Sebulan terakhir ini, ruang chat grup line terasa hambar. Karena Lele si penyedap suasana tiba-tiba memuai tanpa memberi kabar (baca: menghilang).
Biasanya Lele yang paling aktif di grup, kalo ada dia pasti ada aja chatnya yang lumayan bikin senyum-senyum bahkan sampe ngakak.
Karena Lele lagi hiatus dari medsos, grup jadi ga asyik dan karena bukan lele kalo ada yang melucu di grup aku cuma bisa begini:
Udah lama banget, Lele ga ngasih kabar apa-apa ke kami. Aku nge-chat dia di wa atau line pun ga ada balesan. Rima nge-chat Lele juga ga ada balesan. Aku khawatir ada sesuatu sama Lele.
Kalo diinget-inget, emang udah lama aku ga ngobrol sama Lele karena praktikum semester ini kami beda asistensi jadi jarang ketemu. Sekalinya ketemu di kelas pun kami ga banyak ngobrol. Rasanya minggu-minggu terakhir sebelum UAS semester 5 datang, kami sibuk sama urusan masing-masing, jadi rasanya lama sekali aku ga duduk tertawa bareng Lele dan teman-teman lainnya. Dan waktu UAS, baru aku sadar ada yang beda dari reaksi Lele tiap kali aku ngajak bercanda. Reaksinya ga seperti Lele yang kukenal. Ilustrasinya seperti ini:
Padahal biasanya Lele bakal bereaksi begini kalo ada yang macem-macem sama dia.
Karena reaksi Lele ga seperti biasanya, aku jadi terdiam dan berpikir kenapa Lele berubah jadi kalem.
Berbagai pertanyaan tentang Lele mulai berterbangan di kepalaku, memaksaku berpikir untuk menjawabnya satu persatu.
Lele yang kukenal tingkah lakunya beda dari teman-teman yang lain dan kadang aku sampe ga bisa menahan tawa liat tingkahnya yang luar biasa.
Teman-teman pun mulai menyadari ada yang beda dari Lele ditambah Lele lama ga muncul di grup. Kami berpikir hingga muncul satu kecurigaan berlandaskan imajinasi; jangan-jangan Lele habis diruqyah makanya dia berubah jadi kalem. Hmm...
Beberapa hari kemudian, Lele bales chat WAku. Dia minta maaf baru bisa bales karena dia lagi sakit. Ternyata Lele ga habis diruqyah. Sekarang muncul pertanyaan baru ‘Lele sakit apa?’ Katanya Lele sakit sejak hari-hari terakhir UAS, tapi sekarang udah lebih dari H+3 UAS kenapa Lele belum sembuh. Aku jadi semakin khawatir.
Walau Lele lama ga bales lagi setelah itu, alhamdulillah aku sedikit lega setidaknya Lele ngasih kabar kalo dia lagi sakit jadi aku dan teman-teman bisa bantu mendoakannya.
Andai aku lagi di Semarang, aku pengen jenguk ke rumah Lele di Demak. Andai aku bisa teleportasi, aku udah ada di samping kasur Lele sekarang.
Jangan lama-lama sakitnya ya Le. Jangan lupa makan, minum obat, istirahat yang cukup. Jangan begadang nonton drama, tidur le tiduurrr.
Pokoknya kamu harus cepet sembuh ya Le!
Oiya, kata Icil sama Putan kamu tambah kurus. Duh aku gamau aset berhargamu jadi berkurang kualitasnya Le.
Kalo gitu semester 6 nanti kita kudu rajin makan bareng di warteg atau puma ya Le!
Jangan lupa minumnya es teh.
Kurang dari 5 hari kita udah mulai masuk kuliah.
Sambil menikmati detik liburan yang hampir usai, aku tetep duduk di sini, menunggu comeback-mu Le.
C’mon Le kamu harus cepet sembuh biar bisa comeback di medsos lagi.
Teman-teman pun menantikan sapaanmu di grup Le.
Kalo kita ketemu hari Senin nanti, aku pengen lari meluk kamu Le.
Aku kangen liat tingkahmu yang luar biasa itu.
Kamu harus sembuh Le, dan comeback lah sebelum ada airmata yang mengalir.
Pokoknya kutunggu hari Senin nanti Le!
Semoga hari Senin nanti Lele udah normal kembali.
Biar orang-orang disekeliling Lele bisa merasakan kembali energi positif yang dipancarkannya. Jadi kami bisa lebih semangat dalam bertingkah.
Tunggu aja sentlikan dari aku kalo hari Senin nanti Lele masih loyo,
Tenang aja, itu sentlikan kasih sayang biar Lele ga loyo lagi.
Yaudah pokoknya aku tunggu comeback spesial dari kamu Le. Saranghae~
Tak bisakah kau tinggal lebih lama lagi?
Kau tahu, potret kebersamaan kita tak cukup
untuk menyelimuti rindu yang terus menerus meluap.
Maka, jadilah pelengkap tawaku di sini.
Karena denganmu sedihku senantiasa menjadi tawa.
Jadi, tak bisakah kau tinggal lebih lama lagi?
Mari bersenang-senang bersamaku di sini,
juga dengan mereka yang haus akan candamu.
Ah, aku terlalu banyak meminta.
Rupanya berharap agar kau tetap tinggal adalah percuma.
Tentu saja kau tetap pergi.
