Pulang dari Makassar dengan kabar kondisi ibu yang terus mengalami kemunduran, saat itu pula aku sudah mempersiapkan perpisahan dengannya. Jauh-jauh hari bayangan ibu akan pergi terlintas begitu jelas di kepala ku. Seperti bagaimana saat ibu harus pergi tanpa berpamitan, atau mungkin ibu pulang dengan memberi kabar dari berbagai pertanda.
Bukan berharap ibu pergi lebih cepat, tapi siapa yang bisa menyangkal jika kematian bisa datang kapan saja? Bahkan sepanjang perjalanan menemani ibu, aku sering membayangkan aku duluan yang pulang. Tapi aku tak pernah sanggup menghadapi scene itu berputar dalam kepala ku.
Sampai suatu ketika kalimat perpisahan itu pernah terucap dalam obrolan kami berdua, “biar ibu aja yang meninggal duluan. Biar kamu punya pahala mendoakan ibu.” Sampai menuju maut saja ibu masih sibuk memikirkan hidup ku.
Tepat di tanggal ini, pagi sekali setelah shalat subuh aku menuju pintu ICCU. Kaca tebal yang mengelilingi ruangan itu terasa dingin sekali. Kabut yang menutupi setiap celahnya tidak memberi kesempatan apapun yang terlihat kondisi didalam. Hari itu saat aku melangkah ke ruangan, terbesit harapan untuk kembali hidup. Maklum dalam seminggu aku kehilangan diri sepenuhnya.
Ingat sekali, di hari itu aku berencana akan membaca buku kembali. Aku akan mencuci baju-baju yang tertumpuk selama seminggu, mungkin jika sempat aku akan menyapu rumah dan membersihkan tempat tidur ibu setelah aku selalu kehilangan kendali apa yang perlu aku kerjakan setiap hari.
Harapan itu muncul begitu indah, apalagi sesaat sebelum mengunjungi ibu aku terbangun dari tidur tak sengaja setelah shalat subuh. Suara khas ibu ku terdengar mengaji dalam mimpi, seperti yang sering ku dengar sejak kecil saat aku memilih tidur diatas sajadah disamping ibu mengaji.
Satu pintu dua pintu terlewati, aku dihadapkan dengan selang infus, pengalir oksigen dan segala bentuk kabel melekat ditubuhnya. Alat monitoring terus berderit menunjukan kondisi ibu terkini, dilayar monitor aku membaca derap detak jantung, kadar gula sampai saturasi oksigen ibu saat itu. Kondisi cukup menenangkan dan membuat ku optimis dihari itu ibu akan sembuh lebih cepat.
Aku mengajak ibu berbincang sedikit, sampai pada akhirnya aku harus mengatakan kalimat yang cukup berat untuk dikatakan, tapi aku sangat sadar kalimat itu harus terucap.
“Mak, apa yang sakit?” kalimat basa-basi yang sering ku tanyakan saat melihat ibu dalam kondisi tidak baik-baik saja.
“Mak, kasih tau Rita mana yang sakit?” Aku merasakan air mataku mengalir perlahan tapi dengan cepat ku usap tanpa ampun.
“Sakit, ya, Mak? Mak kalau mau pamit pulang, nggakpapa Mak. Mak Pulang duluan.” terjenggal suaraku ditenggorokan saat kalimat itu terucap, “jangan khawatirkan Rita. Ada Bapak yang bakal ngurus Rita.”
Ibu merespon dengan cepat, napasnya panjang membuat badannya sedikit terangkat, sesak napas sampai membuat layar minitor dan suara seperti alarm ruangan berbunyi. Reflek aku mendekatkan kepala ditelinga ibu, men-talqin dan menggiring untuk menyebut asma Allah. Entah, kenapa aku begitu tenang tanpa rasa panik menghadapi kejadian itu. Tak lama kemudian para perawat dengan cepat membuka pintu, mempersilahkan aku untuk segera meninggalkan ruangan.
Keadaan membaik, tapi kulihat wajah ibu sudah tidak seperti biasanya. Hari itu ia jauh lebih cerah. Dalam langkah meninggalkan ruangan aku berharap semua akan membantu kondisi ibu lebih baik. Tiba-tiba aku teringat satu hal. Lupa memegang kaki ibu. Kebiasaan yang sering ku lakukan setiap kali bertemu.
Kata orang jika suhu kaki sudah berubah, maka kondisi seseorang bisa juga berubah. Saat sakit rasakan suhu kakinya, saat sehat perhatikan pula suhu kakinya, dan katanya saat seseorang akan bertemu ajalnya, ruhnya akan terlebih dulu meningglakan jasad dari kakinya.
Selang 21 hari setelah hari kelahiran ku di tanggal 6 Maret, ibu berpulang. Kembali pulang kepada Allah. Beliau sepenuhnya milik Allah. Benar apa yang ku duga, Ibu akan sehat di hari itu. Tidak akan ada rasa sakit dunia yang akan ibu hadapi.
Dan mulai saat itu dunia ku benar-benar berubah. Tidak ada yang baik-baik saja. Setiap hari aku memintal benang bernama rindu, setiap saat aku berusaha berdamai meski aku terus berusaha untuk ikhlas dan ridha. Tapi siapa yang bisa mengukur hati? bahwa kesedihan itu tetap melekat dalam jiwa seorang anak yang ditinggal mati ibunya.
Ternyata tahun sebelumnya yang sudah ku persiapkan menyambut hari ini tiba, tidak cukup mampu membuat ku kuat menghadapinya. Bahkan aku lebih payah dibanding orang-orang yang tidak pernah mempersiapkan kehilangan.
Seberapa siap kehilangan itu disiapkan, kenyatanyaan tidak ada yang pernah siap menghadapi kehilangan. Rasa penyesalan belum menjadi anak yang baik, rasa kurang ku yang belum mampu memberi kebahagiaan seorang anak kepada ibunya terus saja menghantui ku.
Tapi setidaknya dihari itu aku sudah menepati janji untuk merawat ibu dan mengurus jenazah ibu sampai ke liang lahat. Seperti kalimat yang sering ku katakan sejak kecil.
“Mak nggak usah khawatir, nanti yang mengurus Mak itu Rita.” Rita kecil begitu optimis dengan impiannya, meskipun ia tidak tau apa resiko yang akan dihadapi. Di hari itu satu cita-citaku diijabah Tuhan, merawat ibu sepenuhnya, memandikan ibu sampai di hari akhir hidupnya, dan akhirnya mengkhantarkan ke peristirahatan terakhir, tempat awal mula pertemuan abadi itu dimulai.
Sekarang Rita yang terkadang masih menjadi anak kecil ini ingin tetap bercita-cita. Bertemu kembali dengan ibunya dialam akhirat, ditempat terbaiknya Allah, di syurga yang paling indah. InsyaaAllah..
Allahummaghfirlaha Warhamha Wa’afiha Wa’fuanha..