikan kita adalah Allah, bukan hambanya. Semangat berbuat baik yaaa.
*ditulis ditengah kebosanan melihat data dari pagi sambil mual-mual dan elus2 perut. “Dek, emak kerja dulu yaa” :p
Menyukuri Nikmat Nya
Sudah hampir sebulan ini rasanya saya menjadi makhluk yang kurang produktif. Bangun sekian detik sebelum subuh salah satunya. Sedih rasanya ketika melewatkan bangun sepertiga malam. Ya makhluk macam apa saya ini, bahkan ketika Allah memberikan semua nikmatnnya, saya malah seakan malas untuk menemui Nya diwaktu Allah sedang dekat dengan hambaNya.
Banyak alasan ? tentu saja. Saya manusia biasa yang penuh dengan seribu alasan untuk mengelak. Tidak enak badanlah. Kondisi sedang tidak fit. Padahal semua ini adalah bentuk nikmat yang Allah berikan ketika saya siap untuk menjadi seorang ibu. Lalu kenapa ini dijadikan alasan ? hemm ... eni ni ya .... :’(
Kesal karena tidak dibangunkan ? beberapa kali demikian. Seringkali saya mendapati suami selesai bertemu dengan Nya dan dengan mudahnya saya ngomel kenapa beliau tidak membangunkan saya. Jawabannya selalu sama. Tidak tega melihat saya yang sedang kelelahan kemudian membangunkannya. Karena suami tipe yang tidak tegaan. hehehe
Ya, harusnya saya memang bisa atur ritme istirahat saya sendiri. Kenapa malah ngomel ke oranglain ? haha maafkan saya ya Mas Bojo :p
Saya teringat nasehat seseorang. Jangan - jangan semua nikmat yang sedang kau terima saat ini hanyalah sebuah ujian. Karena sebenarnya Allah sedang memberi ujian kepadamu ketika kenikmatan bertemu dengan Nya disepertiga malam mulai pudar, disaat itulah sebenarnya ujian bagimu. Deg ..... rasanya seperti ditampar bolak balik. :’(
Muhasabah, muhasabah, muhasabah. Yuk muhasabah.
Selalu ingat pesan Bapak bahwa semua harus disyukuri. Ketika bersyukur, maka Allah akan menambah nikmat tersebut. Dan harus menguatkan diri agar setan enggan nempel dan perlahan-lahan menjauh.
Selamat bersyukur. Selamat bahagia. Dan semangat bangun sepertiga malam :)
Ruang SP
Selasa, 28 Februari 2017
Maaf Mas, Aku tidak Cantik
Beberapa hari lalu Mas Bojo bilang “Aku ga gelian. Katanya kalo ga gelian istrinya ga cantik” kemudian saya nyaut “Ooohh jadi aku ga cantik ya ?” Mas Bojo mesam mesem doang dan saya pun melanjutkan nyaut “La aku gelian, tapi suamiku juga ga cakep. Gimana dong ?” kemudian kami tertawa bersama.
Tadi pagi di timeline FB, seorang teman posting tentang cantik ga cantik. Saya kemudian teringat percakapan saya dengan Mas Bojo dan jadi ada bahan buat iseng-iseng nulis. Ini lebih banyak kopasnya si daripada yang dibuat sendiri. hehehe
Terima kasih Listi buat inspirasinya :)
Ini buat Mas Bojo yang seringkali ngeselin tapi ngangenin. hehehe
Maaf Mas kalau aku tak cantik ......
Aku bukanlah wanita yang pandai bersolek seperti wanita pada umumnya. Memakai gincu dengan warna merona, memakai alis mata agar kekinian, atau memakai blushon agar pipi tampak cerah. Tapi aku tahu bagaimana caraku merawat diriku agar kulitku selalu sehat, agar mataku indah dan akhirnya Mas betah memandangku lama.