Di sini, di tempat ini kau tinggalkan semua yang pernah menjadi milikmu,
dengan senyuman lebar merekah di wajahmu.
Ya sudah, jika itu inginmu.
Tapi kawan, ingatlah satu hal;
kenangan kita barulah segenggam.
-
Semarang, 2016.
Puisi ini kutulis pertama kali di Semarang pada suatu malam di tahun 2016, dan sudah pernah aku posting di tumblr pertamaku. Puisi ini lahir atas kerinduanku pada seorang teman yang aku belum sempat memberikan apa-apa padanya. Puisi ini kutujukan untuknya dengan setitik harapan kami akan berjumpa kembali lalu kemudian menciptakan kenangan yang lebih indah lagi, suatu hari nanti.
Sadar harus memulai adalah awal mula, Sama halnya jika sadar akan ketidaktahuan adalah sebuah pengetahuan. Namun, yang terpenting adalah ‘kesadaran’ itu sendiri. Kesadaran diri.
Pertanyaan yang sering terucap ketika bertemu dengan teman lama adalah seputar perubahan bentuk tubuh, seperti “jadi gemukan ya sekarang?” atau “wah, udah punya perut bos (baca: buncit) ya sekarang? Makmur bro.” Memang tidak bisa dipungkiri bahwa bentuk tubuh terutama ukuran pipi dan lingkar perut adalah beberapa hal pertama yang langsung diperhatikan oleh orang lain. Meskipun banyak millenial muda masa kini yang mengagung-agungkan body positivity atau mencintai tubuhmu apapun bentuknya, tetapi tetap saja kata-kata yang keluar dari mulut sebagian manusia itu tetap menjadi komentar menusuk, tidak peduli seberapa positif mindset kita. Terutama sih untuk orang-orang yang memang memiliki masalah kepercayaan diri, tidak peduli berapapun angka di timbangan.
Sebenarnya kalau diusut kembali, yang bermasalah bukan angka di timbangan ataupun tingkat kepercayaan diri masing-masing. Sehat memiliki definisi yang berbeda bagi setiap orang. Apakah sehat fisiknya? Apakah sehat mentalnya? Apakah sehat gaya hidupnya? Pun definisi sehat lainnya. Sehat dompet? haha duh jangan ditanya lah kalau yang satu ini. Yang penting percaya saja bahwa rezeki sudah dijamin…yah selama kita mengusahakannya.
Bagi saya sendiri, sehat melambangkan kemampuan untuk beraktivitas dengan bebas, level energi yang selalu tinggi, dan kemampuan berpikir yang optimal. Sehat adalah ketika saya memiliki mindset bahwa impian setinggi apapun pasti ada jalannya dan sangat mungkin diraih. Saat saya sedang bersedih, sehat memiliki arti tetap bergerak dan mampu berlari sejauh 5 km, hingga akhirnya rasa sedih berganti rasa lelah dan senyum tersungging di bibir. Saat saya sedang bahagia, sehat berarti saya dapat berbagi energi bahagia itu dengan orang lain dan bisa membuat orang lain tak lagi merasakan beratnya hidup, walau hanya sejenak. Sehat bagi saya adalah kata kerja, karena sehat membuat saya menjadi lebih aktif dan juga menjadi lebih bahagia karenanya. Sehat bagi saya sudah menjadi sumber motivasi saya, sehingga sangatlah penting untuk dijaga.
Dalam perjalanan saya menjaga sehat ini, saya mencoba menerapkan pola makan sesuai kearifan lokal yaitu 4 sehat 5 sempurna. Empat sehat terdiri dari nasi, lauk pauk, sayuran, dan buah, serta susu sebagai penyempurna. Dua minggu pertama menjalani pola makan ini, salah satu hal yang signifikan berubah adalah angka di timbangan. Jarumnya mungkin tergelincir ke angka yang lebih besar. Penyebabnya adalah tidak adanya panduan porsi yang bisa diikuti. Jadi yaa ketika itu ya saya penuhi saja piring dan hanya fokus di kelengkapan jenis makanan.
Hal lainnya adalah saya tidak bisa menikmati beragam makanan yang langsung dimakan sekaligus. Bagi saya, nasi panas dan sambal terong/tempe terasa nikmat sekali dimakan begitu saja dibanding jika ditambah dengan asem-asem daging. Begitu juga nasi dengan sayur sop terasa lebih nikmat tanpa perlu lauk tambahan semacam tahu/tempe goreng. Jika diibaratkan perbandingan lebih jelasnya, maka seperti ini. Tersedia nasi, telur, potongan sayur dan ikan. Orang lain cenderung memilih variasi nasi goreng dengan telur dadar dan ikan goreng. Sedangkan bagi saya, nasi goreng dengan paduan potongan sayur, telur dan ikan yang dicampur itu justru terasa lebih nikmat.
Tantangan kedua adalah susu. Susu sebagai penyempurna gizi ini saya beli di dekat rumah saya dan dijual dalam ukuran satu liter susu yang harus direbus terlebih dahulu sebelum dikonsumsi. Setelah beberapa hari berusaha beradaptasi, saya jadi tahu bahwa saya memiliki intoleransi laktosa ringan dan hanya bisa meminum susu paling banyak 300ml. Akhirnya dengan pertimbangan tertentu, saya berhenti dan mulai mencari pola makan lain yang lebih sesuai.
