Tatkala matahari merangkak ke peraduannya di ufuk barat, suara merdu lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an senantiasa menggema di setiap sudut ruang pesantren Al-Hidayah, Tulungagung. Para santri sejatinya tengah melangitkan berjuta harapan yang saling beradu berebut mengharap maghfiroh serta rahmat dari-Nya sang pemilik Ar-Rahman, pemberi nikmat yang agung, dan Ar-Rahim pemberi nikmat segala kelembutan.
Daun-daun kering pohon mangga terhempas bergerak mengikuti arah angin yang lumayan kencang di satu senja di pukul lima. Semakin sore langit semakin menampakkan warna jingganya yang merona, memanjakan panca inderaku yang sedari tadi hanya duduk bersila bersama lamunan kosongku yang tiada guna.
Mengiringi perjalanan senja menuju singgasananya sayup-sayup kudengar salah seorang santri tengah menderas surat Ar-Rahman dan membuyarkan lamunanku memaksaku tenggelam dalam ritmenya yang tenang. Ayat demi ayat ku simak diam-diam bersama gerakan pelan bibirku pertanda turut melafalkan. Hingga tiba di ayat ke sebelas "fiihaa faakihatuw wan nakhlu dzatul akmam" seketika memecah kekhusyu'anku dari menikmati irama nahawand yang di langgamkan.
Aku terpaku, fikiranku bergemuruh dan hatiku mengeluh. Bukan !, bukan karena ayatnya yang tengah menceritakan suatu ancaman atau siksa neraka. Sebab jelas-jelas maknanya menggambarkan suatu nikmat keindahan yang Tuhan ciptakan. Lantas sebab apa ayat yang begitu penuh unsur rasa syukur seperti itu mampu mengoyak gejolak bathinku seperti ini ?
Ya, ini karena sosok seorang gadis pemilik nama yang tuturnya dahulu padaku namanya di ambil dari ayat tersebut.
Dia Nakhla, Nakhla Bidzati Akmam, pohon kurma berkelopak mayang. Nama itu, bagiku mempunyai daya pikat luar biasa. Nama itu, mendengarnya saja membuat degup jantungku terasa berdetak lebih cepat, karena kini dia yang teristimewa dan diantara semua yang ada hanya dia yang membuatku terkesima.
"Drrt...drrt...drrrrt" Handphoneku bergetar diiringi ringtone bernada whistle yang khas menandakan ada pesan whatsapp yang masuk. Kuambil handphone yang berada di saku kemeja kokoku, nampak sebuah pesan dari pemilik nomor berfoto profil senyum cerah dalam balutan hijab berwarna merah, menambah ayu matanya yang bulat dan wajahnya yang indah bak wanita arab.
Aku buka pesan dari Nakhla tersebut. Sebuah kiriman foto dimana dua orang gadis sedang bersama dengan salah satunya tengah menggendong seorang bayi mungil.
"Kita kapan punya kayak gini hihihi?" Tulisnya dalam keterangan foto.
"Hehehe, semoga, insyaAllah" Balasku cepat sambil tersenyum bahagia. Bahagia karena mengingat cinta dalam diamku selama dua tahun kini berbalas. Tapi entah, kebahagiaan ini berselimutkan apa, hingga gugu, kelu serta sedu tak mau berhenti dari caruk maruk hatiku.
Hari kian petang, takbir adzan maghrib menggema mengagungkan kebesaranNya Tuhan seluruh alam. Cepat-cepat aku mengambil wudhu, bergegas menjadikan sholatku sebagai sarana pengaduan rindu juga pilu. Aku sedang tak ingin berjama'ah saat ini.
"Assalamu'alaykum warahmatullah, assalamu'alaykum warahmatullah" Kuakhiri ritual penghambaan. Dzikir tasbih, tahmid, dan takbir mewarnai isytighol wiridku petang itu. Lanjut ku tengadahkan telapak tangan, shalawat serta salam untuk junjunganku baginda Muhammad صلعم senantiasa mengiringi do'a-do'a yang kurapalkan.
