Antara Badiuzzaman, Habiburrahman, & Hasbi Sen
Entah harus mulai dari mana aku menceritakan kisah kebetulan yang benar-benar kebetulan ini. Ternytata di sana diam-diam sudah ada yang lebih dulu meresapi hasanah perjalanan dan kisah heroik sang Badiuzzaman. Oh iya, kebetulan kisah tentang gerhana bulan itu adalah bagian yang kubaca di saat-saat terakhir aku mendampingi kakek di samping pembaringannya di ruang perawatan Asoka 207, sebelum berangkat ke bandara Hasanuddin, rabu kemarin. Yah, persis seperti itu, yang kau kisahkan persis dengan yang ku baca di buku itu. Sosok Badiuzzaman mulai ku kenal akhir tahun 2015 kemarin, tepatnya ketika melihat novel api tauhid milik Haekal. Tak lama setelah itu, aku mengikuti Indonesia International Leadership Camp dan bersahabat dengan salah satu kawan dari Philiphine bernama Eisa selama di sana. Persahabatan dengan Eisa ini berujung pada pemberian cindera mata satu sama lain di ujung perjumpaan, aku memberinya baju batik berwarna hitam, sedang Eisa memberiku gantungan kunci Palestine dan sebuah buku orange bertajuk “Guide For Youth”, buku ringkasan risalah nur yang berisi pesan-pesan untuk para pemuda. “this book is so good, it’s very useful for us, and I’ve learnt so many English vocabulary by reading this one”, begitu kira-kira kata-kata yang keluar dari mulut Eisa, matanya berkaca-kaca hampir mengeluarkan tangis. Buku itu adalah pemberian temannya yang berasal dari Turki, ia memanggilnya Abi Hasbi (abi/abe : kakak dalam Bahasa turki), teman yang akan menjemput dan akan menampung Eisa di sisa harinya di Jakarta, belakangan kutahu nama lengkapnya Hasbi Sen, waktu itu aku tanpa sengaja melihat nama tersebut di pecakapan whatsappnya Eisa.
Tak lama setelah itu, Abi Hasbi datang di tempat yang telah kami sepakati untuk bertemu ditemani salah satu rekannya yang juga orang asli turki, awalnya kukira dia adalah remaja seperti kami, termyata sudah berumur, kira-kira sekitar 40 tahunan. Abi Hasbi juga sudah sangat fasih berbahasa Indonesia. Kami lalu melaksanakan sholat asar berjamaah di basement bangunan yang aku lupa bangunan apa itu. Setelah sholat, aku menyempatkan untuk sedikit menanyakan pekerjaan dan kegiatan sehari-hari Abi Hasbi di Indonesia. Katanya beliau tinggal di Ciputat, dan merupakan ketua dari yayasan Nur Semesta, aku kemudian mengangguk lalu bertanya seputar kegiatan dari yayasan tersebut. “Kita banyak kegiatan, yang rutin itu ada kajian setiap malam jumat di Ciputat, Inshaa Allah kalau antum mau ikut silahkan ke Ciputat, kami terima baik-baik”, begitu katanya. Perpisahan dengan Eisa dan pertemuan dengan Abi Hasbi di sore itu begitu haru namun juga membahagiakan.
Februari 2016, keinginanku berkunjung ke acara Islamic Book Fair ternyata mengantarkanku kepada pertemuan dengan Abi Hasbi untuk kedua kalinya, kulihat ada banyak buku yang ia jual, kutahu pasti sebagian besar di antaranya adalah terjemahan dari Bahasa Turki. Abi tak begitu mengingatku, namun langsung ngeh ketika kujelaskan kalau aku yang dulu pernah mengantarkan Eisa untuk bertemu dengannya. Aku melihat jajaran buku yang ia dagangkan dan tanpa sengaja pandanganku tertuju pada “Tuntunan Generasi Muda” (terjemahan Bahasa Indonesia dari “Guide For Youth”, aku menjelaskan bahwa Eisa memberiku versi Bahasa Inggris dari buku ini. Abi Hasbi waktu itu mungkin tahu kalau aku agak kesulitan memahami isi risalah dalam Bahasa Inggris, akhirnya buku Tuntunan Generasi Muda itu diberikan kepadaku secara Cuma-Cuma. Alhamdulillah.
