Sebulan terakhir ini, ruang chat grup line terasa hambar. Karena Lele si penyedap suasana tiba-tiba memuai tanpa memberi kabar (baca: menghilang).
Biasanya Lele yang paling aktif di grup, kalo ada dia pasti ada aja chatnya yang lumayan bikin senyum-senyum bahkan sampe ngakak.
Karena Lele lagi hiatus dari medsos, grup jadi ga asyik dan karena bukan lele kalo ada yang melucu di grup aku cuma bisa begini:
Udah lama banget, Lele ga ngasih kabar apa-apa ke kami. Aku nge-chat dia di wa atau line pun ga ada balesan. Rima nge-chat Lele juga ga ada balesan. Aku khawatir ada sesuatu sama Lele.
Kalo diinget-inget, emang udah lama aku ga ngobrol sama Lele karena praktikum semester ini kami beda asistensi jadi jarang ketemu. Sekalinya ketemu di kelas pun kami ga banyak ngobrol. Rasanya minggu-minggu terakhir sebelum UAS semester 5 datang, kami sibuk sama urusan masing-masing, jadi rasanya lama sekali aku ga duduk tertawa bareng Lele dan teman-teman lainnya. Dan waktu UAS, baru aku sadar ada yang beda dari reaksi Lele tiap kali aku ngajak bercanda. Reaksinya ga seperti Lele yang kukenal. Ilustrasinya seperti ini:
Padahal biasanya Lele bakal bereaksi begini kalo ada yang macem-macem sama dia.
Karena reaksi Lele ga seperti biasanya, aku jadi terdiam dan berpikir kenapa Lele berubah jadi kalem.
Berbagai pertanyaan tentang Lele mulai berterbangan di kepalaku, memaksaku berpikir untuk menjawabnya satu persatu.
Lele yang kukenal tingkah lakunya beda dari teman-teman yang lain dan kadang aku sampe ga bisa menahan tawa liat tingkahnya yang luar biasa.
Teman-teman pun mulai menyadari ada yang beda dari Lele ditambah Lele lama ga muncul di grup. Kami berpikir hingga muncul satu kecurigaan berlandaskan imajinasi; jangan-jangan Lele habis diruqyah makanya dia berubah jadi kalem. Hmm...
Beberapa hari kemudian, Lele bales chat WAku. Dia minta maaf baru bisa bales karena dia lagi sakit. Ternyata Lele ga habis diruqyah. Sekarang muncul pertanyaan baru ‘Lele sakit apa?’ Katanya Lele sakit sejak hari-hari terakhir UAS, tapi sekarang udah lebih dari H+3 UAS kenapa Lele belum sembuh. Aku jadi semakin khawatir.
Walau Lele lama ga bales lagi setelah itu, alhamdulillah aku sedikit lega setidaknya Lele ngasih kabar kalo dia lagi sakit jadi aku dan teman-teman bisa bantu mendoakannya.
Andai aku lagi di Semarang, aku pengen jenguk ke rumah Lele di Demak. Andai aku bisa teleportasi, aku udah ada di samping kasur Lele sekarang.
Jangan lama-lama sakitnya ya Le. Jangan lupa makan, minum obat, istirahat yang cukup. Jangan begadang nonton drama, tidur le tiduurrr.
Pokoknya kamu harus cepet sembuh ya Le!
Oiya, kata Icil sama Putan kamu tambah kurus. Duh aku gamau aset berhargamu jadi berkurang kualitasnya Le.
Kalo gitu semester 6 nanti kita kudu rajin makan bareng di warteg atau puma ya Le!
Jangan lupa minumnya es teh.
Kurang dari 5 hari kita udah mulai masuk kuliah.
Sambil menikmati detik liburan yang hampir usai, aku tetep duduk di sini, menunggu comeback-mu Le.
C’mon Le kamu harus cepet sembuh biar bisa comeback di medsos lagi.
Teman-teman pun menantikan sapaanmu di grup Le.
Kalo kita ketemu hari Senin nanti, aku pengen lari meluk kamu Le.
Aku kangen liat tingkahmu yang luar biasa itu.
Kamu harus sembuh Le, dan comeback lah sebelum ada airmata yang mengalir.
Pokoknya kutunggu hari Senin nanti Le!
Semoga hari Senin nanti Lele udah normal kembali.
Biar orang-orang disekeliling Lele bisa merasakan kembali energi positif yang dipancarkannya. Jadi kami bisa lebih semangat dalam bertingkah.
Tunggu aja sentlikan dari aku kalo hari Senin nanti Lele masih loyo,
Tenang aja, itu sentlikan kasih sayang biar Lele ga loyo lagi.
Yaudah pokoknya aku tunggu comeback spesial dari kamu Le. Saranghae~
Tak bisakah kau tinggal lebih lama lagi?
Kau tahu, potret kebersamaan kita tak cukup
untuk menyelimuti rindu yang terus menerus meluap.