"Yaa 'alimu sirri wal 'alaniyah, di atas sajadah ini aku tumpahkan segala resah. Berfikir tentang kisah di masa mendatang, sambil bertanya dengan kerangka pertanyaan tak berarah, aku harus bagaimana atau bagaimana keharusan itu untukku ?. Tentang dia yang selama ini mampu menembus setiap kata yang tak mampu untuk aku lafadzkan dalam tiap do'a-do'a. Meski do'aku telah ku lengkapi dengan taji paling sakti untuk menepis bayangnya dan mengusirnya dari kenang, tapi dia tetap tak bergeming, malah dengan merah sembab pipinya meneluhku untuk tetap bersamanya dalam bayang, Allah..."
"Mas, Mas Bani, sudah selesai kah sholatnya ? dipanggil Abah dan Ummi di ruang tengah !!" Pekik adik perempuanku dari luar memanggilku untuk segera menyudahi segala pengaduan.
Dengan tenang langkahku menuju ke sebuah ruangan di mana kitab-kitab turats berjilid-jilid berjejer rapi mengisi tiap rak di dalam lemari kaca. Tampak Abah duduk di atas kursi rotan panjang ditemani Ummi disampingnya yang masih memakai mukenah berwarna biru tua. Aku duduk di kursi depan Abah yang terpisah oleh meja dengan wajahku yang tertunduk penuh ta'dzim.
"Gimana Le, ?" Tanya Abah dengan nada yang lembut namun urat-urat wajahnya nampak tegas. Menggambarkan sifatnya yang penuh kasih tapi keras saat keinginannya ditentang.
Duh Gusti, harus ku jawab apa pertanyaan itu ?, sejak kecil aku sudah diajari untuk patuh terhadap orang tua, tidak membantah nasehatnya dan jangan sampai melukai perasaannya. Sesuatu yang sampai saat ini ku pegang teguh hingga mendarah daging dan mengalir sampai tulang sumsum.
Setelah berbincang-bincang dengan Abah dan Ummi ba'da maghrib tadi, seperti malam-malam biasanya ba'da isya' waktuku menemani kang-kang santri mengaji selepasnya aku memilih mensibukkan diri dengan kumpul-kumpul sambil ngopi-ngopi. Hitung-hitung melarutkan nestapa bersama ampas kopi dan menandingkan segala himpit gelisah dengan pekat dan kentalnya. Duh, lekaslah halau resah ini Gusti !.
Malam semakin larut, waktu menunjukkan pukul 01.45 dini hari. Kurebahkan tubuhku diatas tempat tidur, pandanganku menatap dalam-dalam plafon kamarku. Ah ! tak berapa lama saja aku sendiri rindu langsung datang mencumbu, wajah Nakhla terngiang, namun fikiranku mengambang antara cinta atau ridho orang tua. Cinta yang padanya aku selalu mengikrarkan rindu, atau kepada ibu yang pada restunya terdapat sebuah syurga dan pada sosok seorang ayah yang selalu siap menanggung letih karna cinta pada penghangat rumahnya.
Tak mau dalam terlarut aku beranjak dari tempat tidur untuk mengambil wudhu. Belum sampai lima langkah kakiku, handphoneku berdering, lagi-lagi pertanda pesan yang masuk. Duh aku enggan membukanya, sengaja sedari tadi aku menjauh dari barang elektronik itu karena aku takut dan tidak siap. Takut jika aku tahu ada balasan pesan dari Nakhla dan tidak siap harus membalasnya seperti apa.
Tetap saja rupanya hatiku penasaran dan mendorongku untuk membukanya. Berderet-deret pesan dengan tanda hijau bulat yang belum terbuka salah satunya dari Nakhla tentunya. Dan tertera dia tengah online di jam segini.
"Hehehe, jangan memberi harapan palsu dengan memperkosa kalimat insyaAllah Gus" Balasnya tadi siang.
"InsyaAllah tidak Nakhla" Balasku cepat takut dia keburu offline
"Tuh kan insyaAllah lagi hihihi"
"Hehehe bagaimana ?" (Maaf)
"Perempuan butuh kepastian Gus, agar aku tahu apa yang harus diperjuangkan atau agar aku tak menaruh harapan pada apa yang akhirnya jua aku harus melepaskan"
Deg, aku tersentak oleh balasan itu dan resahku kembali bertahta disela sunyinya malam. Seandainya dia tahu, tentang hasratku yang selalu ingin memasungnya dalam sempurnanya maya dan nyataku.