Saya mulai tergoda untuk menghitung kalori pada setiap makanan saya sejak mengikuti beberapa akun instagram terkenal yang selalu menampilkan jumlah kalori dalam setiap foto makanan yang diunggah. Sesuai teorinya, rata-rata manusia memiliki kebutuhan kalori sebesar 2000 kal/harinya. Namun, pada kenyataannya setiap manusia memiliki kebutuhan kalori yang berbeda didasarkan pada umur, tinggi badan dan intensitas aktivitas (sedentary lifestyle, moderate lifestyle, very active lifestyle). Total konsumsi kalori harian yang lebih rendah dari total kebutuhan kalori perhari maka defisit ini dapat berdampak pada penurunan berat badan. Jadi bagi kalian yang ingin mengurangi berat badan, maka pastikan total kalori yang kamu konsumsi lebih sedikit daripada jumlah kebutuhan kalorimu. Dalam menghitung kebutuhan kalori harian, saya menggunakan kalkulator kalori ini.
Karena tujuan awal saya bukan untuk diet menurunkan berat badan, jadi saya hanya mengatur makan sesuai dengan jumlah kebutuhan kalori saja dan didampingi dengan olahraga ringan seperti lari pagi dan barbel. Setiap memasak sesuatu di rumah, saya selalu menakar sayur buah dan bumbu dapur yang digunakan dan mencari referensi besaran kalorinya secara online. Semua berjalan lancar, hingga pada saat saya dine out dengan beberapa teman. Saya kesulitan menghitung kalori makanan yang saya pesan. Sebagian besar hitungan saya hanya kira-kira saja, sampai akhirnya saya frustasi sendiri karena memang minggu-minggu itu sering sekali agenda meeting di luar. Frustasi karena hitungan kalori yang embuh. Frustasi karena tidak bisa mengontrol maupun membatasi bahan-bahan yang digunakan dalam makanan pesanan. Frustasi karena ketika saya sudah terlalu frustasi bingung memesan apa dan selalu berakhir di es kopi gula sedikit atau teh hangat tanpa gula. Setelah berjuang melakukan penghitungan kalori selama dua minggu, saya menyerah. Saya merasa effort yang dilakukan terlalu besar sehingga menyulitkan saya untuk melakukannya secara konsisten. Padahal saya bertujuan mencari pola makan yang bisa diterapkan secara kontinu.
Berhubung pada saat itu saya sedang gemar belajar tentang meditasi dan hidup sehat, saya menemukan bahwa meditasi dapat dilakukan juga saat makan. Meditasi jenis ini lebih dikenal dengan nama Mindful Eating. Mindful eating ini sebenarnya merujuk ke kebiasaan makan yang fokus pada makanan dan proses memakannya, serta menghindari distraksi/pengalihan perhatian dalam bentuk apapun. Prinsip utama Minful eating adalah kontrol asupan makanan dengan pikiran tanpa perlu dengan sengaja membatasi konsumsi makanan tertentu.
Awal mencoba mindful eating, saya memulai dengan membiasakan tiga hal. Pertama, selalu memastikan makan dengan posisi duduk. Kebiasaan pertama ini kelihatannya cukup mudah, tapi ternyata setelah saya mengamati, di banyak kesempatan saya masih makan tidak dengan posisi duduk. Makan saat kondangan dengan posisi berdiri. Minum sambil jalan kesana kemari. Makan cemilan dengan posisi setengah rebahan saat menonton film di laptop.
Kedua, membiasakan makan secara perlahan. Yang dimaksud dengan makan perlahan di sini bukan sekedar ditandai dengan waktu mengunyah makanan. Tujuan utama dari makan secara perlahan adalah menghindari model autopilot dalam makan yang berakibat pada sesi makan tanpa sadar dan mendadak sudah selesai, as if meal never even happened. Beberapa teknik yang membantu saya melakukan kebiasaan ini diantaranya benar-benar tertarik (have genuine interest) terhadap makanan yang dihadapi. Menikmati seluruh proses makan, mulai dari melahap, mengunyah, serta menelan hingga suapan terakhir. Memberi perhatian lebih pada wujud, warna, tekstur, aroma, dan rasa makanan. Memberi jeda yang cukup antar suapan. Bagi saya yang sedang senang memasak, setiap kali saya makan sesuatu, saya selalu mencoba mengenali tiap bahan masakan dan bumbu yang digunakan. Ini membuat saya berhasil fokus sepenuhnya pada setiap suap makanan di hadapan saya.
Ketiga, when eating, just eating. Menghindari atau setidaknya mengurai kebiasaan makan yang di-sambi. Sebenarnya poin ketiga ini tidak dapat dipisahkan dari poin kebiasaan pertama dan kedua. Atensi dalam menikmati makanan secara penuh, hanya dapat diberikan jika otak dan pikiran kita tidak sedang teralihkan oleh hal lain. Saya sendiri menyadari bahwa saya tidak bisa mempraktekkan mindful eating jika saya masih memberikan sebagian atensi saya pada hal lain alias multitask. Kebiasaan yang ini memang agak sulit ya buat saya. Saya termasuk orang yang jika makan sendiri akan sekalian baca buku atau menonton film/youtube. Sedangkan ketika saya makan beramai-ramai, saya akan cenderung lebih seru mengobrolnya daripada menikmati makanan. Sedikit demi sedikit, saya memperbaiki kebiasaan ber-multitask ini. Tiap kali mau makan, saya rapikan meja makan. Saya perbaiki posisi duduk. Semua benda yang dapat mengalihkan perhatian, saya letakkan di luar jangkauan tangan. Setelah gelas terisi penuh dengan air putih, mindful eating saya dimulai. Oiya, gadget saya pindah ke mode getar. And I solemnly focus on the food in front of me.