Maka, jadilah pelengkap tawaku di sini.
Karena denganmu sedihku senantiasa menjadi tawa.
Jadi, tak bisakah kau tinggal lebih lama lagi?
Mari bersenang-senang bersamaku di sini,
juga dengan mereka yang haus akan candamu.
Ah, aku terlalu banyak meminta.
Rupanya berharap agar kau tetap tinggal adalah percuma.
Tentu saja kau tetap pergi.
Di sini, di tempat ini kau tinggalkan semua yang pernah menjadi milikmu,
dengan senyuman lebar merekah di wajahmu.
Ya sudah, jika itu inginmu.
Tapi kawan, ingatlah satu hal;
kenangan kita barulah segenggam.
-
Semarang, 2016.
Puisi ini kutulis pertama kali di Semarang pada suatu malam di tahun 2016, dan sudah pernah aku posting di tumblr pertamaku. Puisi ini lahir atas kerinduanku pada seorang teman yang aku belum sempat memberikan apa-apa padanya. Puisi ini kutujukan untuknya dengan setitik harapan kami akan berjumpa kembali lalu kemudian menciptakan kenangan yang lebih indah lagi, suatu hari nanti.
We are all going forward. None of us are going back.
-Pada suatu hari di tahun 2019, kami pergi ke salah satu pantai di Jepara, ketika sedang menginap di rumah Salsa.
I have an internet friend. She is one of the most incredible people I’ve ever talked to in my whole life, and I haven’t even physically met her. Ya, I met her on facebook for the first time. Today, I’m gonna writing about this girl. And it would be my first time of writing a post in a full English. I dedicate this letter for her. I’m sorry for my bad grammar, I’m still learning, tbh.
*okayletsgetstarted*
Well, yesterday I tried to login to my facebook account—to re-read our old conversations. It has been very looong time, tbh. Because I’ve been inactive on facebook for a long time. And then, I’m suddenly feeling nostalgic about our old conversations. It feels like I’m pulled out to the past. Far far away. Now I really miss those conversations and also the memories behind it.
Her name is Lani Pillos. The gorgeous girl from Philippines. I usually called her Oneechan—it means big sister. She’s EXACTLY like a sister I always wanted to have all this time. Because I don’t have sister, I just have abrother. You don’t know Oneechan, how grateful I am for having said “hello” to you for the first time on September 2012, with that smiling yellow face emoji. It’s true that we have never met in person. But all that I really hope is we just keep stay close to each other like this moment in time.
Well Oneechan, I once told you that it never ceases to make me sad whenever I realized that I’ve never actually met you in person; never talked to you face to face, never hugged you, never bought you a gift, never heard you laugh out loud right in front of me. And yet, for more than a year now, I’ve chatted you (from facebook and then we moved to whatsapp and now we’re on Line… and I’m 20 now). So much memories, right? I know there’s many way for us to keep in touch as long as the internet is still available, at least it makes me relief.
Umm, I think it’s a little strange, knowing that there is someone on the other country whom you only talk to through internet, and yet consider as close as a sister. But you are REAL, Oneechan! Maybe this would never fully tell you how blessed I feel to have you in my life each and every day. However, I’m writing this letter to hopefully you are read it and understand how much our friendships mean the world to me, Oneechan. Really.
First and foremost, thank you for being my one and only long-distance-internet best friend ever. You are the BEST! When my internet friends leave me one by one as they finally knew a fact that I am a muslim, you’re still stayed. Even when you already knew. And even recently you and me have just been discussed about the on going war in Palestine and also in the Philippines. And I still remember you have been greeted me a ‘Happy Eid Mubarak’ on instagram even when I didn’t tell you anything about it. Wow, thank you! You are very different than my (old) internet friends who leave me. And from all the conversations we did, there’s one thing for sure, that you have a pure-heart, Oneechan. I’m so lucky God has sent you to me, even though our date-of-meeting is still on the plan. I’ll never stop grateful.
Thank you for let me know your daily stories and thank you for give me a chance to be your good listener. I’m sorry if I might not have the right words to make you feel better. All that I really want is to make you happy. Don’t force yourself too hard, Oneechan. Even though I know you are a strong girl, but take a rest when you need it. I’m absolutely believe you’re always trying your best to get anything that you want to. And if something that you want is yet to come now, just wait a little longer, I’m sure the best things will be come in your way soon. Because the best thing is worth the wait. And your hard work will never be betray you. I’m writing this as myself reminder too *hehehe*
Thank you for always being there for me. I love everything about you and the moment when we share about anything, a random discuss (about anime, Taylor Swift, our daily activities, the world nowadays, etc), do a stickers war on Line, stalking your instagram, waiting for your reply… everything. Because Oneechan, there is no one else in the world like you. And thank you for understand me. You always motivate me to be the best version of myself that I can be, and I cannot wait until the moment that I actually do get to meet you, Oneechan.