"Ah, udah ah, jangan dibahas dulu, aku rindu Gus, hehe" Imbuhnya di pesan.
"Ana uriid, anti uriid, wa Allahu fa'alu lima yuriid" Balasku sekenanya sesuai dengan apa yang ada dalam fikiran.
"Maksudnya Gus ?" Pesan Nakhla yang hanya kubaca dan sengaja tidak kubalas.
Aku simpan handphoneku dan mencoba berdamai dengan rasa bersalah karena telah mengabaikan wanitaku, memberinya rasa penasaran dan juga berbagai macam pertanyaan atas sikapku yang tak kunjung aku memberi jawaban. Maaf, kau rindu aku termenung, kau menunggu aku bingung.
Di sepertiga malam sujudku diantara bentangan sajadah tua aku sedang menyantap dilema. Di malamMu aku bersimpuh bersama puncak dzikirku melebat di antara lafadz jallaluh. Mencoba mengurai kusut dalam gelora do'a-do'aku yang runtut. Tenggelam dalam riuh resah bathin yang harus bagaimana aku memberi keputusan.
Selamat pagi untukmu hari, mana mentarimu pagi ini ? mengapa langitmu tampak mendung ?, padahal baru kemarin mentarimu mempesonaku dengan sinarnya yang khas di musim hujan. Apa kamu iba melihatku begini sampai kau rela menemani ?.
Di atas shofa kecil aku duduk bersama mushafku ditangan ditemani gemericik air kolam yang berisi ikan-ikan hias di teras belakang rumahku, menunggu Ummi yang katanya minta disimakkan hafalan Al-Qur'annya. Tak lama Ummi datang, surat An-Nisa' yang kali ini beliau nderas. Ayat per ayat aku semak dengan teliti hingga kalimat shodaqallahul'adzim menjadi penanda beliau usai muroja'ah.
"Ummi dan Abahmu ini begitu ingin anaknya belajar ilmu keislaman di negerinya para Auliya', ingin kamu menjadi ahlul ilm, berharap nantinya kamu bisa menjadi orang yang manfaat dunia akhirat seperti para ulama'-ulama' besar pendahulumu. Bakti kepada orang tua wajib Ban, dan menuntut ilmu pun juga wajib atas semua muslim, selaraskan keduanya agar ridho Allah turun merahmatimu. Ingat Ban, ridhonya orang tua adalah ridhonya Allah, dan marahnya orang tua adalah marahnya Allah. Kalau memang jodoh tidak akan kemana, kalaupun saat ini kamu tidak bisa bersama dengan orang yang kamu cintai, maka nanti insyaAllah kamu tetap akan bersama dengan seseorang yang nanti kamu cintai juga, faham le... ?"
"Inggih Mi" Jawabku sambil mengangguk faham sekali tentang apa yang beliau sampaikan, yang secara tidak langsung itu adalah keinginan beliau yang beliau harapkan padaku untuk aku menurutinya. Dan inilah inti dari perbincanganku semalam bersama Ummi dan Abah di ruang tengah, mereka ingin aku menjadi seorang yang tidak mungkin serta merta bisa kudapatkan tanpa tholabul ilmi terlebih tanpa pangestu dari orang tua.
Sejurus kemudian fikiranku yang dari kemarin kacau menjadi tenang. Kurasa telah kutemukan jawaban dimana hati ini menemui kemantapan.
Maaf pagiku yang malang, terimakasih telah menyuguhkan kelam, semoga tangisku mampu kulecutkan menjadi energi yang lebih baik agar tak menambah rasa sakit.
Maaf pagiku yang pucat, sampaikan pada Nakhla permintaan maaf pada wajahnya yang embun dan sejuk segar senyumnya yang kuntum. Maafkan aku yang tak bisa lagi membiarkan sukmamu bermain dan mengisi kebekuanku dan tak lagi mewiridkan namamu dalam setiap detak, gerak dan getar dari masing-masing penginderaku.
Padamu pagiku yang sendu, sampaikan pada Ayah dan Ibu, maafkan lelakuku yang kadang masih memicu emosi yang kini kusadari peluk dan pangestumu menjadi pendulum waktuku yang abadi.
Dan semoga bulir air mata ini menjadi tirakat atas pengorbananku dalam menggapai ridhoMu.
Copyright © Hikmatul Hidayati