Seperti yang kita tahu, waktu sangtlah berharga. Bahkan saking berharganya sampai-sampai waktu tak bisa dihargai dengan mata uang apapun karena waktu adalah sumber daya yang tak bisa diperbarui sama sekali. Sekali kita menggunakannya maka kita harus berbuat yang terbaik agar waktu yang terbuang tidak sia-sia begitu saja.
Pernah nonton film berjudul ‘In Time’ di mana aktornya Justin Timberlake? Film yang cukup menarik dan unik ini merupakan film bertopik mahalnya waktu dan terbatasnya waktu. Bahkan waktu digunakan untuk mata uang di wilayah setting film itu. Dan tentu saja waktu yang dimiliki orang tersebut mengindikasikan kapan ia akan mati. Orang yang kaya adalah orang yang memiliki waktu yang banyak. Bank di wilayah itu juga merupakan bank waktu, bukan uang. Lebih lengkapnya bisa nonton sendiri lah ya. Beli DVD-nya mungkin atau pinjam teman yang sufi—suka film.
Judul untuk hari ini cukup keren ya, 30:300. Kawan-kawan bisa bayangkan duduk di angkot selama 30 menit, padahal jaraknya hanya 300 meter. Tempat tingal saya di kawasan Cibanteng—merupakan desa perbatasan Kecamatan Ciampea dengan Kec. Dramaga. Dan kampus IPB Dramaga berada di perbatasan itu. Jarak dari kosan saya ke kampus hanya berjarak 300 meter saja. Naik angkot biasanya Cuma 2-4 menit saja sudah sampai. Namun ketika sore hari waktu itu saya pulang dari kampus entah ada angin apa tiba-tiba saja terjadi kemacetan tepat di depan gerbang IPB. Sontak semua orang di angkot kaget. Tumben banget waktu kayak gini macet. Pasti ada apa-apa nih. Waktu itu hari senin setelah ada kejadian jembatan ambruk di Desa kami yang masuk beriat nasional.
Awalnya saya gerah dan jengkel. Namun apa mau dikata, sudah sore dan lelah, akhirnya saya tiduran saja. Kebetulan duduk di samping sopir. Julurkan kaki dan senderan di samping kiri. Zzz...
Inilah yang terjadi pada saya dan juga mungkin teman-teman saya yang juga sekolah di IPB. Semakin lama kendaraan di Bogor semakin banyak. Bayangkan, kendaraan pribadi ada, kendaraan umum apalagi, salah satu yang menyumbang kemacetan dengan presentase terbesar. Tak hanya karena banyaknya jumlah kendaraan umum, tetapi perilaku sopirnya yang suka ngetem sembarangan di bahu jalan yang hampir ke tengah. Belum lagi kalau ketemu persimpangan, bakal berhenti tuh angkot. Parahnya perilaku ini tak hanya dimiliki satu dua orang, hampir semua sopir malah.
Lanjut lagi ke jumlah kendaraan. Selain kendaraan pribadi dan umum berplat F—kode wilayah Karesidenan Bogor Raya, ada juga kendaraan berplat lain yang sebagian besar didominasi oleh para pendatang dengan tujuan pendidikan. Ya, saya sala satunya. Banyak dari kami yang membawa kendaraan sendiri terutama motor. Perguruan tinggi di Bogor tak hanya IPB, ada Pakuan, Ibn Khaldun, Juanda, Tazkia, dan lain-lain. Bisa dibayangkan sendiri lah ya.
Ada satu lagi berdasarkan analisis saya yang merupakan penyumbang terbesar juga dalam kemacetan Bogor. Jalan raya di Bogor khususnya di wilayah saya yang jalannya belum dilebarkan (entah sampai kapan), kecamatan Dramaga-Ciampea-Rumpin merupakan jalan alternatif menuju daerah Banten Timur Laut dan Jakarta sehingga bisa kawan-kawan pikirkan sendiri seperti apa jika weekend terjadi. Tak hanya kawasan Puncak saja yang macet, di Dramaga pun juga macet. Puncak kemacetan biasanya dan seringnya terjadi di hari Minggu karena adanya pasar tumpah yang membuat kita kaget. Jadinya pasar tumpah atau pasar kaget???