One day we will meet up, I believe, and it will be incredibly perfect like we always say that it will be. I have plan to one day travel to Philippines and meet my awesome internet friend there; Lani—my beloved Oneechan. And we are gonna visiting each others. Hopefully our hope become a reality in the somewhat near future. But even if I never meet this gorgeous girl, she will continue to hold an incredibly special place in my heart.
Here’s a hug for you, Oneechan! {}
PS: Oh! I’m sorry Oneechan I didn’t text you in your biggest interview on the last 23rd, I pray the best for you. Trust me I really want to cheer you up and gave you a good luck, but it’s all late now. I have some troubles those days. It was all my fault, also this very late post, I’m so sorry Oneechan :(
(Fyi, post ini adalah kelanjutan dari postinganku sebelumnya, jadi biar lebih paham dan enak bacanya mending baca dulu postku sebelum ini *hehehe*)
Itu penjelasan kata ‘drama’ berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Oke, silakan dipahami dulu.
Jadi begini kawan-kawan, drama identik dengan permainan peran kan? Ya, dalam sebuah drama kita dituntut untuk menjadi orang lain (sesuai peran yang dimainkan) yang tujuannya untuk menceritakan sebuah cerita atau kisah. Bermain drama berarti kita berpura-pura. Kita menjadi orang lain. Bukan diri kita sendiri. Saat sang aktor memainkan peran seorang ayah yang kejam, bukan berarti di kehidupan aslinya aktor tersebut adalah ayah yang kejam kan? Bisa jadi sebaliknya, dia adalah ayah yang baik.
Lalu, kenapa di post sebelumnya aku memilih menggunakan kata ‘drama pertemanan’?
Jawabannya: karena kita sedang berpura-pura—waktu itu.
Mari kita analisis dengan prinsip psikoanalisa milik Freud. Ya itung-itung sekalian belajar ilmu psikologi yang aku pelajari di kuliah *hehehe*
Jadi setelah berulang kali berpikir dan merenung, aku merasa apa yang dulu pernah aku lakukan ke Putan itu bukan seperti Lida yang sebenarnya. Percayalah ini bukan pembelaanku. Aku cuma mau jujur.
*okelanjut*
Menurut Freud, ketiga unsur kepribadian yang disebut sebagai id, ego dan superego itu saling bekerjasama untuk menciptakan perilaku manusia yang kompleks. Penjelasan lebih lanjut bisa klik di sini
Saat itu, id dalam diriku yang merupakan perilaku naluriah—mendorongku untuk memenuhi kepuasan diriku dengan cara menyakiti putan secara non fisik, dengan dalih dia juga telah meyakitiku. Id terus menerus mendorongku untuk memenuhi kebutuhan ‘rasa puasku’ itu. Lalu, datanglah ego. Ego bertanggung jawab untuk memenuhi segala kebutuhan dari id. Nah, di sinilah penyebab masalahnya. Alasan mengapa aku merasa waktu itu bukanlah diriku dan seakan-akan semuanya di luar kendaliku adalah karena Lida yang asli telah diambil alih oleh ego. Ya, saat itu aku telah dikalahkan oleh egoku sendiri. Ego berusaha memuaskan kebutuhan id dalam diriku. Aku menjadi egois. Lalu, alhamdulillah Allah mengirim Ola dan Lia untuk menjadi superego bagiku. Superegoku mulai bekerja melalui nasihat-nasihat Ola dan Lia yang menginginkanku untuk mengakhiri ‘drama’ itu. Voila! Mereka berhasil. Superegoku bekerja dengan baik. Aku berhasil mengalahkan egoku, dan menemukan Lida yang asli kembali. Aku setelah mengumpulkan segenap keberanianku, akhirnya memutuskan untuk menemui Putan dan meminta maaf. Begitu juga dengan teman-teman yang lain. Kami semua saling meminta maaf dan memaafkan.
Drama pertemanan kita berakhir. Tapi pertemanan kita tidak.
Aku yakin, seyakin yakinnya yakin Onik, Lele, Rima, Putan dan diriku sendiri ga sungguh-sungguh alias hanya berpura-berpura waktu itu. Berpura-pura saling menyakiti. Membohongi diri sendiri padahal kalo kita mau jujur, kita semua tahu bahwa apa yang sedang kita lakukan waktu itu adalah hal yang menyedihkan. Kita bukan diri kita yang sebenarnya, waktu itu. Kita di luar kendali. Makanya, tidak perlu mencari siapa yang salah. Tidak ada yang salah, karena kita hanya sedang
....bermain drama.
It’s okay.
In the end, we’ve all learned something.
