IBU PENJUAL JAMU dan anaknya yang sudah berusia tiga puluh. Angin semenjak petang bukan hanya menerpa sesuatu yang lusuh, namun juga membuat perut mudah sekali lapar. Kupesan kunir asem dan semangkok mie goreng tambah cabai, biar lebih asoy~
Di sebelah kanan pintu masuk pasar, aku menunggu. Sedang si Ibu memotong-motong asem dan gula merah, dia menyuruh anaknya menghidupkan tungku. Berbahan dasar plastik dan kayu, pria itu terus mengibasi dengan kipas beranyam bambu.
Ternyata, aku adalah pelanggan pertama. Mereka terlambat melapak.
Hiduplah bara. Si Anak menaruh cerek ke atas tungku dengan agak tergesa. Kemudian, ia tampak cekatan menaruh sekardus gelas di samping gerobak jual, dekat dengan piring dan juga seember akar dan dedaunan bahan jamu serta bongkahan gula merah. Selepas itu, dengan langkah kaki yang diseret, ia menyuguhkan pula beberapa kudapan.
Sembari menunggu pesanan, aku periksa beberapa hal yang ada di tentangku. Di seberang jalan, kulihat beberapa orang sibuk menyiapkan peralatan musik. Ada gitar listrik, keyboard, drum, beberapa mikropon kabel. Seperti biasa, Minggu malam, akan ada panggung jamming.
Jika saja tak ada tiga kepala yang nongol tepat sepelemparan ludah dariku, pasti aku akan melihat secara leluasa para musisi tersebut.
Eh brengsek, mereka masih malah sempat bergurau dan saling lempar ejek.
Jamuku belum juga datang, ketika pelanggan nomor dua, sepasang muda-mudi memesan kunir jahe dan kunir asem lainnya. Pasangan itu duduk selonjoran agak jauh di samping kananku. Mereka tampak cukup modis. Si perempuan memakai jeans biru gelap ketat dengan beberapa sobekan yang disengaja di dengkul, dan berbaju hitam lengan panjang, yang lain, berjaket hoodie hitam polos dilengkapi celana kargo.
Beberapa pasangan turut hadir, duduk di jok sepeda motor yang terparkir di sebelah trotoar. Seperti dunia hanya milik mereka.
Sebelum tembang nomor pertama diputar, si vokalis menyapa para hadirin. Setelah ritus kesopanan tersebut, lantunan nada-nada tahun 1990-an mengalir bebarengan dengan rasa nostalgik.
Namun sayangnya, suasana rindu-syahdu itu sedikit terganggu. Si vokalis tak bisa meraih nada tinggi dan terkadang lupa lirik — padahal dia membawa catatan lirik lagu. Satu-dua senandung terdengar asing bagi telingaku.
Mungkinkah ini ilusi, yang menggoda dalam hati
Biarlah ini terjadi, aku tak peduli
Jangan datang-datang lagi, derita ini dalam hati
Biar bahagia ini tetap kumiliki
Hadirin mulai bertambah. Terdiri dari tiga pasangan, dua jomblo dan sepasang ibu dan anak. Telah berserakan mengelilingi. Ada yang menikmati, ada yang lebih peduli pada gawai atau sepertiku, mencoba merekam dan mencatat tiap detail yang lewat sepintas sepi.
Mie goreng dan jamuku akhirnya datang. Menyantap mie instan, bersanding kunir asem, diiringi alunan musik pop zaman Orba adalah sebuah kombinasi yang tak terkira.
Pelanggan si Ibu belum ramai juga. Hanya ada aku dan sepasang kekasih yang sedari tadi di sana. Memang ramai kalau yang datang turis, katanya, tapi memang begini-begini saja. Seperti biasa: sederhana.
Kencangnya angin mulai mengendur saat bibirku mulai lecap dan muncul ruam keringat di wajah, menikmati mie goreng. Kuresapi rasa micin yang muncul, tak sengaja kugerus potongan cabai. Pedas bangsaat!
“Jangan lagi bilang cinta aw aw aw/ Tiada lagi/ Jangan lagi bilang cinta aw aw aw~.”
Mendengar lirik tersebut, dahiku mulai sedikit mengerut, kunyahanku melamban, sesekali pandanganku meneropong jauh ke titik cahaya merkuri lampu. Entah saat itu aku berpikir apa. Yang pasti, waktu seperti beku.
Setelah mie goreng tandas dan lanjut mereguk minum, aku menyalakan sigaret. Tampak, si Ibu ternyata juga mengebul khusyuk.
Pertanyaan ampuh yang sering kupakai untuk membuka percakapan, “tutup jam berapa?”, menghujam begitu saja dari cangkem ini. Kami pun ngobrol hingga ada seorang tua, tampaknya warga sekitar sini, yang memesan kunir jahe manis.
Darinya, aku tahu bahwa dia adalah generasi ketiga yang meneruskan bisnis ini. Dulu masih bertiga, sebelum suami meninggal akibat hipertensi. Mereka melapak dari ba’da Isya hingga empat dini hari.
Jangan lagi bilang cintaaaa~
Langit penuh bintang-gemintang telah tergantung di atas umbul-umbul. Hanya berlapiskan baju dan kemeja, angin dingin menembus sampai tengkuk. Aku bayar pesananku, dan berbalik pulang. Bersiap memikirkan kembali hal-hal yang menjadi perlu.[]
=====
Cerita ini aku post pada 5 Agustus 2019 di https://medium.com/@artji.ananta. Blog sementara pada masa lalu, yang hari ini tak bisa kubuka.