Menurut penelitian, manusia butuh minimal 21 hari untuk membentuk kebiasaan baru. Saya butuh dua bulan untuk langsung dapat seketika berubah ke mindset mindful eating ketika duduk menghadapi makanan, tidak peduli ada distraksi apapun dari sekitar. Cukup lama juga ya prosesnya. Di hari ke-60, saya menyadari banyak perubahan yang signifikan. Perlahan-lahan, saya semakin jarang makan gorengan. Karena ketika saya perhatikan, setiap selesai makan satu gorengan pasti leher saya menjadi sedikit gatal dan tidak nyaman. Porsi gula di teh hangat juga jauh berkurang, karena ketika minum minuman yang terlalu manis, ada sedikit rasa tidak enak badan yang hanya saya sadari ketika saya perhatikan dengan seksama. Indera perasa dan penciuman saya menjadi lebih tajam. Pengaturan porsi yang lebih baik karena tanpa sadar ketika saya menghentikan makan saat sudah kenyang, saya belajar untuk mengambil porsi yang lebih sedikit di waktu makan berikutnya. AHA moment banget waktu menyadari bahwa porsi makan yang kita butuhkan itu tidak sebanyak yang kita kira. Wah, kalau ditulis bisa panjang sekali jadinya. Karena tanpa sadar, kita mengkonsumsi banyak hal tidak pada ukurannya, bisa kurang atau justru terlalu banyak.
Mungkin ini yang dinamakan Mindful Writing kali ya. Tanpa sadar sudah mengetik sepanjang ini, segitu fokusnya haha oke disudahi dulu. Memang perjalanan apapun itu biasanya panjang dan berliku tapi selalu seru untuk dibagi. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kalian ya. Memang banyak yang belum sempat ditulis, jadi kalau masih ada yang mau ditanyakan, tulis di komentar saja ya ❤
Regards,
Dea
Perjalanan Menuju Sehat Absolut Pertanyaan yang sering terucap ketika bertemu dengan teman lama adalah seputar perubahan bentuk tubuh, seperti "jadi gemukan ya sekarang?" atau "wah, udah punya perut bos (baca: buncit) ya sekarang?
Sudah hampir masuk tahun ketiga aku kuliah, tapi aku belum pernah sempat menuliskan apa aja yang udah aku dapat dari sini. Alhamdulillah, ada banyak sekali life lessons yang aku dapat selama masa perkuliahanku, yang terlalu sayang untuk ga dituliskan. Well, ada satu hal yang paling membekas di pikiran dan hati aku, sesuatu dari ±dua tahun masa perkuliahanku di Semarang yang menurutku paling berkesan dan selalu jadi hal yang paling menantang untuk dihadapi.
Yaitu, manusia.
Ya, manusia itu seberagam itu.
Dulu waktu kelas 12 SMA, aku sempat membayangkan temen-temen seperti apa yang bakal aku temui di Universitas nanti. Aku inget temen-temen SMAku pernah bilang kalo temen kuliah sama temen SMA itu bakal kerasa banget bedanya. Jujur aja, dulu aku cuma diem waktu mereka bilang begitu, selain karena ga paham sama apa yang mereka maksud dengan “beda”, aku juga ga terlalu yakin.
Masa sih bakal sebeda itu?
And now I’m totally understand.
Sewaktu TK, SD, SMP, SMA dulu aku ga pernah berantem sama temen sekolahku.
Tapi, di masa kuliah ini ada pengalaman yang berbeda. Kalo bukan karena ‘drama pertemanan’ ini, aku gak akan dapet apa-apa di masa kuliahku. Mungkin ini kesempatanku untuk belajar bertumbuh lebih baik lagi.
Setelah merenungi kejadian demi kejadian yang aku alami selama ±dua tahun masa kuliahku, sekarang aku paham kalo perbedaan itu sesuatu yang unik dan menarik (at least for me), seperti kata kak Izzati “how different each and every single one of us can be, how every person can have absolutely different “patterns”, “systems”, ways of thinking, stories, backgrounds… everything. It’s amazing, isn’t it?” And me trying to deal with all that. Ini adalah suatu tantangan tersendiri buatku.
Jelas aku ga akan bisa bilang begitu tanpa alasan atau mungkin seumur hidup aku ga akan pernah memikirkan hal itu—kalo aku ga ikut bermain peran dalam ‘drama pertemanan’ ini.
Aku akui, kadang perbedaan itu suka bikin gregetan, bisa bikin mood kita turun bahkan bisa bikin stres. Apalagi kalo ada tugas kelompok, wahwah setiap kepala di dalam satu kelompok pasti membawa keunikannya masing-masing. Kalau kata Shikamaru “mendokusai!” (baca: merepotkan). Nah, di sini lah tantangannya. Setelah dipikir-pikir dan direnungkan, ya kembali lagi jawabannya karena memang we all are simply different.
Sekarang aku sadar tugas kelompok justru bisa jadi tempat ‘ujian’ buatku, tempat menguji kesabaran dan keikhlasan; sabar menghadapi orang-orang dengan keunikan yang berbeda satu sama lain dan belajar untuk ikhlas kalo orang lain ga selalu bertindak sesuai apa yang aku mau.