“Believe in your mistakes, and grow from them” -Taylor Swift
Sudah hampir masuk tahun ketiga aku kuliah, tapi aku belum pernah sempat menuliskan apa aja yang udah aku dapat dari sini. Alhamdulillah, ada banyak sekali life lessons yang aku dapat selama masa perkuliahanku, yang terlalu sayang untuk ga dituliskan. Well, ada satu hal yang paling membekas di pikiran dan hati aku, sesuatu dari ±dua tahun masa perkuliahanku di Semarang yang menurutku paling berkesan dan selalu jadi hal yang paling menantang untuk dihadapi.
Yaitu, manusia.
Ya, manusia itu seberagam itu.
Dulu waktu kelas 12 SMA, aku sempat membayangkan temen-temen seperti apa yang bakal aku temui di Universitas nanti. Aku inget temen-temen SMAku pernah bilang kalo temen kuliah sama temen SMA itu bakal kerasa banget bedanya. Jujur aja, dulu aku cuma diem waktu mereka bilang begitu, selain karena ga paham sama apa yang mereka maksud dengan “beda”, aku juga ga terlalu yakin.
Masa sih bakal sebeda itu?
And now I’m totally understand.
Sewaktu TK, SD, SMP, SMA dulu aku ga pernah berantem sama temen sekolahku.
Tapi, di masa kuliah ini ada pengalaman yang berbeda. Kalo bukan karena ‘drama pertemanan’ ini, aku gak akan dapet apa-apa di masa kuliahku. Mungkin ini kesempatanku untuk belajar bertumbuh lebih baik lagi.
Setelah merenungi kejadian demi kejadian yang aku alami selama ±dua tahun masa kuliahku, sekarang aku paham kalo perbedaan itu sesuatu yang unik dan menarik (at least for me), seperti kata kak Izzati “how different each and every single one of us can be, how every person can have absolutely different “patterns”, “systems”, ways of thinking, stories, backgrounds… everything. It’s amazing, isn’t it?” And me trying to deal with all that. Ini adalah suatu tantangan tersendiri buatku.
Jelas aku ga akan bisa bilang begitu tanpa alasan atau mungkin seumur hidup aku ga akan pernah memikirkan hal itu—kalo aku ga ikut bermain peran dalam ‘drama pertemanan’ ini.
Aku akui, kadang perbedaan itu suka bikin gregetan, bisa bikin mood kita turun bahkan bisa bikin stres. Apalagi kalo ada tugas kelompok, wahwah setiap kepala di dalam satu kelompok pasti membawa keunikannya masing-masing. Kalau kata Shikamaru “mendokusai!” (baca: merepotkan). Nah, di sini lah tantangannya. Setelah dipikir-pikir dan direnungkan, ya kembali lagi jawabannya karena memang we all are simply different.
Sekarang aku sadar tugas kelompok justru bisa jadi tempat ‘ujian’ buatku, tempat menguji kesabaran dan keikhlasan; sabar menghadapi orang-orang dengan keunikan yang berbeda satu sama lain dan belajar untuk ikhlas kalo orang lain ga selalu bertindak sesuai apa yang aku mau.
Dan aku (udah lama banget) pengen menulis tentang mereka; teman-teman dalam drama pertemananku—teman-teman yang super berbeda dari teman-teman SMAku—teman-teman yang udah banyak (banget) membantuku dalam berbagai urusan—teman-teman yang selalu aku ingin rangkaikan sebuah puisi—teman-teman yang penuh kejutan.
I’m so lucky to have them in my life.
Biarlah tulisan ini jadi satu-satunya alat untuk membawaku menjelajahi kenanganku bersama mereka, jika suatu hari nanti aku lupa atau ingin merindu.
Orang pertama yang aku temui waktu pertama kali dateng ke asrama tepatnya di kamar B12; Nggoni’mah Miftahul Janah. Dia lagi tiduran sambil main hp waktu aku buka pintu, agak kaget waktu itu karena kupikir ga ada orang di kamar. Aku inget banget, aku menghampirinya dengan semangat dan menjabat tangannya “Onik ya? Aku Lida” dia pun dengan senyuman khasnya balas menjabat tanganku “Iya, Onik” *ehemsebentarketawadulu*
Aku ga belum punya banyak kenangan sama Onik, karena dia akhirnya pindah kuliah ke Kudus, kampung halamannya. Masih teringat jelas dibenakku waktu pertama kali denger Onik mau pindah, aku nangis saking sedihnya. Btw, itu sengaja kata ‘ga’nya aku coret, soalnya aku yakin masih ada kesempatan bikin banyak kenangan yang beautiful (baca: biyutipul) sama Onik dan temen-temen yang lain. Semoga suatu hari di hari yang tepat Onik mau main ke Semarang.
Aku kangen banget sama Onik. Rasanya berat sekali melepaskan teman yang sangat berarti buatku. Andai waktu bisa diputar kembali, aku pengen meninggalkan kesan yang baik buat Onik. Andai waktu bisa diputar kembali, kenangan-kenangan buruk yang udah aku lakukan ke Onik bakal kuganti dengan yang indah-indah saja. Ya, yang indah-indah saja. But life must go on. Aku ga bisa mengubah apapun yang dulu pernah aku lakukan ke Onik. Dan setiap kali mengingat fakta bahwa Onik ga ada di sampingku untuk belajar psikologi bersama lagi—ga pernah ga membuatku sedih.