Setelah hari itu, buku itu lama kudiamkan di tumpukan koleksi buku yang kupunya. Aku malah membaca buku-buku lain walau tidak dengan konsisten. Barulah beberapa waktu lalu aku membuka buku ringkasan risalah nur itu. Aku berusaha cukup keras memahami pesan-pesan maknawi yang tersirat, memaknai tiap nasehat Said Nursi, kata demi kata, kalimat demi kalimat, hakikat demi hakikat, namun ada begitu banyak pesan dan hakikat yang tak dapat kutangkap dengan sempurna, ruh Badiuzzaman tak dapat kurasakan, mungkin karena belum berkenalan dengan beliau. Akhirnya aku ingat kalau ternyata Auliyah punya buku “Api Tauhid”, mungkin buku itu bisa membantuku memahami dan membawaku menyelami kegagahan Said Nursi dalam menegakkan kalimatullah di Turki yang kian beralih menjadi negara sekuler kala itu.
Tahukah? Ada yang membuatku terkejut tatkala membaca Sekapur Sirih (catatan penulis) di halaman XV – XIX. Di situ Habiburrahman menjelaskan bahwa pada tahun 2012 ia bertemu dengan Thullabun Nur yang tertarik dengan cuplikan kisah Badiuzzaman yang tergambarkan dalam mahakarya “Ayat-ayat Cinta”, hingga orang tersebut mengajaknya berwisata keliling Turki, Thullabun Nur tersebut adalah Ustadz Hasbi Sen. Aku langsung mengingat dan menghubungkannya dengan Abi Hasbi yang kukenal. “Ia orang turki yang tinggal di Indonesia, nama yayasannya Nur Semesta, ia memberiku buku Tuntunan Generasi Muda yang merupakan ringkasan dari Risalah Nur karya agung Badiuzzaman Said Nursi, atau mungkin saja semuanya hanya kebetulan”, begitu aku berucap dalam hati. Saking penasarannya, aku akhirnya mencoba mencari kebenaran prasangka tersebut dengan mengetik “Ustadz Hasbi Sen” di google, dan ternyata benar, dialah orangnya. Allahu Akbar, dunia ini sangat sempit.
Ahh, Habiburrahman memang luar biasa. Lebih dari sekedar membuatku mampu memvisualisasikan perjuangan Said Nursi, ia juga membuatku jatuh cinta dengan semua latar tempat yang ia gambarkan di buku itu. Ingin rasanya berkawan dengan Hamzah dan Bilal yang mampu menjelaskan perjalanan hidup Said Nursi periode demi periode dan juga sejarah peradaban Islam lengkap dengan situs-situs yang menandainya di negeri para nabi tersebut. Ingin rasanya menyertai mereka ber-enam dalam rihlah itu, mengunjungi tempat demi tempat, menyimak hikmah demi hikmah, lalu menuangkan semua cerita yang kudapat ke dalam blog ini, dengan versiku sendiri.
Sejauh ini ada begitu banyak hikmah yang kudapat dalam buku ini, termasuk pertanyaan “Apakah Said seorang Hafidz Qur’an ketika menamatkan 80 kitab rujukan Islam?” dan juga pertanyaan Aysel “Apakah Said remaja pernah merasakan jatuh cinta?”, benar ia jatuh cinta, namun cintanya jatuh kepada Qur’an dan ilmu pengetahuan. Aku seketika terkesan dan ingin serta menanyakan sesuatu, “Apakah Said itu seorang yang maksum?” atau “adakah Said pernah keliru dalam bertindak dan berpendapat?”, sebab sampai sekarang aku sama sekali belum menemukan tanda-tanda manusia biasa dalam dirinya pada cerita tersebut. Semoga pertanyaan itu terjawab di halaman-halaman selanjutnya.
Inshaa Allah, semoga Allah memberi kesempatan untuk memijakkan kaki di bumi Konstantinopel, aku penasaran dengan setiap tempat yang ada di buku itu. Nurs, Bitlis, Sanliurfa, Van, Konya, Gaziantep, Fetih, dan tempat-tempat lainnya. Dershane Thullabun Nur, Monumen Kesabaran Ayyub As., Mevlid i-Halil, kolam Aynzeliha, danau Van, dan tentunya bekas kuburan sang Badiuzzaman. Juga mencicipi sajian khas Turki yang sering membuat lidah Fahmi dan kawan-kawan takjub akan kelezatannya. Allahumma Yaa Allah, kabulkan dan segerakan. Amiin.