~13 Juni 2018~ Mengenang 100 hari wafatnya Mama. 10 hari setelah hari lahir Mama. Rasanya rindu. Apalagi kemarin sahabat-sahabat kesayangan pada ngelahirin dan ditemani Mamanya. Rasanya tuh nyess banget kalau liat mereka.. dari proses hamil, melahirkan sampai ngurusin bayik merah, semua diserahkan sama Mama. Takut. Iya, perasaan takut yang wajar dirasakan oleh semua ibu baru. Dan untungnya ada Mama. Rasanya iri, pengen bisa ditemenin Mama dan dibantu-urus sama Mama. Kadang ngurus anak jadinya suka-suka, berdasarkan teori yang didapat, tanpa pengalaman sebelumnya. Kalau tante atau saudara lain liat ga sedikit yang berteriak "reuwas", karena aku sering sekali nabrak mitos yang ada. . . Tapi, dibalik semua itu, pas lahiran kemarin, aku selalu merasa bahwa Mama ada di sana, ikut bantu lahiran. Dimulai dari proses persalinan yang cepat, hanya 2 jam. Walau baby Kippo harus menginap selama 15 hari di RS, entah kenapa aku selalu merasa bahwa masih ada campur tangan Mama di sana. Ibu baru, tidak punya ibu, gimana coba caranya megang bayik merah? Walau ada tante yang bantu, rasanya pasti beda. Aku selalu bersyukur dan menganggap bantuan Nakes di RS kemarin merupakan wujud lain dari keberadaan Mama. Seolah tahu bahwa tak lama lagi baby Kippo keluar, Mama meninggalkan sedikit rizki untuk menyambut kehadiran Baby Kippo. Setelah diingat-ingat lagi, betapa besar rasa cinta Mama sama anaknya, terutama aku dan cucu pertamanya. Rasa sayangnya begitu nyata dan tak berhenti sampai kapanpun, walau fisik sudah tiada. Sungguh, rasanya rindu sekali. Setiap kali lihat Baby Kippo, selalu ngebayangin gimana ekspresi Mama ketika megang cucunya, Mama suka anak kecil. . . Seseorang itu baru berarti ketika sudah tiada, memang benar adanya. Selama ini aku merasa tidak punya ibu, setelah tiada, ternyata keberadaannya sungguh nyata dan kasih sayangnya tak pernah terhenti, mau seburuk apapun kita. Semoga Mama tenang disisi Allah SWT dan dijadikan Ahli Surga. Insha Allah kebaikan Mama akan selalu kami syukuri. . . Alfateehah.. . Salam rindu dari kami yang ditinggalkan: Pap Ihin, Kakak, Teteh dan Adek.