Onik, semoga kamu selalu dikelilingi teman-teman yang baik di sana. Aku minta maaf sekaligus terima kasih atas semuanya tentang kamu… dan kita. Datanglah ke Semarang selagi kami masih di sana, karena percayalah aku dan teman-teman selalu menginginkanmu kembali. We will always welcome you back with open arms *pelukjauhdarikami* {}
Layli Uzlifatul Jannah; temen sejak jaman fakultair sampe akhirat nanti (aamiin). Aku inget dulu waktu Lele masih dipanggil Layli, kami pernah dihukum bareng gara-gara telat kumpul. Waktu itu, di kelompokku aku sendiri yang dateng telat, aku berdiri sendirian di depan kakak tingkat yang mau ngasih perintah hukuman, lalu tiba-tiba Lele Layli dateng dan berdiri di sampingku. Wah betapa leganya aku waktu itu, akhirnya ada temen satu kelompok yang telat juga *hihihi*. Kami dihukum untuk membuat resume tentang apa yang dijelaskan oleh dosen. Aku mengajak Lele Layli untuk duduk bareng saat di kelas nanti dan dia mengiyakan. Berkat hukuman itu aku jadi duduk di sebelah Lele Layli untuk pertama kalinya.
Mungkin Lele udah lupa kejadian itu, but it’s okay.
Entah sejak kapan aku manggil Layli jadi Lele. Lele orang yang paling sering bikin aku dan temen-temen tertawa karena tingkahnya yang luar biasa. Rasanya energi postif yang Lele punya memancar kuat dan menularkannya ke orang-orang di sekelilingnya. She’s so impressive! Semua orang senang berada di dekatnya, termasuk aku. Makanya, Lele ga pantes pasang wajah sedih apalagi sampe ngluarin air mata. Kalo nangisnya karena terharu atau saking bahagianya sih gapapa. Aku ga suka kalo ada orang yang buat Lele nangis. Karena rasanya sedih banget liat Lele yang biasanya ketawa-ketiwi tiba-tiba berubah jadi gloomy.
Tapi, aku juga ga bisa ngapa-ngapain kalo liat Lele ataupun temen-temenku yang lain nangis. Soalnya aku bingung harus gimana. Sedih banget kalo liat mereka nangis dan bodohnya aku gatau gimana cara menghibur mereka. I’m so sorry, I think I’m gonna fix it. Biasanya aku cuma bisa diam, tapi percayalah teman-teman diamku bukan karena aku ga peduli.
Gomawo le udah sering bikin aku dan temen-temen tertawa. Don’t you ever change! Tetaplah menebar energi positifmu, karena keunikanmu itu mengajarkanku banyak hal. Dan semoga Lele ga pernah kehilangan alasan untuk tersenyum, keep it sparkling more and more, okay?
Stay witty as always, Le! And stay YOU! {}
And then, untuk seseorang yang paling aku kagumi di kelas c, tbh; Nashikhatul Karimah. Because she is so incredible—bagiku. Hmm, aku bingung mau nulis apa tentang Rima. Di dalam benakku semua tentang dia bercampur aduk dan berterbangan saling berebut minta ditulis. Idk, when it comes to her it’s just too complicated to be explained.
Dia suka bikin orang salah paham. Karena udah sering bersamanya, aku sangat mengerti kalo Rima adalah orang yang jujur apa adanya. Ga ada kata ‘fake’ di dalam kamus hidupnya. Tapi, kadang orang yang ga terlalu mengenal Rima bakal salah paham padanya. Dulu aku juga sering salah paham sama dia, but then I figured out that she is just being her. And nothing wrong with it. Justru itulah uniknya Rima, ga ada yang salah dari jadi diri sendiri kan? Dia berani mengatakan apa yang pengen dia katakan. Dia berani melakukan sesuatu dan mempertanggungjawabkannya. Dia berani berbeda. Dia berani jujur. She is awesome, isn’t she?
Dan yang paling membuatku kagum, dia adalah pengamat yang baik. She is notice everything. Apa buktinya? Nih salah satu buktinya —>
Oiya hampir lupa, dia juga suka bikin orang terharu. Waktu aku dapet surat cinta itu, kami belum lama saling mengenal, but she knows me better than I do. She’s just AWESOME!