Dan aku (udah lama banget) pengen menulis tentang mereka; teman-teman dalam drama pertemananku—teman-teman yang super berbeda dari teman-teman SMAku—teman-teman yang udah banyak (banget) membantuku dalam berbagai urusan—teman-teman yang selalu aku ingin rangkaikan sebuah puisi—teman-teman yang penuh kejutan.
I’m so lucky to have them in my life.
Biarlah tulisan ini jadi satu-satunya alat untuk membawaku menjelajahi kenanganku bersama mereka, jika suatu hari nanti aku lupa atau ingin merindu.
Orang pertama yang aku temui waktu pertama kali dateng ke asrama tepatnya di kamar B12; Nggoni’mah Miftahul Janah. Dia lagi tiduran sambil main hp waktu aku buka pintu, agak kaget waktu itu karena kupikir ga ada orang di kamar. Aku inget banget, aku menghampirinya dengan semangat dan menjabat tangannya “Onik ya? Aku Lida” dia pun dengan senyuman khasnya balas menjabat tanganku “Iya, Onik” *ehemsebentarketawadulu*
Aku ga belum punya banyak kenangan sama Onik, karena dia akhirnya pindah kuliah ke Kudus, kampung halamannya. Masih teringat jelas dibenakku waktu pertama kali denger Onik mau pindah, aku nangis saking sedihnya. Btw, itu sengaja kata ‘ga’nya aku coret, soalnya aku yakin masih ada kesempatan bikin banyak kenangan yang beautiful (baca: biyutipul) sama Onik dan temen-temen yang lain. Semoga suatu hari di hari yang tepat Onik mau main ke Semarang.
Aku kangen banget sama Onik. Rasanya berat sekali melepaskan teman yang sangat berarti buatku. Andai waktu bisa diputar kembali, aku pengen meninggalkan kesan yang baik buat Onik. Andai waktu bisa diputar kembali, kenangan-kenangan buruk yang udah aku lakukan ke Onik bakal kuganti dengan yang indah-indah saja. Ya, yang indah-indah saja. But life must go on. Aku ga bisa mengubah apapun yang dulu pernah aku lakukan ke Onik. Dan setiap kali mengingat fakta bahwa Onik ga ada di sampingku untuk belajar psikologi bersama lagi—ga pernah ga membuatku sedih.
Onik, semoga kamu selalu dikelilingi teman-teman yang baik di sana. Aku minta maaf sekaligus terima kasih atas semuanya tentang kamu… dan kita. Datanglah ke Semarang selagi kami masih di sana, karena percayalah aku dan teman-teman selalu menginginkanmu kembali. We will always welcome you back with open arms *pelukjauhdarikami* {}
Layli Uzlifatul Jannah; temen sejak jaman fakultair sampe akhirat nanti (aamiin). Aku inget dulu waktu Lele masih dipanggil Layli, kami pernah dihukum bareng gara-gara telat kumpul. Waktu itu, di kelompokku aku sendiri yang dateng telat, aku berdiri sendirian di depan kakak tingkat yang mau ngasih perintah hukuman, lalu tiba-tiba Lele Layli dateng dan berdiri di sampingku. Wah betapa leganya aku waktu itu, akhirnya ada temen satu kelompok yang telat juga *hihihi*. Kami dihukum untuk membuat resume tentang apa yang dijelaskan oleh dosen. Aku mengajak Lele Layli untuk duduk bareng saat di kelas nanti dan dia mengiyakan. Berkat hukuman itu aku jadi duduk di sebelah Lele Layli untuk pertama kalinya.
Mungkin Lele udah lupa kejadian itu, but it’s okay.
Entah sejak kapan aku manggil Layli jadi Lele. Lele orang yang paling sering bikin aku dan temen-temen tertawa karena tingkahnya yang luar biasa. Rasanya energi postif yang Lele punya memancar kuat dan menularkannya ke orang-orang di sekelilingnya. She’s so impressive! Semua orang senang berada di dekatnya, termasuk aku. Makanya, Lele ga pantes pasang wajah sedih apalagi sampe ngluarin air mata. Kalo nangisnya karena terharu atau saking bahagianya sih gapapa. Aku ga suka kalo ada orang yang buat Lele nangis. Karena rasanya sedih banget liat Lele yang biasanya ketawa-ketiwi tiba-tiba berubah jadi gloomy.
Tapi, aku juga ga bisa ngapa-ngapain kalo liat Lele ataupun temen-temenku yang lain nangis. Soalnya aku bingung harus gimana. Sedih banget kalo liat mereka nangis dan bodohnya aku gatau gimana cara menghibur mereka. I’m so sorry, I think I’m gonna fix it. Biasanya aku cuma bisa diam, tapi percayalah teman-teman diamku bukan karena aku ga peduli.
Gomawo le udah sering bikin aku dan temen-temen tertawa. Don’t you ever change! Tetaplah menebar energi positifmu, karena keunikanmu itu mengajarkanku banyak hal. Dan semoga Lele ga pernah kehilangan alasan untuk tersenyum, keep it sparkling more and more, okay?
Stay witty as always, Le! And stay YOU! {}
And then, untuk seseorang yang paling aku kagumi di kelas c, tbh; Nashikhatul Karimah. Because she is so incredible—bagiku. Hmm, aku bingung mau nulis apa tentang Rima. Di dalam benakku semua tentang dia bercampur aduk dan berterbangan saling berebut minta ditulis. Idk, when it comes to her it’s just too complicated to be explained.
