Tidak terasa #challengeramadan ini tinggal beberapa hari lagi sampai nanti tanggal 16 Mei 2020 tiba, entah apa yang saya pikirkan waktu ingin mengadakan tantangan ini, saya pikir akan seru sekali mengisi Ramadan dengan berbagi cerita sembari menstimulasi jari, memberikan kesempatan kepala untuk berpikir, “ternyata menulis semenyenangkan ini, mau menulis apa lagi ya sekarang?”.
Tentu ada beberapa respon yang masuk, ada yang benar-benar konsisten dari awal, tapi tak jarang pula yang bilangnya mau ikut tapi mengurungkan niatnya, tentu mereka punya alasannya tersendiri, yang saya tidak perlu tahu dan saya tidak mau tahu.
Hanya saja hal ini membuat saya mengingat dan menganalisis bahwa kejadian ini tak jauh beda meski tak bisa disamakan sepenuhnya dengan kejadian dimana seseorang yang sedang mencari pendamping hidup, lalu dia berterus terang kepada para lawan jenis yang sedang mendekatinya, bahwa dia sedang mencari pendamping hidup, syaratnya hanya setia, konsisten serta berkomitmen dari awal bersama sampai maut memisahkannya. Tentu ada yang bilang sanggup, bersedia untuk berkomitmen di awal, tapi setelah proses semakin mendekati hari-H tiba-tiba dia mengurungkan niatnya, itu kalau tidak mengingat kembali perihal ‘berharap jangan kepada manusia’, tentu akan kecewa berat, akan berpikir apakah ujian harus seberat ini, dan lain sebagainya.
ditinggal kabur saat hari-H pernikahan, atau ditinggal ketika sedang sayang-sayangnya sama perihnya dengan cerita saya di paragraf kedua, kalau memang dari awal tahu porsi diri tidak sanggup, ya sudah mestinya tak perlu berkata sanggup, kesanggupan itu seolah memberikan harapan tinggi kepada seseorang tapi ternyata hal itu adalah palsu. Belajarlah untuk menjadi seseorang yang bisa dipegang ucapannya dengan tidak menarik ulang kata-katanya.
Seperti peribahasa Jawa, “Ajining diri soko lathi, ajining rogo soko busono. Artinya, harga diri seseorang dari lidahnya (omongannya), dan harga diri badan dari pakaian.”
Tapi ya sudahlah, manusia memang bukan tempatnya untuk berharap, saya kembali menertawakan diri saya sendiri yang kadang lupa niat awal mengadakan tantangan ini, yaitu untuk mengajak teman-teman bersama mengisi Ramadan dengan berbagi cerita sembari menstimulasi jari, memberikan kesempatan kepala untuk berpikir, “ternyata menulis semenyenangkan ini, mau menulis apa lagi ya sekarang?”.