Salam, Mega.. semoga di sana baik-baik saja semuanya
Cerita ini adalah balasan atas pertanyaan “skripsi gimana?” Satu pertanyaan singkat (2 kata doang -_-) dan nyeleneh itu akan kujawab dengan satu tulisan panjang lebar, apa sekalian aku jawabnya dari latar belakang sampe kesimpulan aja ? biar kamu puasssss meg :p. well, kalau ga salah, countingday kemarin kuawali dengan cerita tentnag proposal penelitianku yang udah lama gak terjamah sama sekali. Dan FYI, temen-temenku udah ada beberpa yang sidang akhir, beberapa yang lainnya ngejar-ngejar biar bisa wisuda april nanti, beberapa lagi ada yang baru mau ngambil skripsi di semester ini, dan ada juga di antara yang baru ngambil skripsi di semester ini yang belum kelar magangnya (baca; s.e.n.s.o.r), pokoknya ada ajaa..
Sebait pepatah bugis sebagai prolog untuk memperkenalkan skripsi yang sekarang aku garap. Bingung ya, kenapa anak PR bisa melenceng jauh ke pepatah ? wkwkwkwk. Yup, soal skripsi, aku agak beda Meg sama teman-teman yang lain, saat mereka punya judul “Analisis strategi PR perusahaan bla…bla..bla dalam bla..blaa..bla…”, atau “Corporate Branding Strategy PT X dalam program X”, atau “Pencitraan Tokoh X dalam akun media sosial X”, dan sebagainya, aku malah ngambil kajian yang berhubungan dengan budaya. Terus hubungannya dengan PR, apa ? Bingung kan ? Wajar kalau bingung, aku aja kadang ga ngerti jalan pikiranku sendiri -_-“ wkwkwkwwk.
Keputusanku untuk mengambil kajian budaya untuk skripsiku ini sebenarnya sudah lama aku pikirkan. Waktu itu, di semester dua aku gak sengaja presentasiin media komunikasi tradisional suku Bugis di hadapan teman-teman, dan tiba-tiba kepikiran dan aku ngomong “Saya memiliki rencana untuk menjadikan aksara tradisional ini sebagai bahan untuk skripsi saya nanti”, dan jadilah, Alhamdulillah akhirnya kesampaian. Kayaknya aku sering banget ya bahas tentang Bugis, hehe. Bukannya terlalu etnosentris ya, ini beneran karena aku memang tertarik untuk mempelajari kearifan lokalnya, kayak harta karun, ada aja pasti kejutan dan misteri yang menarik untuk dipecahkan.
Akhirnya, pas aku mengajukan judul ini kepada pembimbing skripsi, yang dalam hal ini adalah Ibu Dekan Fakultasku sendiri, aku langsung menanyakan apa boleh saya meneliti bidang komunikasi secara general, tidak usah spesifik ke arah PR-nya? Untuk beberapa kasus temen-temen di bawah bimbingan dosen lain, judul skripsi yang ga ada hubungannya dengan PR pasti akan di suruh ganti, ada yang bahas tentang marketing, psikologi komunikasi, New Media, dll, tapi kalau ga ada hubungannya dengan PR, pasti di suruh ganti. Setelah berdiskusi beberapa lama dengan dospem, akhirnya usulanku diterima, akhirnya penelitianku ini disetujui dan secara spesifik akan membahas tentang Aksara Lontara dalam tinjauan komunikasi sebagai sistem kode verbal.
Sebelumnya sudah pernah dengar aksara Lontara ? Aksara ini adalah media komunikasi tradisional suku bugis, aksara yang digunakan untuk menulis tuturan Bahasa Bugis sebelum penduduk Suku Bugis-Makassar mengenal aksara latin. Dari segi orisinalitas, Lontara bisa dibilang sebagai salah satu rumpun aksara terbesar di dunia selain kanji, mandarin, sansekerta, dan latin. Dan berbeda dengan kebanyakan aksara-aksara tradisional di Indoensia, Lontara ini bukan merupakan saduran dari aksara manapun, misalnya ngawi dan hanacaraka yang disadur dari huruf sansekerta.