Dia suka bikin orang salah paham. Karena udah sering bersamanya, aku sangat mengerti kalo Rima adalah orang yang jujur apa adanya. Ga ada kata ‘fake’ di dalam kamus hidupnya. Tapi, kadang orang yang ga terlalu mengenal Rima bakal salah paham padanya. Dulu aku juga sering salah paham sama dia, but then I figured out that she is just being her. And nothing wrong with it. Justru itulah uniknya Rima, ga ada yang salah dari jadi diri sendiri kan? Dia berani mengatakan apa yang pengen dia katakan. Dia berani melakukan sesuatu dan mempertanggungjawabkannya. Dia berani berbeda. Dia berani jujur. She is awesome, isn’t she?
Dan yang paling membuatku kagum, dia adalah pengamat yang baik. She is notice everything. Apa buktinya? Nih salah satu buktinya —>
Oiya hampir lupa, dia juga suka bikin orang terharu. Waktu aku dapet surat cinta itu, kami belum lama saling mengenal, but she knows me better than I do. She’s just AWESOME!
Makasih ya rim, nasihatmu itu masih aku ingat sampe hari ini dan itu selalu jadi bahan renunganku untuk memperbaiki diri. Rim, I can understand if you wouldn’t want to tell me all about yourself, but please know that all I have ever wanted for you is to be happy. Not just you, but all of my loved one, I just want you guys to be happy. I never want to force anything to you. But if you want me, I’ll give my best to be a good listener for you Rim. I’m going to be right here, for whenever you need me. I might not always have the right words for you, or the kind of comfort you need but I promise I will try my best. Thank you for always caring about me. Thank you for let me be your friend. And most of all, thank you for being the REAL Rima. You’ve taught me many things than you ever think you did. You know, you are the one who taught me to not afraid of being myself. I know it sounds weird perhaps, but I’m telling you the truth. Thank you. Thank you. Thank you. But I’m so sorry for not being a friend that you’ve always wanted to. Dan maaf karena aku cuma berani bilang di sini, yang mungkin kamu ga akan pernah baca. Btw, aku punya kalimat bagus buat kamu “be a unicorn in a field of horses, Rim!“ {}
And the gorgeous one; Lola Isna Fitria.
Ola temen sekamarku di C6. Badannya boleh kecil, tapi dia ga takut hantu. Tengah malam pun dia berani ke kamar mandi sendirian waktu kami masih di asrama. Aku sama Lia mah ga mungkin berani, ya gak Li? *hehehe*
Kalo diinget-inget Ola itu jarang cerita tentang dirinya ke aku maupun Lia—yang teman sekamarnya, kayanya juga ga mungkin dia curhat-curhat ke Elma yang jarang pulang, tapi gatau juga sih. Ola suka hal-hal yang aku ga terlalu suka. Misalnya; Ola suka film-film India, aku biasa aja karena ga pernah nonton film india. Eh pernah ding, aku inget pernah nonton film india sama Ola waktu di asrama, hehehe. Ola suka barang yang kerlap-kerlip, aku ga terlalu suka karena ga pede makenya. Ola suka ikan dan tulang belulang ayam, aku lebih pilih indomie aja :’D
Mungkin, satu-satunya hal yang Ola sukai dan aku juga suka adalah Hello Kitty. Yay!
Kalo diinget-inget, Ola itu ga pernah marah ke aku. Hmm, ga mungkin kan aku yang nyebelin kaya gini ga pernah bikin orang marah. Ya, kalo dipikir-pikir Ola mungkin pernah jengkel/marah ke aku tapi dia ga pernah nunjukin marahnya ke aku. Wowza. Keren banget Olaku ini. Dia juga orangnya legowo. Legowo is lapang dada alias rakpopo-nan. Ola ga gampang tersinggungan, apa-apa ga diambil hati. Woles wae. Sesuatu yang harus aku pelajari dari Ola.
Ola makasih udah jadi temenku yang suuuper baik. Aku bersyukur banget bisa kenal dan deket sama kamu. Semua temenku itu unik, termasuk kamu. Ga ada duanya. Aku suka semua hal tentang kamu; caramu berbicara, logat melayumu, caramu berjalan, caramu makan kuaci, kamu yang pinter ngomong, kamu yang pinter ngitung duit, caramu bilang “susu pink susu pink” atau “kecintaanku mana?” atau “alamakjaanng”… semuanya aku suka. Maafin aku yang suka bikin kamu jengkel ya la. Aku ga pernah bener-bener bermaksud nyakitin kamu. Jujur, aku seneeenng banget pernah sekamar sama kamu. Masa-masa sekamar sama kamu itu bakal jadi salah satu kenangan paling indah buatku. Aku pasti bakal kangen masa-masa itu. Makasih juga pernah ngajakin aku ke Salatiga, aku jadi pengen punya rumah di sana soalnya adeemm banget dan sepi, nyaman rasanya cocok buat bobo ciang, hehe. Ola, jangan sampe vertigomu kambuh lagi ya, sehat-sehat terus la. Aku dan temen-temen semua ga ada yang tega kalo liat kamu sakit kaya waktu itu. Sedih banget.
