Menyaksikan Kebaikan dalam Kematian
Katanya ukuran sukses kehidupan seseorang bukan karena diukur seberapa banyak harta benda yang didapatkan, bukan pula seberapa tinggi jabatan yang ia emban. Tetapi untuk mengukur apakah kita sudah cukup sukses dalam hidup ini, yaitu melihat bagaimana hari kematian kita berlangsung.
Dihari terakhir kehidupan kita, semesta akan memberikan bukti apakah kematian raga dan berpindahnya jiwa kita ini disambut dengan baik atau tidak. Saat mati itu tiba, yang bekerja adalah amal kebaikan yang pernah kita lakukan. Yang berhubungan dengan manusia akan berbentuk respon manusia pula. Dan yang berhubungan dengan Tuhan akan bertemu dengan sambutan kenikmatan alam barzah.
Aku jadi teringat momen ditinggalkan dalam hidup ku. Saat orang baik meninggal, akan ada orang baik lainnya yang akan bersaksi. Mengatakan tanpa ragu dan tanpa meminta imbalan apapun untuk mengatakan kepada khalayak umum bahwa orang dihadapan mereka telah mati meninggalkan jejak kebaikan. Tidak butuh menjadi terkenal, cukup menjadi diri kita yang berdampak saja bisa memberikan peluang kalau kematian kita bisa disambut hangat oleh para malaikat.
Menjadi baik menurut ukuran manusia memang tidak ada habisnya, karena standarnya terlalu rumit, sering menyebalkan dan masih saja berpeluang dianggap buruk. Tetapi jika kebaikan yang diniatkan dengan hati tulus dan berprinsip, aku yakin apapun bentuk persepsi manusia kebaikan itu akan tetap tersampaikan nilai baiknya.
Dan agar kebaikan itu tidak hanya terlihat berdampak dimata makhluk, maka kebaikan yang kekal tetaplah berlandaskan untuk mendapatkan kebaikan Allah semata. Karena disanalah muara bahagia dari apa yang kita tanam didunia.
Melihat banyak orang berpulang kepada Tuhan dalam keadaan baik, aku suka bertanya-tanya apakah aku bisa dan pantas mati dalam keadaan baik pula? Apakah dibalik duka orang-orang yang mengenalku terselip rasa cinta dibalik momen kehilangan, atau malah gembira karena kelegaan? Kalau dunia bisa melepas seseorang dengan lega karena tidak lagi terbebani oleh sifat angkuhnya, bukan kah alam juga tak sudi menerima begitu saja? Ancaman balasan atas perbuatan didunia akan terlihat sebagaimana didalam Al-Qur'an sampaikan. Dan jika kematian diri kita dilepas dengan duka berbalut cinta dan kesaksian, ada harapan kehidupan alam barzah akan terlihat begitu menyenangkan.
Dari perjalanan yang kita usahakan nilai kebaikannya ini, semoga kita bisa berada dibarisan orang-orang yang Allah cintai. Yang matinya dilepaskan dengan doa dan amal jariyah yang tiada putus, dan jiwanya disambut semesta dengan segala jenis kebaikan yang sudah Allah janjikan.
Banyuwangi, 8 Maret 2026 | nuritawa