Nah, selain itu, aksara ini juga adalah aksara yang digunakan untuk menulis epos terbesar dalam sejarah dunia, namanya “I La Galigo”, tebalnya lebih dari 5000 halaman, mengalahkan Mahabarata dari India. Tapi sedihnya, skrip asli dari Kitab I La Galigo sudah di klaim sama Belanda, dan sekarang skripnya ada di Perpustakan Leiden University, Belanda. Dan tahu gak, kemarin waktu aku main ke LPDP Edu Fair, sempat mampir di stand-nya Leiden dan aku iseng nanya, “Is there Buginese Studies There?” “Yes, we learn about Buginese in Ancient Studies”, aku tiba-tiba menanyakan tentang I La Galigo, dan tiba-tiba Guide nyan ngambil kalender terus nunjukin gambar perpustakaan kampus Leiden yang di tepi telaganya ada ukiran kalimat bugis yang ditulis dengan aksara Lontara. Katanya, skrip I La Galigo hanya bisa dibaca dan dimengerti oleh beberapa professor di sana. Aku tiba-tiba merinding Meg, bener-bener kagum, ternyata tulisan yang hanya dijadikan sebagai mata pelajaran muatan lokal untuk siswa SD dan SMP di Sulawesi Selatan, ternyata malah menjadi mata kuliah wajib untuk beberapa jurusan di Belanda Sana. Semoga penelitianku ini bisa menjadi jalan untuk meluaskan cakrawala ilmu bagi diri sendiri, terlebih mendatangkan manfaat untuk orang-orang Sulawesi Selatan yang tidak menyadari bahwa sebenarnya Aksara Lontara yang kami pelajari bukan sekedar aksara yang hanya dipelajari untuk dibaca, melainkan banyak nilai-nilai luhur yang dititipkan oleh para pendahulu untuk kemaslahatan hidup generasi selanjutnya. Semoga juga nanti ada kesempatan buat main ke Leiden, tapi seleah ke Turki tentunya wkwkwkwkwk.
Dalam penelitian kali ini, aku secara khusus mau membahas makna dari huruf dari aksara tersebut, ada sekitar 19 huruf (versi Makassar) dan 23 huruf (versi bugis) yang ternyata semua huruf tersebut merepresentasikan maknanya masing-masing. Doain ya, semoga skripsinya bukan hanya terselesaikan dengan cepat, namun juga tepat dan bermanfaat. Inshaa Allah, beberapa minggu setelah semester 8 berjalan, aku mau balik ke Sulawesi untuk lanjutin penelitian (penelitian pt. 1 udah waktu liburan semester kemarin, dan Alhamdulillah, cukup memuaskan data-datanya), nanti rencananya tinggal mau triangulasi, biar hasil penelitiannya valid.
Btw, selamat berjuang dalam memenuhi setiap targetmu yah ! Oh iya, sedikit mau bahas tentang Haikal Hassan, dia emang kayak gitu pembawaannya, selalu bersemangat apalagi kalau nyinggung masalah Ahok, beehh bisa habis si Ahok dijadiin bulan-bulanan sama dia -_- Kebeutulan sekitar sebulan yang lalu aku juga sempat ikut kajiannya, waktu itu di Masjid Agung Al-Azhar ada mabit sekaligus kajian marathon yang di adain Pengajian Politik Islam (PPI), ga tanggung-tanggung, materi dan pembicaranya matap-mantap semua. Mulai dari metode hafal qur’an metode talqin, islam nusantara (dibawakan langsung sama Haikal Hasan), dan ba’da subuhnya dilanjut ceramah yang disampaikan berturut-turut oleh Bahtiar Nasir, Tengku Firmansyah, Anis Baswedan, dan ditutup oleh bapak reformasi, Amien Rais. Walaupun kesannya agak politis, tapi banyak banget ilmu yang bisa didapetin. Dan dipekan selanjutnya, di lokasi yang sama ada kajian lagi yang menghadirkan Sandiaga Uno sama Gubernur NTB yang aku lupa nama lengkapnya, taunya cuma K.H Muhammad Zinul Majdi, itupun kalau bener wkwkwkwk, tapi dikajian ini aku ga sempat hadir karena telat ingat kalau di hari itu ada kajian -_-
Nanti kalau kamu jadi magang di sini, banyak banget majelis ilmu yang bisa kamu datangin. Banyak kajian di mana-mana, hehe. Khalid Basalamah, Adian Husaini, Haikal Hasan, Bahtiar Nasir, Subhan Bawazier, dll, semua ada majelis kajiannya masing-masing, tinggal kamu pilih mau datengin yang mana. Apalagi, kebanyakan masjid di perusahaan/instansi-instansi besar udah punya kajian rutinnya sendiri setiap hari.
Olrait, sekian dulu cerita kali ini. Semoga jawabannya memuaskan ya meg… makasih loh udah mau nanyain skripsi :p wkwkwkwk