Oiya, setauku kamu juga suka nulis-nulis gini kan? Puisi yang pernah kamu kirim di grup kelas dulu keren banget la, masih inget kan kamu? *bukannanyasendiri* *nanyakeola* Bahasanya itu lhoo puitis dan Ola banget. Kalo kamu mau, aku bersedia kok jadi pembaca setiamu. Dengan senang hati. Oke la oke? Hehehe.
Luv you my bestbestbest! {}
Dan, untuk temen sebelah kasurku; Lia Atsniyah—orang ter-selow yang pernah aku kenal.
Lia itu zuper zantai banget orangnya—menurutku. Semuanyaaa dibikin selow; makan selow, mandi selow, jalan selow, belajar selow, buka pintu selow sampe tidur pun dia selow. Yang terakhir jangan sampe keblabasen li *hihihi*. Kadang aku gregetan sama Lia tapi lucu juga sih bahkan sampe sekarang belum ada yang nyaingin keselowannya dia. Tapi walaupun selow, selama di asrama Lia ga pernah sakit lho gaess, hehehe.
Lia yang aku kenal juga ga gampang panik karena sesuatu. Semuanya dihadapi dengan santai atau bahasa gaulnya woles. Aku ada satu kisah tentang kewolesannya Lia, mari kuceritakan…
Suatu hari di hari yang cerah, hpnya Lia ga ada di tasnya alias hilang. Dengan tenang Lia nyari-nyari hpnya tapi ga ketemu di mana pun dia cari. Aku ikut deg-degan takut hpnya beneran hilang tapi ga ada tanda-tanda kepanikan di wajah Lia. Lia masih sempet becanda ketawa-ketiwi sama temen-temen. Emang bener-bener sesuatu dia itu, bayangin kalo hpku yang hilang pasti udah—ah jangan dibayangin. Singkatnya, hpnya Lia ketemu di tempat fotocopy, alhamdulillah ga jadi hilang. Dan aku inget banget pas hpnya ketemu dengan gaya wolesnya Lia berkata “aku rak deg-degan soale wes firasat ngko pasti ketemu”.
Hmm oke, jadi kisah kewolesan Lia disponsori oleh f i r a s a t.
Wah keren ya, Lia yakin banget sama firasatnya, jadi dia ga keliatan panik bahkan masih bisa ketawa-ketiwi walau hpnya belum ketemu. Sepertinya aku emang harus banyak belajar ilmu kewolesannya Lia.
Li Lia, sayang banget ya kita udah ga bisa ngobrol bareng lagi sebelum tidur pas lampu kamar udah dimatiin, karena di kos nanti ada tembok yang menghalangi kasur kita. Aku bakal kangen masa-masa jadi temen sebelah kasurmu. Makasiiiihhhh banget udah super sabar selama jadi temen sebelah kasurku, dan makasih udah mau jadi temen baikku Li. Maaf ya li aku pasti banyak banget salahnya ke kamu. Aku bener-bener minta maaf tapi kamu harus tetep sabar sama aku ya li, hehehe. Tetep jadi temen baikku ya li, karena kalo ga ada kamu ga ada yang bisa diledekin eh maksudku kalo ga ada kamu—orang spesialku sekaligus orang yang kujadikan panutan bakal berkurang. Doakan semoga kita semua bisa berteman sampe di akhirat nanti ya Li. Oiya, makasih juga udah ngajakin aku ikut PMII dan ikut acara UPI waktu itu. Dua-duanya seruuu dan alhamdulillah ada pelajaran yang bisa aku pelajari pas ikut kegiatan PMII & UPI itu Li. Yaa, walaupun sampe sekarang kita belum pernah ke UPI lagi ya Li *huehehe*
Luv you Liaemon~ {}
and for the last but much necessary,
Putri Anjani; temen yang paling berpengaruh di masa perkuliahanku. Kalo kamu kebetulan lagi baca tulisanku ini, aku mau bilang terima kasih dan maaf Put, aku ga bermaksud membuka luka lama. Justru aku mau berterima kasih karena tanpa Putan, aku ga akan menyadari keburukan-keburukanku. Tanpa Putan dan temen-temen semua, aku ga akan belajar memperbaiki keburukan-keburukanku. Aku minta maaf karena aku pernah menyakiti kamu Put, aku bener-bener minta maaf atas semua yang pernah aku lakukan ke kamu. Aku sadar, semarah apapun kita seharusnya jangan sampe menyakiti orang lain. Aku janji sama diriku sendiri, aku ga akan seperti itu lagi.
Aku inget banget dulu Ola sama Lia pernah nyuruh aku cepet-cepet minta maaf ke kamu, ga peduli siapa yang salah. Tapi waktu itu aku terlalu egois, aku bilang ga mau. Onik pun pernah mengajakku untuk meminta maaf ke kamu, dia bahkan sudah mengingatkanku jangan sampe kita jadi orang jahat, tapi aku tetep menolak ajakan Onik. It was all stupid of me. Setelah aku pikir-pikir, hari-hari yang kujalani selama aku ‘bermain drama’ itu ga bikin aku bahagia sepenuhnya. Aku memang tertawa tapi tawaku terasa kosong. Aku merasa ada sesuatu yang mengganjal. Aku merasa kalo aku udah cukup keterlaluan. Aku menyesal betapa jahatnya aku waktu itu. Aku kaget sendiri kenapa aku dulu bisa setega itu. Itu seperti bukan aku. Aku merasa seperti jadi orang lain waktu itu. Aku seperti sedang bermain peran dalam sebuah drama. Ya, drama yang kubuat sendiri.
