grep option)
-c: 팬턴의 행을 출력함
-i: 대소문자 무시하고 찾음
-v: 찾고자 하는 패턴이외의 것만 출력
-n: 행의 번호와 팬턴의 행을 출력
-l: pattern이 포함된 file의 이름을 출력한다
-w: 패턴과 행이 완전 일치하는 경우에만 출력
(grep [option] ‘patter’ *--> *는 전체의 의미, 즉, 행당 pattern을 현재 dir에서 찾을 때, 사용함)
wc file-->file의 라인, 단어 문자의 수를 출력 해준다
wc option)
-c: 전체 문자의 수 출력
-I: 전체 라인의 수 출력
-w: 전체 단어의 수 출력
head file: file에 대하여 10행까지만 출력한다 (미리보기)
tail file: file에 대하여 마지막 10행을 출력한다.
tee file: 화면에 출력하는 내용을 file에 저장한다
(pwd의 절대 주소를 list.txt에 바로 저장하는 것)
Akhirnya tiba saatnya aku pulang ke Bandung, barang-barang sudah kubereskan, aku sudah siap, tinggal berangkat. Aku pulang naik kereta, sudah memesan tiket pukul 17.00 sedangkan sekarang masih pukul 11.30, masih lama sekali memang, tapi aku pikir bersiap lebih awal tidak ada salahnya. Setelah semua beres, aku rebahkan badan di kasur, sambil menerawang kejadian beberapa hari ini. Dadaku mulai sakit ketika mengingat kejadian tentang Bang Dito, lalu hilang sedikit digantikan tawa geli yang menggelitik dada ketika mengingat Richard. Sepertinya pertemuanku dengan Richard sedikit banyak mengobati hatiku. Ha ha. Ketika asyik melamun, tiba-tiba hp-ku berbunyi membuyarkan segalanya. Ah, ternyata papa, menanyakan aku pulang jam berapa. Setelah selesai berbicara, aku tutup telefon dan berniat untuk melanjutkan lamunanku. Belum lama aku melamun, hpku berbunyi lagi, lagi-lagi membuyarkan lamunanku. Setelah kulihat ternyata nomer tidak dikenal. Pasti panggilan kerja nih. Aku langsung duduk mengambil posisi agar enak mengobrol.
~~~
"Halo, selamat siang."
"Siang, kamu kok gak bilang sih kalo lagi di Jakarta?"
Lah, siapa nih? Kok tahu nomerku? langsung nembak pula.
"Maaf, ini dengan siapa ya?"
"Imam. Kamu di mana sekarang?"
~~~
Bagai ditusuk belati, dadaku langsung terhenyuk kaget. Pantas saja suaranya sedikit aku kenali. Imam? Tahu nomerku dari mana? Kita sudah lama tidak berhubungan. Dia, mantanku.
~~~
"Kamu kok gak bilang sih ra?" tanya Imam.
"Aku gatau nomer kamu, mam. Nomernya hilang. He he." jawabku
"Sekarang kamu di mana?"
"Depok."
"Tinggal di sana apa gimana?"
"Numpang, he he. Tapi ini udah mau balik ke Bandung kok."
"Kapan? Naik apa?"
"Ntar jam 5. Naik kereta dari Gambir."
"Kamu tuh ya, datang gak bilang-bilang. Gataunya udah mau pulang lagi aja. Yaudah, aku temenin kamu nunggu ya. Sekarang lagi di mana? Mau aku jemput?"
"Kostan, gak usah! Ketemu di Gambir aja. Bentar lagi aku pergi."
"Oke."
~~~
Ada gerangan apa tiba-tiba Imam menghubungiku. Memang sih sebelumnya aku tahu kalau dia kerja di Jakarta juga. Tapi apa urusanku? Dia mantanku, yang sebenarnya ingin aku lupakan. Mantanku semasa SMA. Mantan yang membuat aku pergi meninggalkan Adhi.
Aku ambil ranselku, keluar dari kamar dan menaruh kunci di tempat yang tidak orang lain tahu. Aku kirimkan ucapan terima kasih pada Maul yang sudah dengan baik hati berbagi kasur denganku, diapun membalas dengan perasaan tidak enak karena tidak bisa mengantarkanku ke stasiun. Aku pikir merepotkannya saja sudah lebih dari cukup. Dia memang salah satu sahabat terbaikku. Aku mulai berjalan menuju stasiun dekat kostan Maul, naik Commuter Line menuju Cawang untuk dilanjut dengan TransJakarta menuju halte Gambir. Dari Depok ke Gambir memang cukup jauh, makanya aku berangkat jam segini. Jam menunjukkan pukul 12.05. Matahari sedang di puncak-puncaknya, perasaan kesal dan bete karena berkeringatpun mulai menghampiri. Aku memang paling tidak suka jika kepanasan. Lebih baik kedinginan daripada kepanasan. Keluhku dalam hati.