Aku juga tak selangsing model cantik diluar sana. Sibuk memikirkan diet dan menu makanan sampai pusing menghitung kandungan lemak dan kalorinya berapa. Bahkan aku makan apa saja asal sehat. Sekarang Mas tahu sendiri perutku tampak membuncit, tapi biarkan sajalah agar kau gemas mencubitnya. Kalau perutku rata tak ada seninya lagi nanti. Pahaku yang besar bisa jadi bantalan empuk yang akan Mas jadikan sandaran. Biarkan sajalah tubuhku tampak seperti donat. Agar Mas betah berlama-lama ketika memelukku.
Tanganku tampak jempol semua, mungkin saja akan mengeluarkan zat-zat yang membuat Mas lahap makan karena masakan yang aku buat. Meskipun aku sadar diri aku pun tak pandai meracik masakan sedap. Bahkan Mas sendiri bilang nasi goreng buatan Mas lebih enak daripada buatanku. :’( Tapi tenang, aku akan terus belajar. :p
Pipiku pun tak tirus seperti wanita cantik menurut kaum lelaki pada umumnya. Bahkan bulat seperti bakpao. Tapi tak apalah pipiku seperti ini. Agar Mas gemas cubit-cubit pipi bakpao ini.
Jadi Mas, tak mengapa bukan kalau aku tak cantik fisik ? Yang penting hatiku cantik. Insya Allah :)
Awal Sebuah Perjalanan. Insya Allah.
Mungkin saya ataupun kamu tidak pernah menyangka kami bertemu dan dipertemukan sekarang. Allah SWT mempertemukan kami dengan cara dan jalanNya. Semoga dengan bersatunya kami, maka bertambahlah kecintaan kami kepada Nya.
Semoga Allah menjadikan pertemuan (pernikahan) ini barokah, membuka pintu rahmat bagi kami, keluarga kami, dan bagi sekitar kami.
Semoga pertemuan (pernikahan) ini juga menjadi tungku tempat menempa sabar dan syukur serta menjadi tempat belajar menjadi dewasa untuk menggapai cinta Nya.
Semoga Allah menetapkan hati kita untuk menjaga hati dan diri sampai sah.
Dan semoga Allah menetapkan hati kami untuk terus membersamai.
Bismillah ..... Mohon doanya yaa .... H-8 :)
22:43
Jaga hati baik baik yaa. Yang mungkin saja sekelilingmu menjadi ujianmu. Kalau teman seusiamu sudah menikah, sudah mempunyai keluarga kecil dengan anaknya yang lucu lucu dan kamu masih saja sendiri tetaplah berteman sabar dengan prasangka baikmu. Kalo teman satu kantormu bisa mendapatkan perjalanan dinas ke luar kota setiap minggunya dan kamu stay di kantor ya ridha bahwa setiap kita Allah karuniakan kemampuan yang berbeda beda, tapi kita tetap bisa menjadi seseorang yang banyak manfaatnya. Atau saat kamu melihat teman sosmedmu terlihat begitu bahagia dengan postingan liburan liburannya dan kamu selalu saja di rumah maka teruslah mendidik diri untuk bersyukur, bahwa ada kebaikan yang tetap bisa kamu lakuin meski di rumah. Sungguh, terlalu menyiksa hati jika kamu terus menerus membandingkan nikmat nikmat itu dengan orang lain. Setiap kita mempunyai porsinya masing masing. Tugas kita adalah menjadi versi terbaik semampu kita, menjadi lebih bermanfaat dengan kesempurnaan yang Allah telah karuniakan. Tugas kita adalah tiada henti mensyukuri nikmat yang sudah Allah karuniakan, bukan menyiksa hati dengan nikmat yang belum Allah karuniakan.