Makasih ya rim, nasihatmu itu masih aku ingat sampe hari ini dan itu selalu jadi bahan renunganku untuk memperbaiki diri. Rim, I can understand if you wouldn’t want to tell me all about yourself, but please know that all I have ever wanted for you is to be happy. Not just you, but all of my loved one, I just want you guys to be happy. I never want to force anything to you. But if you want me, I’ll give my best to be a good listener for you Rim. I’m going to be right here, for whenever you need me. I might not always have the right words for you, or the kind of comfort you need but I promise I will try my best. Thank you for always caring about me. Thank you for let me be your friend. And most of all, thank you for being the REAL Rima. You’ve taught me many things than you ever think you did. You know, you are the one who taught me to not afraid of being myself. I know it sounds weird perhaps, but I’m telling you the truth. Thank you. Thank you. Thank you. But I’m so sorry for not being a friend that you’ve always wanted to. Dan maaf karena aku cuma berani bilang di sini, yang mungkin kamu ga akan pernah baca. Btw, aku punya kalimat bagus buat kamu “be a unicorn in a field of horses, Rim!“ {}
And the gorgeous one; Lola Isna Fitria.
Ola temen sekamarku di C6. Badannya boleh kecil, tapi dia ga takut hantu. Tengah malam pun dia berani ke kamar mandi sendirian waktu kami masih di asrama. Aku sama Lia mah ga mungkin berani, ya gak Li? *hehehe*
Kalo diinget-inget Ola itu jarang cerita tentang dirinya ke aku maupun Lia—yang teman sekamarnya, kayanya juga ga mungkin dia curhat-curhat ke Elma yang jarang pulang, tapi gatau juga sih. Ola suka hal-hal yang aku ga terlalu suka. Misalnya; Ola suka film-film India, aku biasa aja karena ga pernah nonton film india. Eh pernah ding, aku inget pernah nonton film india sama Ola waktu di asrama, hehehe. Ola suka barang yang kerlap-kerlip, aku ga terlalu suka karena ga pede makenya. Ola suka ikan dan tulang belulang ayam, aku lebih pilih indomie aja :’D
Mungkin, satu-satunya hal yang Ola sukai dan aku juga suka adalah Hello Kitty. Yay!
Kalo diinget-inget, Ola itu ga pernah marah ke aku. Hmm, ga mungkin kan aku yang nyebelin kaya gini ga pernah bikin orang marah. Ya, kalo dipikir-pikir Ola mungkin pernah jengkel/marah ke aku tapi dia ga pernah nunjukin marahnya ke aku. Wowza. Keren banget Olaku ini. Dia juga orangnya legowo. Legowo is lapang dada alias rakpopo-nan. Ola ga gampang tersinggungan, apa-apa ga diambil hati. Woles wae. Sesuatu yang harus aku pelajari dari Ola.
Ola makasih udah jadi temenku yang suuuper baik. Aku bersyukur banget bisa kenal dan deket sama kamu. Semua temenku itu unik, termasuk kamu. Ga ada duanya. Aku suka semua hal tentang kamu; caramu berbicara, logat melayumu, caramu berjalan, caramu makan kuaci, kamu yang pinter ngomong, kamu yang pinter ngitung duit, caramu bilang “susu pink susu pink” atau “kecintaanku mana?” atau “alamakjaanng”… semuanya aku suka. Maafin aku yang suka bikin kamu jengkel ya la. Aku ga pernah bener-bener bermaksud nyakitin kamu. Jujur, aku seneeenng banget pernah sekamar sama kamu. Masa-masa sekamar sama kamu itu bakal jadi salah satu kenangan paling indah buatku. Aku pasti bakal kangen masa-masa itu. Makasih juga pernah ngajakin aku ke Salatiga, aku jadi pengen punya rumah di sana soalnya adeemm banget dan sepi, nyaman rasanya cocok buat bobo ciang, hehe. Ola, jangan sampe vertigomu kambuh lagi ya, sehat-sehat terus la. Aku dan temen-temen semua ga ada yang tega kalo liat kamu sakit kaya waktu itu. Sedih banget.
Oiya, setauku kamu juga suka nulis-nulis gini kan? Puisi yang pernah kamu kirim di grup kelas dulu keren banget la, masih inget kan kamu? *bukannanyasendiri* *nanyakeola* Bahasanya itu lhoo puitis dan Ola banget. Kalo kamu mau, aku bersedia kok jadi pembaca setiamu. Dengan senang hati. Oke la oke? Hehehe.
Luv you my bestbestbest! {}
Dan, untuk temen sebelah kasurku; Lia Atsniyah—orang ter-selow yang pernah aku kenal.
Lia itu zuper zantai banget orangnya—menurutku. Semuanyaaa dibikin selow; makan selow, mandi selow, jalan selow, belajar selow, buka pintu selow sampe tidur pun dia selow. Yang terakhir jangan sampe keblabasen li *hihihi*. Kadang aku gregetan sama Lia tapi lucu juga sih bahkan sampe sekarang belum ada yang nyaingin keselowannya dia. Tapi walaupun selow, selama di asrama Lia ga pernah sakit lho gaess, hehehe.