Kalo saat ini ditanya apa aku menyesal? Ya, aku menyesal. Tapi, aku bersyukur pernah mengalami kejadian itu. Karena aku yakin ga semua orang pernah diuji seperti itu oleh Allah. Aku menyesal tapi aku bersyukur, karena lewat kejadian itu Allah mengirimkan untukku orang-orang yang hingga hari ini menjadi teman-teman spesialku. Dan Allah juga memberiku banyak pelajaran hidup untuk aku pelajari. Dan tentu saja, itu semua berlaku juga untuk kalian—teman-teman spesialku. Ingatlah, just because you’re angry doesn’t mean you have the right to be cruel.
Setelah dipikir-pikir dan direnungkan, kalo ga ada ‘drama’ itu—lingkungan pertemanan kita pasti ya gini-gini aja. Ga akan banyak perubahan, mungkin. Aku ga bakal bisa kenal dan jadi deket sama Ola & Lia, dan Putan juga ga bakal deket sama Salsa dkk. Yang terpenting, aku ga bakal belajar gimana cara minta maaf dan memaafkan, aku ga bakal belajar untuk jadi dewasa, dan banyak sekali kalo dipikir-pikir pelajaran yang udah Putan dan temen-temen bagi ke aku. Dan aku yakin, super duper mega ultra yakin, Putan dan temen-temen yang lain juga pasti belajar banyak dari ‘drama’ itu. Emang bener apa kata orang, selalu ada alasan dibalik setiap kejadian. Dan bener kan, lihat aja sekarang—lingkungan pertemanan kita justru semakin meluas (alhamdulillah). Sedikit demi sedikit kita mulai saling ‘merangkul’ lagi. Dan beberapa konflik di dalam kelas—walaupun belum sempurna setidaknya mulai mereda dan ga sedingin dulu. Memang dunia akan semakin baik kalo manusianya bisa saling memahami dan memaafkan.
And last but not least, ada kutipan bagus nih dari om Allen Steele;
“We make stupid mistakes when we’re young; we do our best to make amends for them as we get older. We survive by learning; by learning we survive. Such is life. So be it.”
From now on, let’s make more and more GREAT memories Put! {}
See?
We are not exactly the same, we are quite different.
Kita berbeda dengan keunikan masing-masing. Dan dari keunikan itulah, masing-masing dari mereka mengajarkanku banyak pelajaran hidup. Bayangin kalo orang-orang beneran sama semua. Bagaimana jadinya dunia ini? Mungkin kita ga akan pernah merasakan rasanya perbedaan. Alhamdulillah, Allah menciptakan manusia ga ada yang bener-bener sama. Semua berbeda. Anak kembar identik pun pasti punya perbedaan. Bahkan, seluruh umat manusia di dunia ini ga ada yang sidik jarinya bener-bener sama, semuanya berbeda.
ما شاء الله
Ya, seperti yang udah aku bilang di awal, manusia itu seberagam itu. Tinggal masing-masing dari kita yang mau bagaimana menghadapinya.
Dan terlepas dari apa pendapat mereka tentang aku, aku ga pernah berhenti bersyukur dipertemukan dengan mereka melalui cara terbaik yang telah direncanakan oleh Allah. Memang rencana Allah itu selalu indah. Onik, Lele, Rima, Ola, Lia, Putan, mereka semua membantuku menemukan siapa diriku. Waktu SMP/SMA aku ga pernah memikirkan hal-hal semacam ini. Apa mungkin aku telat puber ya? *hmm* Duniaku dulu isinya komik, novel dan Taylor Swift. Tapi orang-orang yang kusebut tadi berbeda, mereka bikin tanganku gatel pengen nulis ngetik tentang mereka, mumpung liburan ini alhamdulillah akhirnya kesampean juga, walaupun mungkin mereka ga bakal baca. No problem.
Kadang sempat terlintas di benakku sebuah pertanyaan klasik seperti; kalo dulu aku lolos SNMPTN/SBMPTN apa aku bakal punya apa yang aku punya sekarang? Apa aku bakal ketemu teman-teman yang seperti mereka? Apa di sana aku bakal dapat pelajaran hidup sebanyak yang aku dapet di sini? Kalo aku di sana apa aku jadi semakin baik atau malah semakin buruk? Kalo aku di sana apa aku bakal sebahagia seperti aku yang sekarang?
Well, inget apa kata Rima; jangan kebanyakan berandai-andai!
Hadapi aja apa yang jelas-jelas ada di depan mata.
Bermain ‘drama’ di kehidupan yang singkat ini? It’s okay. Asal jangan sekedar bermain tanpa mendapatkan apa-apa. Kita harus pandai-pandai membuka hati dan pikiran untuk melihat ada pelajaran apa aja yang bisa kita ambil.
‘Cause knowledges are everywhere. But regret could last forever. #selfreminder
So, bermainlah dengan baik.
Makasih udah baca sampai akhir, semoga bermanfaat! {}
“Bersama mereka, aku belajar menemukan diriku. Bersama mereka, aku ingin belajar memperbaiki diri agar tak ada lagi hati yang kusakiti. Dan bersama mereka, aku mengerti bahwa pertemanan itu bukan melulu tentang mencari persamaan, tapi tentang bagaimana menyatukan perbedaan. Sampai jumpa di semester 5, girls! Untuk Onik: berbahagialah selalu” {}