Sungguh tak ada yang terlambat. Jikapun terlambat, adalah terlambatnya kita mengenal Allah dan taat sepenuh hati pada Nya. Sungguh Allah Maha Adil yang tak akan pernah menyia-nyiakan ketaatanmu juga kebaikanmu. Sebab Allah Maha Baik Maha Mengetahui nikmat apa saja yang terbaik yang akan sampai padamu. Bukankah kelak semua akan di pertanggungjawabkan ? Semakin sedikit aksesoris duniawimu semoga semakin mempercepat hisabmu kelak untuk sampai ke Jannah Nya. Aamiin.
Jakarta, 19 Nopember 2016. Dan sungguh tulisan ini pertama tama kutujukan untuk mengingatkan diriku sendiri, entah hari ini atau suatu hari kala ku baca ulang tulisan tulisanku.
:)
Kenal dengan makanan ini ?
Nah iya, namanya Cilok. katanya si Aci dicolok. Tapi ada juga yang menyebutnya baso tahu. Rasanya gurih-gurih kenyal. Nikmat sekali jika disajikan saat hangat. Maka dari itu cilok tidak lepas dari panci. Seringkali dijodohkan dengan saos sambal ataupun sambal kacang. Aduh jannn .... siang-siang begini enaknya memang nyemil cilok. hehe
Disetiap daerah, makanan ini hampir dipastikan selalu ada, meskipun dengan nama yang berbeda-beda dan teman makan yang berbeda pula. cukup ampuh untuk mengganjal perut ketika jam nanggung seperti sekarang ini.
Identik dengan pedagang keliling menggunakan sepeda kayuh, atau gerobak dorong. Seringkali menjadi bahan obrolan ketika ada topik jajanan sehat dan tidak sehat. Sekarang bahkan cilok sudah masul emol yang mendadak harganya selangit per bijinya. Cilok pun sudah beraneka rasa dan beraneka isian. mulai dari daging, keju, kornet, baso, sosis, wis pokoke macem-macem. Apapun itu, saya ucapkan terima kasih untuk para penjual cilok. Karena cilok rasanya enak dan cukup membuat kenyang. hehehe
Alhamdulillah ....
Cukuplah kau sampaikan marahmu lewat diammu. Agar jiwamu tak semakin letih. Biar diammu memberi jeda untuk berpikir, memberi jarak agar kau tak terlalu banyak menguntai satir. Sebab sekali saja satu hati terluka oleh ucapmu, waktu tidak bisa diputar kembali. Akan selalu ada bekas. Akan selalu.
(via alizetia)
Allah ingin lihat usaha kamu, bukan hasil … Allah akan melihat patuhmu kepada perintahnya, bukan jumlah … Seorang yang sholat dzuhur 4 rokaat akan diberi pahala sementara jika hamba sholat dzhuhur 8 roka'at dia malah mendapat dosa… jangan pernah berbangga dengan banyaknya ibadahmu…. jangan pula merasa diri tidak pantas untuk bisa dekat dengan Allah … kamu yang menentukan pilihanmu… dihadapanmu hanya ada dua jalan …. baik atau buruk …..
habib ali alkaff (via muslimahwannabe)
Menjaga Perasaan
Usia 20-an seringkali dikaitkan dengan perihal memiliki pasangan hidup. Bahkan bagi sebagian orang momen lebaran menjadikannya momok menakutkan untuk bertemu dengan keluarga besar. Bermacam-macam pertanyaan perihal pasangan membuat ketakutan tersendiri. Meskipun tidak jarang pertanyaan tersebut hanyalah pertanyaan basa-basi. Tapi untuk orang yang baper mah jadinya pertanyaan serius.
“Mba Eni kapan dikenalin calonnya ?”
“Mba Eni jadinya kapan nikahnya ?”
Yang ditanya paling hanya mesam-mesem sambil menjawab iseng atau paling aman adalah menjawab “mohon doanya ya”
Tidak hanya pertanyaan kapan nikah, bagi yang sudah menikah pun diberondong pertanyaan horor lanjutan. Pertanyaan yang seringkali membuat jengkel.