Lia yang aku kenal juga ga gampang panik karena sesuatu. Semuanya dihadapi dengan santai atau bahasa gaulnya woles. Aku ada satu kisah tentang kewolesannya Lia, mari kuceritakan…
Suatu hari di hari yang cerah, hpnya Lia ga ada di tasnya alias hilang. Dengan tenang Lia nyari-nyari hpnya tapi ga ketemu di mana pun dia cari. Aku ikut deg-degan takut hpnya beneran hilang tapi ga ada tanda-tanda kepanikan di wajah Lia. Lia masih sempet becanda ketawa-ketiwi sama temen-temen. Emang bener-bener sesuatu dia itu, bayangin kalo hpku yang hilang pasti udah—ah jangan dibayangin. Singkatnya, hpnya Lia ketemu di tempat fotocopy, alhamdulillah ga jadi hilang. Dan aku inget banget pas hpnya ketemu dengan gaya wolesnya Lia berkata “aku rak deg-degan soale wes firasat ngko pasti ketemu”.
Hmm oke, jadi kisah kewolesan Lia disponsori oleh f i r a s a t.
Wah keren ya, Lia yakin banget sama firasatnya, jadi dia ga keliatan panik bahkan masih bisa ketawa-ketiwi walau hpnya belum ketemu. Sepertinya aku emang harus banyak belajar ilmu kewolesannya Lia.
Li Lia, sayang banget ya kita udah ga bisa ngobrol bareng lagi sebelum tidur pas lampu kamar udah dimatiin, karena di kos nanti ada tembok yang menghalangi kasur kita. Aku bakal kangen masa-masa jadi temen sebelah kasurmu. Makasiiiihhhh banget udah super sabar selama jadi temen sebelah kasurku, dan makasih udah mau jadi temen baikku Li. Maaf ya li aku pasti banyak banget salahnya ke kamu. Aku bener-bener minta maaf tapi kamu harus tetep sabar sama aku ya li, hehehe. Tetep jadi temen baikku ya li, karena kalo ga ada kamu ga ada yang bisa diledekin eh maksudku kalo ga ada kamu—orang spesialku sekaligus orang yang kujadikan panutan bakal berkurang. Doakan semoga kita semua bisa berteman sampe di akhirat nanti ya Li. Oiya, makasih juga udah ngajakin aku ikut PMII dan ikut acara UPI waktu itu. Dua-duanya seruuu dan alhamdulillah ada pelajaran yang bisa aku pelajari pas ikut kegiatan PMII & UPI itu Li. Yaa, walaupun sampe sekarang kita belum pernah ke UPI lagi ya Li *huehehe*
Luv you Liaemon~ {}
and for the last but much necessary,
Putri Anjani; temen yang paling berpengaruh di masa perkuliahanku. Kalo kamu kebetulan lagi baca tulisanku ini, aku mau bilang terima kasih dan maaf Put, aku ga bermaksud membuka luka lama. Justru aku mau berterima kasih karena tanpa Putan, aku ga akan menyadari keburukan-keburukanku. Tanpa Putan dan temen-temen semua, aku ga akan belajar memperbaiki keburukan-keburukanku. Aku minta maaf karena aku pernah menyakiti kamu Put, aku bener-bener minta maaf atas semua yang pernah aku lakukan ke kamu. Aku sadar, semarah apapun kita seharusnya jangan sampe menyakiti orang lain. Aku janji sama diriku sendiri, aku ga akan seperti itu lagi.
Aku inget banget dulu Ola sama Lia pernah nyuruh aku cepet-cepet minta maaf ke kamu, ga peduli siapa yang salah. Tapi waktu itu aku terlalu egois, aku bilang ga mau. Onik pun pernah mengajakku untuk meminta maaf ke kamu, dia bahkan sudah mengingatkanku jangan sampe kita jadi orang jahat, tapi aku tetep menolak ajakan Onik. It was all stupid of me. Setelah aku pikir-pikir, hari-hari yang kujalani selama aku ‘bermain drama’ itu ga bikin aku bahagia sepenuhnya. Aku memang tertawa tapi tawaku terasa kosong. Aku merasa ada sesuatu yang mengganjal. Aku merasa kalo aku udah cukup keterlaluan. Aku menyesal betapa jahatnya aku waktu itu. Aku kaget sendiri kenapa aku dulu bisa setega itu. Itu seperti bukan aku. Aku merasa seperti jadi orang lain waktu itu. Aku seperti sedang bermain peran dalam sebuah drama. Ya, drama yang kubuat sendiri.
Kalo saat ini ditanya apa aku menyesal? Ya, aku menyesal. Tapi, aku bersyukur pernah mengalami kejadian itu. Karena aku yakin ga semua orang pernah diuji seperti itu oleh Allah. Aku menyesal tapi aku bersyukur, karena lewat kejadian itu Allah mengirimkan untukku orang-orang yang hingga hari ini menjadi teman-teman spesialku. Dan Allah juga memberiku banyak pelajaran hidup untuk aku pelajari. Dan tentu saja, itu semua berlaku juga untuk kalian—teman-teman spesialku. Ingatlah, just because you’re angry doesn’t mean you have the right to be cruel.