Setelah menghabiskan waktu 1 jam setengah di perjalanan, akhirnya aku sampai juga di halte Gambir 1. Imam bilang dia menunggu di restoran cepat saji di dalam stasiun. Aku bingung, merasa canggung karena sudah lama tidak bertemu dengannya. Aku berjalan menuju restoran itu, kulihat dari jauh dia duduk sambil melambaikan tangan kepadaku, menyuruhku untuk berjalan ke sana tanpa ragu. Aku pun menghampirinya dan duduk di depannya.
~~~
"Sudah makan?" tanyanya. Rasanya masih sama seperti dulu, hangat.
"Mmm.. Sudah sih tadi pagi."
"Jam berapa?"
"10an kayaknya."
"Udah lama atuh itu mah. Sekarang makan ya. Mau mesen apa?"
"Gak usah."
"Gak! Aku maksa. Kamu kan mau ke Bandung, masih suka masuk angin kan? Pokoknya harus makan dulu. Aku pesenin ya."
~~~
Kenapa dia masih perhatian? Padahal hubungan kita berakhir sudah cukup lama, hampir 2 tahun yang lalu. Tapi perhatiannya masih tetap sama dan hangat seperti dulu. Aku rasa dia memang pribadi yang sudah berubah, tidak se-arogan dulu. Dia sudah berubah, menjadi seorang pria hangat, malah semakin hangat. Tidak lama Imam datang membawa makanan, menu yang sama yang selalu kita pesan jika datang ke restoran ini. Kebetulan kah? Atau memang sudah direncanakan? Aku tidak tahu. Yang pasti aku sedikit senang bertemu dengannya.
~~~
"Kamu kok tahu aku di Jakarta? Dapat kabar dari mana?" tanyaku memulai pembicaraan.
"Tria, tadi aku lihat dia mention-mention-an gitu di twitter bareng Dilla, mereka bicarain kamu yang katanya lagi di Jakarta. Terus aku tanya Tria nomermu, aku telfon deh."
"Ohh.. Kamu udah lama kerja di sini?"
"Baru 4 bulan, dari sebelum wisuda. Kamu kemarin wisuda kebagian hari Jum'at ya? Pas hari Sabtu mama nanyain kamu. He he."
"Iya. Papa juga nanyain kamu."
~~~
Kamipun terlarut dalam obrolan mengenai kenangan masa lalu dan semasa kuliah kemarin. Imam mantanku sedari SMA ini juga satu kampus denganku namun beda fakultas. Aku masuk Fakultas Ekonomi dan Bisnis, dia masuk Fakultas Ilmu Terapan. Padahal aku anak IPA dan dia IPS. Sebenarnya Imam itu D3, harusnya sudah lulus dari tahun kemarin, tapi katanya dia sempat vacum ketika mengerjakan tugas akhir, sehingga waktu yang digunakan terbuang percuma. Kamipun lulus bareng, November kemarin tetapi beda hari.
Sebenarnya aku dan Imam bisa dibilang adalah pasangan yang cocok. Selama 3 tahun SMA, aku tidak memiliki mantan selain dia. Dia itu perhatian dan memang baik banget, hanya saja sifat dia yang kekanak-kanakan dan arogan yang membuat aku memutuskan untuk berpisah dengannya, awal semester 3 kemarin. 3 tahun 10 bulan dari umurku aku habiskan dengan hidup bersamanya. Walau sempat balikan, kami rasa kami memang belum berjodoh, Hingga akhirnya saat ini tiba.
Sudah menunjukkan pukul 16.20, tidak terasa banyak sekali yang kita bicarakan. Aku mulai beranjak dan berjalan menuju peron. Imam tidak bisa mengantarkanku sampai naik kereta, dia hanya mengantarkan sampai depan.
~~~
"Kamu hati-hati ya. Besok-besok kalau ke sini lagi kasih tahu aku. Kalau lagi santai, nanti aku temenin. Kalau udah sampai Bandung, kabarin ya." katanya sambil mengelus manja rambutku.
"Iya. Aku masuk ya."
"Pengen peluk deh. Boleh gak? He he." tanyanya
"Maluuuu.."
"Ha ha, yasudah. Hati-hati ya." katanya sambil memelukku.
~~~
Gat!! Dia beneran meluk aku, di sini, di stasiun, depan bapak satpam, depan banyak orang! Aku malu!! Tapi terasa tenang. Entah mengapa dipeluk olehnya selalu memberikan ketenangan bagiku. Akupun mulai melepaskan diri dari pelukannya, berjalan melewati gerbang masuk, menuju gerbong keretaku. Aku lambaikan tangan padanya sebagai tanda perpisahan. Kebetulan gerbongku masih bisa dilihat dari luar dan akupun melihat Imam masih berdiri di situ, di tempat dia memelukku, menunggu keretaku melaju pergi, memisahkan kita.