“Mba udah isi belum ?”
“Gimana mba, kapan mau kasih mama cucu ?”
Gampang kali ya kalau hanya nanya. Tapi dipikir-pikir ngeselin juga kalo tiap ketemu yang ditanya seperti itu. Semacam tidak ada pertanyaan lain saja.
Baiklah, perihal tanya menanya biarlah. Yang penting mah yang ditanya dibuat seneng aja ya biar tidak sakit hati. Sembari berdoa biar yang belum dapat jodoh segera didekatkan dan dipertemukan dengan jodohnya. Dan yang belum diberi anugerah momongan jangan patah semangat untuk terus berusaha sembari berdoa agar Allah menitipkan amanah buat keluarga kecilnya.
Seringkali juga kita lupa menjaga perasaan orang lain. Bagaiamana rasanya ketika kita yang berada di posisi mereka-mereka yang tersakiti. #tsaaahh
Bisa dijadikan contoh yaitu pasangan yang baru menikah. Bahagia ? tentu saja bahagia. Bahkan mungkin bahagianya melebihi apapun. Hahaha (sotoy) seringkali mereka lupa bahwa masih banyak teman, sahabat, saudaranya yang belum dipertemukan jodohnya (ya kayak saya ini). Kemudian isi sosial medianya dipenuhi dengan foto dan cerita berlebihan tentang dirinya dan pasangannya. Aduuh ,,,, lelah adek bang liat media sosial yang ada tu anak. Hahaha
Tidak hanya itu si pasangan yang baru nikah ini juga aplod-aplod hal remeh temeh yang akhirnya saya jadi tahu tu anak kayak apa. #nahlooo emang dulunya ga gitu ya ? Meskipun begitu tidak apa juga si. Lumayan buat hiburan yang bisa jadi pelajaran. Sambil kuat- kuat berdoa biar nanti saya tidak begitu. Hehe
Nampaknya hampir semua teman saya juga bilang begitu dulu sebelum menikah. Tapi setelah menikah ya sama saja kayak yang dulu dia komentari. “Ya Allah .... jaga hati saya biar tidak melakukan hal-hal yang berlebihan” Aamiin.
“Mba Eni, aku kesel banget deh liat si A. Kok gitu si ? Doakan aku ya mba biar aku ga kaya si A yang mengumbar foto-foto mesra di FB setelah menikah”
“Mba Eni, semoga nanti aku ga pamer kegiatan harianku sama suami di FB ya”
Dan sederet kata semoga dan semoga. Yang diajak cerita mengAminkan dan sekarang mesam – mesem sendiri saat liat timeline FB doi dipenuhi dengan catatan harian doi sama pasangannya. Hahaha
Itu cerita yang baru menikah. Yang sedang hamil anak pertama juga tidak kalah heboh. Menurut saya ini lucu. Hal ini dilakukan oleh mamah muda dan calon mamah muda. Si calon mamah muda tiap hari kerjaannya apdet berita kocak. Tapi sebenernya saya jadi tau juga si.
“Aduuhh ... udah tri semester kedua kok masih mual ya ?”
“Berat badan udah naik lebih dari 5 kilo kok aku ga gendut juga ya ?”
“Lucunya si dedek yang sedang gerak2 di perut ummi”
Ah iyaa .... ini ceritanya seolah-olah saya kesel gitu ya. Hehe
Tenang sodara-sodara .... saya tidak sedang kesel kok. Saya hanya sedang ingin cerita saja. Dan kebetulan tadi pagi dapat bahan bacaan yang cukup membuat saya tergelitik.