Setelah dipikir-pikir dan direnungkan, kalo ga ada ‘drama’ itu—lingkungan pertemanan kita pasti ya gini-gini aja. Ga akan banyak perubahan, mungkin. Aku ga bakal bisa kenal dan jadi deket sama Ola & Lia, dan Putan juga ga bakal deket sama Salsa dkk. Yang terpenting, aku ga bakal belajar gimana cara minta maaf dan memaafkan, aku ga bakal belajar untuk jadi dewasa, dan banyak sekali kalo dipikir-pikir pelajaran yang udah Putan dan temen-temen bagi ke aku. Dan aku yakin, super duper mega ultra yakin, Putan dan temen-temen yang lain juga pasti belajar banyak dari ‘drama’ itu. Emang bener apa kata orang, selalu ada alasan dibalik setiap kejadian. Dan bener kan, lihat aja sekarang—lingkungan pertemanan kita justru semakin meluas (alhamdulillah). Sedikit demi sedikit kita mulai saling ‘merangkul’ lagi. Dan beberapa konflik di dalam kelas—walaupun belum sempurna setidaknya mulai mereda dan ga sedingin dulu. Memang dunia akan semakin baik kalo manusianya bisa saling memahami dan memaafkan.
And last but not least, ada kutipan bagus nih dari om Allen Steele;
“We make stupid mistakes when we’re young; we do our best to make amends for them as we get older. We survive by learning; by learning we survive. Such is life. So be it.”
From now on, let’s make more and more GREAT memories Put! {}
See?
We are not exactly the same, we are quite different.
Kita berbeda dengan keunikan masing-masing. Dan dari keunikan itulah, masing-masing dari mereka mengajarkanku banyak pelajaran hidup. Bayangin kalo orang-orang beneran sama semua. Bagaimana jadinya dunia ini? Mungkin kita ga akan pernah merasakan rasanya perbedaan. Alhamdulillah, Allah menciptakan manusia ga ada yang bener-bener sama. Semua berbeda. Anak kembar identik pun pasti punya perbedaan. Bahkan, seluruh umat manusia di dunia ini ga ada yang sidik jarinya bener-bener sama, semuanya berbeda.
ما شاء الله
Ya, seperti yang udah aku bilang di awal, manusia itu seberagam itu. Tinggal masing-masing dari kita yang mau bagaimana menghadapinya.
Dan terlepas dari apa pendapat mereka tentang aku, aku ga pernah berhenti bersyukur dipertemukan dengan mereka melalui cara terbaik yang telah direncanakan oleh Allah. Memang rencana Allah itu selalu indah. Onik, Lele, Rima, Ola, Lia, Putan, mereka semua membantuku menemukan siapa diriku. Waktu SMP/SMA aku ga pernah memikirkan hal-hal semacam ini. Apa mungkin aku telat puber ya? *hmm* Duniaku dulu isinya komik, novel dan Taylor Swift. Tapi orang-orang yang kusebut tadi berbeda, mereka bikin tanganku gatel pengen nulis ngetik tentang mereka, mumpung liburan ini alhamdulillah akhirnya kesampean juga, walaupun mungkin mereka ga bakal baca. No problem.
Kadang sempat terlintas di benakku sebuah pertanyaan klasik seperti; kalo dulu aku lolos SNMPTN/SBMPTN apa aku bakal punya apa yang aku punya sekarang? Apa aku bakal ketemu teman-teman yang seperti mereka? Apa di sana aku bakal dapat pelajaran hidup sebanyak yang aku dapet di sini? Kalo aku di sana apa aku jadi semakin baik atau malah semakin buruk? Kalo aku di sana apa aku bakal sebahagia seperti aku yang sekarang?
Well, inget apa kata Rima; jangan kebanyakan berandai-andai!
Hadapi aja apa yang jelas-jelas ada di depan mata.
Bermain ‘drama’ di kehidupan yang singkat ini? It’s okay. Asal jangan sekedar bermain tanpa mendapatkan apa-apa. Kita harus pandai-pandai membuka hati dan pikiran untuk melihat ada pelajaran apa aja yang bisa kita ambil.
‘Cause knowledges are everywhere. But regret could last forever. #selfreminder
So, bermainlah dengan baik.
Makasih udah baca sampai akhir, semoga bermanfaat! {}
“Bersama mereka, aku belajar menemukan diriku. Bersama mereka, aku ingin belajar memperbaiki diri agar tak ada lagi hati yang kusakiti. Dan bersama mereka, aku mengerti bahwa pertemanan itu bukan melulu tentang mencari persamaan, tapi tentang bagaimana menyatukan perbedaan. Sampai jumpa di semester 5, girls! Untuk Onik: berbahagialah selalu” {}