The Bankruptcy Code Is Stacked Against Black Families. Elizabeth Warren’s New Bill Would Change That. [ad_1] Sen. Elizabeth Warren (D-MA) on Capitol Hill on October 20, 2020 Getty Photographs Chapter presents an exit route for households and companies trapped by debt. In 2019, Without end 21, Barneys New York and Payless ShoeSource declared chapter. Donald Trump’s companies have declared chapter on six events. The Chapter Abuse and Safety Act of 2005 made cha... #african_american #bankruptcy #bapca #chapter_13 #chapter_7 #debt #elizabeth_warren #jerrold_nadler #race
Aku gak tahu cerita ini bakal berakhir di mana dan berujung ke mana. Yang aku tahu, aku menikmati menulis disela-sela waktu renggangku. Tidak terasa sudah seminggu aku di Bandung, kembali berhubungan dengan duniaku yang membosankan, dunia yang tak jauh tentang hubunganku dengan abang yang semakin memburuk, bahkan bisa dibilang sudah jarang sekali kami berhubungan dan juga mantan yang mengantarkanku tempo hari, karena dia aku tidak bisa melupakan Jakarta. Sebenarnya aku sudah mulai lelah. Semua terjadi diluar dugaanku. Produser memberikan orang lama suatu peran untuk bermain bersamaku, menjadi lawan mainku. Seseorang yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya, mantanku. Disaat seperti ini aku hanya ingin diperhatikan, tapi tidak oleh mantanku. Aku jenuh dengan keadaan yang orangnya hanya itu-itu saja. Aku butuh orang baru. Orang yang benar-benar baru. Aku perlu pergi ke toko CD untuk membeli games Xbox terbaru, agar aku bisa mulai memainkan peran lainnya dalam permainan kehidupan ini.
Hingga disuatu malam ketika aku tidak bisa tidur, kudapati timeline begitu ramai dengan permainan hashtag. Karena kebosanan yang sudah memuncak, aku putuskan untuk mengikuti permainan itu. Aku search tagar itu dan ada banyak sekali twit yang muncul dalam persekian detik. Ku mulai dengan mengomentari salah satu akun. Tidak kusangka, aku mendapat respon yang berlebih. Banyak sekali mention yang masuk. Wah seru nih! tumben rame! Ucapku dalam hati. Aku mulai larut dalam permainan itu, kudapatkan banyak teman baru yang akan mengisi timeline-ku untuk hari-hari berikutnya, aku yakin tidak akan sebosan sebelumnya! Hingga pada akhirnya kutemui twit yang menarik perhatianku. Aku mulai menyapanya dan diapun membalasnya. Dia menyukai header yang kubuat dan memintaku untuk mengirimkan pin bb agar bisa berkontak lebih jauh. Aku pikir seru juga punya teman bicara yang baru, setidaknya hidupku tidak akan se-membosankan ini. Kuputuskan untuk mengiriminya DM yang berisi kontak pribadiku, Tak lama ada yang invite bbm, Aldy Nugroho. Tidak hanya dia, aku berikan kontak pribadiku pada yang lain agar aku bisa mendapatkan teman mengobrol lainnya, tidak banyak, hanya beberapa.
~~~
Aldy Nugroho: Hai, What's up?
Me: Halo
Aldy Nugroho: Lagi apa?
Me: Masih balesin mention. Ha ha.
Aldy Nugroho: Pasti rame banget ya?
Me: Iya! Ha ha. Jadi gak bisa tidur.
Aldy Nugroho: Ha ha. Yasudah kalo begitu. Aku tidur duluan ya.. daah..
~~~
Laaahh... Dari semua yang chat sama aku, yang gak jelas cuma dia doang. bbm-an cuma begitu aja. Zz.. Tapi tak kupedulikan, toh yang mengajak aku mengobrol juga banyak, kemudian akupun terjaga hingga malam semakin larut, ketika sudah menjelang subuh kuputuskan untuk berhenti dan tidur. Cukup untuk malam ini. Besok bisa dilanjut.
Pagi itu perasaanku agak sedikit lebih membaik dari hari-hari sebelumnya. Akupun sudah sedikit lupa dengan abang, walau sebenarnya masih suka kepikiran, tapi aku lupa-lupain deh. Imam? Dia masih menghubungiku dan memberikan perhatian, cukuplah, tidak berlebih dan tidak kurang, pas. Lalu teman baruku? Ku ambil hp, kulihat ada bbm masuk, kemudian ku buka.
~~~
Aldy Nugroho: Ra
Me: Ya?
Aldy Nugroho: Kamu ini apa-apaan sih? Masih siang begini udah cantik aja!
Me: Kamu juga,apa-apaan? Masih siang udah gombal!
~~~
Dengan Aldy, obrolanku santai. Tidak isi dengan perhatian yang berlebih selalu penuh bercanda. Beda dengan teman baruku yang lain, Ardha Wiratna. Pesan yang dia kirim terkesan terlalu serius dan bahkan perhatian yang diberikannya terlalu berlebih.
~~~
Ardha: Kamu sudah makan?
Me: Sudah kok, mas.
Ardha: Kamu kapan ke Jakarta lagi? Nanti kasih tau aku kalo kesini lagi.
Me: Iya mas. gatau nih, kayaknya tidak untuk waktu dekat ini. Aku lagi bosen soalnya. hehe.
Me: Lagi pengen di Bandung aja.
Ardha: Yaudah, pokoknya kabarin ya.
Me: Siap.
~~~
Kemudian kamipun mengobrol sesuatu hal yang biasa saja. Agak membosankan, seputar pertanyaan siapa kamu, siapa aku, kenapa, mengapa, dimana. Pokoknya 5W + 1H banget deh! Dan asal kalian tahu, bercandaan kita gak nyambung! Aku gak suka ketika dituntut harus membalas pesan cepat, karena kehidupanku tidak hanya ku habiskan dengan sesuatu yang maya. *sigh*
Jika harus kubandingkan, aku lebih senang berbicara dengan Aldy daripada dengan mas Ardha. Walaupun Aldy masih terlihat seperti anak kecil, aku senang karena ada kalanya juga dia menjadi dewasa dan bisa kujadikan teman berbagi. Mengenai kerjaanku, urusan percintaanku, masa depanku dan yang terpenting, dia tidak pernah menuntutku untuk selalu membalas cepat, dia mengerti mengenai kegiatan yang aku lakukan, walaupun aku tidak pernah memberitahunya. Selama aku masih ingat untuk membalas semua pesannya, dia pikir cukup.
Mereka sama-sama tinggal di Jakarta, yaa anggap saja begitu. Setelah mengobrol lama, aku agak penasaran juga dengan sosok asli mereka. seperti apa sih rupanya dan bagaimana kepribadian mereka yang sesungguhnya. Aku menanti kesempatan interview lainnya di Jakarta, agar aku bisa menyempatkan diri untuk bertemu mereka atau minimal dengan salah satu dari mereka. Dan beginilah, hari-hariku dilalui dengan ketidak sabaran untuk segera kembali ke sana. Kota yang baru kukenal namun memberikan banyak kenangan bagiku. Kota dimana petualangan sedang berlangsung.