Adalagi ketika ternyata teman atau sahabat kita tiba-tiba cerita kalau sekarang sudah tidak lagi bersama suaminya alias bercerai. Nah ..... setan pasti akan langsung membuat kita bernafsu untuk bertanya macam-macam. Lantas apakah kita akan langsung bertanya kenapa ? bagaimana kronologinya ? aaahh .... rasa-rasanya itu terlalu menyakitkan. Saya pribadi memilih untuk diam dan mendengarkan. Saya memilih agar si orang cerita dengan sendirinya. Bukan karena saya bertanya macam-macam. Kebayang ga sih ? sedang bercampuraduk perasaan dihatinya, kemudian kita tambahkan dengan pertanyaan yang mungkin secara tidak sadar bisa jadi semakin menyakiti hatinya.
Intinya sih saya sedang mencoba menjaga perasaan. Baik perasaan saya sendiri maupun oranglain. Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Teh manis yang kebanyakan gula pun jadinya tidak enak. Pun ketika membeli jeruk yang rasanya terlalu asam. Tidak hanya rasanya yang tidak enak, namun bisa jadi membuat sakit perut.
Berkabarlah yang baik-baik. Cukup dan sewajarnya. Tidak perlu berlebihan. Karena kita tidak akan pernah tahu bagaimana perasaan orang-orang disekitar kita. Yah ... mungkin kita bisa berargumen kalau memang tidak suka dengan postingan saya silahkan unfriend. Ya Allah .... tapi apakah rasul mengajarkan demikian ? apakah orangtuamu mengajarkan demikian ? tidak bukan ? maka dari itu akhirnya saya memutuskan untuk saling menjaga perasaan. Lagi pula untuk hal-hal seperti ini kok. Hal-hal yang mungkin sebenarnya ini untuk konsumsi pribadi.
Percayalah, dengan menjaga perasaan diri dan orang lain, hidup akan damai. Hidup tenang dan bahagia. Saya mohon maaf juga ya kalau postingan saya membuat kesel teman-teman semua. Saya sering posting kegiatan atau foto-foto ketika bekerja yang kebetulan bonusnya mengunjungi sisi lain Indonesia. Ini bermaksud memberitahu saja kok kalau Indonesia sangat indah. Memberi motivasi agar teman-teman juga bisa berkeliling Indonesia. Bukan untuk menyakiti. Hehe
Jadi, yuk kita saling menjaga perasaan. Seimbang. Tidak berlebihan. Dan semoga tetap saling menjaga persaudaraan kita semua.
Teman itu kamu. Kamu yang tidak hanya membuat ramai saat bersama tapi juga bisa membuat ramai saat saya sedang sendirian
Senyumanmu
Pernah mendengar lagu Letto yang berjudul Senyumanmu ?
Beberapa bulan yang lalu ada seseorang yang mengirimkan lagu tersebut pada saya. Awal mendengarnya terasa familiar ditelinga meskipun measih menebak judulnya apa. akhirnya si pengirim memberitahu kalau judulnya Senyumanmu.
Kemarin saya pun mendapatkan pesan broadcast dari grup kantor tentang senyum. tulisan ringan yang ditulis oleh astadz Salim A Fillah. kurang lebih bunyinya begini :
Geleng-geleng kepala dan angguk-angguk, barangkali tidak selalu sama pemahamannya. Antara kita dan rekan-rekan di India misalnya.Tapi senyum yang tulus maknanya pasti tak jauh berbeda antara satu negeri dengan yang lainnya, di seluruh dunia.Senyumlah saat bahagia; ia menjaga waspada. Senyumlah saat duka; ia meneguhkan sabarnya. Senyumlah saat berjuang; ia maniskan pengorbanan:)
Senyumlah pada kekasih; ia menyuburkan cinta. Senyumlah pada musuh; ia mencekamkan hormat. Senyumlah pada pendengki; ia menjejalkan sesal:)Senyumlah pada si ramah; ia menjalinkan tulus. Senyumlah pada si marah; ia tuangkan sejuk. Senyumlah pada si gelisah; ia alirkan tentram:)Senyumlah pada si papa; ia pelipur lara. Senyumlah pada si kaya; ia mahal harganya. Senyumlah pada si aniaya; ia cahaya tuk gelap hatinya:)
من حسن خلق الرجل أن يحدث صاحبه وهو يبتسم
Termasuk akhlaq jelita seseorang; pada saudara senyumnya mengembang, di kala mereka sedang berbincang.{Habib ibn Abi Tsabit}
Betapa besar manfaat senyum. Senyum tulus meski hati sedang sakit. Senyum ikhlas meski sedang terdzolimi. Senyum yang menyenangkan dan menyehatkan.
Ya Allah, mampukan kami tersenyum karenaMu, senantiasa selalu.
Yuk Senyum ..... Ga susah kok senyum itu :)
Cinta Tak Pernah Cukup Jika Tak Berdua.
Hal yang akhirnya aku mengerti, perihal mencintai dan cintai, hanyalah tentang siapa yang tetap memilih bertahan bersamamu. Meski kamu tidak sehebat orang-orang di luar sana lagi. Meski kamu sedang jatuh dan terkapar tak berdaya. Meski tak ada satu pun yang kamu miliki selain semangat untuk kembali berdiri. Meski ada hati lain yang terlihat lebih menarik, lebih perkasa, lebih hebat, namun kamu memilih dia yang biasa saja. Dia yang hanya punya keyakinan untuk mempertahankanmu saja. Tahap mencintai paling berat adalah mempertahankan seseorang yang sudah tak memiliki apa-apa yang dulu membuatmu jatuh cinta, selain kau tahu dia tetap mencintaimu di kondisi terbawahnya.
Kita akan menua nanti, cinta yang tumbuh sebab rupawan akhirnya akan terkikis. Perasaan yang tumbuh sebab hal-hal yang menjanjikan bisa saja berakhir dengan saling meninggalkan. Hanya perasaan yang jatuh dan memilih menjadi utuh sebab keyakinanlah yang akan tetap ada. Tak peduli kamu semakin tua dan jelek, tak peduli kamu tak lagi bertenaga untuk mengajaknya berlari. Dia akan tetap menemanimu dari pagi hingga malam lelah menemani. Meski hanya duduk di beranda rumah dengan teh dan kue seadanya.
Kepada perempuan yang jauh di sana, kamu tahu selalu saja kamu yang kupilih mengisi hatiku. Tak banyak yang ingin kupintakan. Selain bersetialah kepada apa yang kita sepakati. Jagalah segala hal yang kucintai. Aku tahu kamu tak sempurna, aku pun juga tak lengkap adanya. Hanya usaha menjaga diri yang bisa kamu lakukan. Jaga hatimu untuk sesuatu yang aku pertaruhkan dengan hidupku. Cinta. Hal yang tak akan pernah cukup bila satu orang saja yang memperjuangkannya. Aku butuh kamu sebagai sayap untuk terbang, sebagai pegangan saat aku lelah berjalan, sebagai teman bercerita saat kisah di dunia terasa menyedihkan.
Kelak, saat jarak sudah melipat diri, saat tak perlu lagi menunda waktu untuk menatap matamu. Peluklah aku sepenuh hatimu. Temani aku menangisi hal-hal yang membuatku menyesal telah melakukannya. Seperihal sekali dua kali di hari kemarin kata-kataku membuatmu terluka. Atau hal-hal yang kau lakukan tanpa sengaja dan membuat aku merasa kecewa. Cukup semuanya berlalu saja. Kita tak akan pernah menjadi sempurna. Hanya saja, kita harus lebih baik dari hari ke hari. Genggamlah tanganku. Yakinkan diri bahwa kita tak akan pernah membiarkan apa pun memisahkan kita, kecuali yang mahakuasa atas langit dan semesta. Tetaplah yakin dan percaya, bagaimana pun beratnya langkah kita nanti. Kita akan saling mendampingi untuk melalui semuanya. Kita akan terus bangkit dari hal-hal yang tak pernah kita duga. Boy Candra | 05/09/2015