Terimakasih Kawan
Di suatu kafe di daerah menteng cikini aku bertemu orang baru, “Hai, aku eca salam kenal” tanganku refleks untuk bersalaman. “Oya, hai juga aku Ran”, sambil membalas jabat tanganku. Dari sini obrolan terjadi, mulai dari bertanya pekerjaan, tempat tinggal domisili, dan kota asal. Dan Yay aku beruntung, kita bisa berbagi informasi hal-hal yang ternyata sama-sama saling tertarik. Apa itu? Digital marketing. Dan yippiee, ku punya teman baru.
Komunitas tempat orang-orang yang memiliki ketertarikan sama dengan kita, membuat hubungan baru amat mudah untuk saling terhubung. Secara tidak sengaja, namun kebetulan otak mereka dalam frekuensi yang sama. Berbeda jika kita ada di lingkungan kantor, dimana kita terhubung karena suatu kewajiban dan kebiasaan sehari-hari. Makan siang bareng, istirahat bareng,jadi teman dekat saat sering hangout bareng. Hampir sama juga saat kita ada di masa sekolah atau kuliah, lingkungan dan kewajiban kita menuntut ilmu, membawa kita bertemu dengan orang-orang yang memiliki tujuan sama. Namun caranya yang berbeda, sehingga kecocokan akan ditemukan saat bekerja sama (red:kerja kelompok), berjalan bersama dan memilki cara yang sama dalam mengerjakan sesuatu ‘klik’.
Bentuk pertemanan seperti apapun rasanya sangat dan harus di syukuri. Bertemu dengan orang yang mau mengerti karakter kita, apalagi jika bisa saling memahami rasanya Allah sedang menjaga kita dengan tangan Nya, melalui orang di sekeliling kita. Kita kadang perlu punya banyak teman atau bahkan kenalan baru. Tapi terkadang yang bisa mendekat dan mau memahami hanya 1 atau 2 orang saja, bukan? 10 orang kawan dekat saja menurutku udah sangat beruntung. Kalo kata teh wid “Punya sahabat/temen baik itu sama susahnya kaya nyari jodoh” hahahaa, emang betul sih punya temen yang mau memahami kita, apalagi kalau ga di satu frekuensi tapi bisa saling toleransi dan mengerti karakter masing-masing itu wah alangkah indahnya.
Ibaratnya nih, ada yang suka nanya gini, “coy, lagi dimana?”. “Nih lagi di PVJ, kenape?” , buat beberapa orang yang mungkin belum terlalu dekat, pertanyaan kenapa adalah bentuk suatu ke “ngeh-an” ada apakah gerangan dia bertanya aku dimana? Apakah ada suatu kebutuhan? Mau minta tolong? Atau apa gitu?
Tapi sebenernya, ada alasan yang kadang memang hanya karena pengen tau aja (red:kepo) ibaratnya mah perhatian lah. Jadi sebenernya dia nanya “lo udah pulang?” itu cuma pengen tau aja. “iya nih baru sampe kosan”. Jadi kalo kamu nanya orang itu lagi dimana, dan jawabannya masih ada pertanyaan kenapa, orang yang kamu tanya pasti sebelumnya ga biasa kamu tanya, atau mungkin kadang kamu chat dia kalo ada perlunya aja. Hahaa. Eh atau kalian sudah terpisah dan tidak seperti dule #eaaa.. Eh tapi belum tentu semua kaya gini sih, hanya berdasar pengalaman aku aja.
Jadi jangan kaget, kalo ada orang yang nanya kamu lagi dimana tanpa sebab. Belum tentu orang itu nanya karena pengen ketemu atau mau minta tolong. Mungkin murni hanya ingin tau aja. Sah kan? Cuma nanya aja, ga ada alasan lain. Tapi kalau kamu risih sah juga kok. Hahaa. Intinya sih, kita berprasangka baik aja. Lagian ga semua orang kok punya kemauan untuk nanya kamu lagi dimana. Jangan berkecil hati juga kalo ga ada yang nanyain kamu. Mungkin kamu kurang terbuka. J
Jujurloh, dulu dimasa itu aku sempat mengalami krisis jati diri. Sulit terbuka untuk orang lain, aku punya dunia ku sendiri, aku tidak mau direpotkan oleh orang lain, egois, apatis, tidak peduli dengan sekitar dan hanya peduli pada kepentingan diri sendiri. Sampai akhirnya Allah membukakan hati ku (red:Mata ku sudah terbuka, tapi hati ku tidak). Disini aku sadar, aku tau bahwa yang aku lakukan itu salah atau kurang tepat, aku tahu ada orang yang beruntung dan kurang beruntung, aku tahu bumi itu bulat (kaum flat earth) haha *canda*, dan yang paling penting, aku mau coba berteman. Coba kalau aku terus menutup diri, dan tidak mau belajar bersosialisasi, udah nih sampai sekarang keknya aku bertelur terus di kamar.
Tahapan demi tahapan aku lalui, di awal aku membuka diri aku coba berbicara, berbagi dan bercerita. Selangkah kedepan, aku coba tidak egois dan apatis. Aku masuk ke lingkungan baru, mencoba mencari teman, mencoba mengerti sifat-sifat orang, mengamati dan mulai memahami. Dan mencoba memulai memperkenalkan diriku yang begini adanya.
Kenapa aku memulai? Karena kini aku sadar, mengapa manusia dikatakan mahluk sosial. Jawabannya “take and give” , apa yang kita berikan keluar akan kembali lagi kedalam. Kita ga bisa hanya menerima kebaikan saja, atau hanya memberikan bantuan saja. Kita harus saling, adakalanya kita memberikan kebaikan, ada waktunya kita mendapatkan bantuan.
Tapi perlu jadi di ingat juga, kita bisa berbuat baik sama orang, tapi kita ga bisa berharap orang itu akan balik baik lagi ke kita. Intinya karena sifat orang berbeda-beda, kita ga bisa berharap orang untuk membalas dengan kebaikan yang sama. *ini sebuah pelajaran*
Maka dari itu, disini aku merasa beruntung ditempatkan di lingkungan yang baik, positif dan terlalu jadi zona nyaman. Bahkan tinggal jauh dari rumah, kosan ku pun sedikit bisa terlihat sebagai tempat untuk pulang. Masih ingat ga sih berita anak kost di Bandung yang meninggal di kamarnya, tapi baru ketahuan 2 hari kemudian? Kan Ngeri ya, sampai kamar sebelahpun ga saling tau (red:peduli) bahwa ada orang atau tidak di kamar sebelahnya.
Makanya aku merasa beruntung, ternyata sangat perlu (red:penting) loh punya kawan dekat di tengah perantauan. Ga bisa kita bilang, “ah aku bisa koko hidup sendiri ga perlu orang lain”. Sangat penting memiliki teman yang tau setidaknya kamu ada dimana, pulang ke kost atau ngga. Siapa yang bakal bantu kita kalo kita sangat urgent membutuhkan bantuan? Sakit? Kecelakaan? *Bukan karena sekedar kebutuhan, tapi seperti ada perasaan yang “re-call” apakah kamu baik-baik saja? Dia baik-baik saja?
Pokoknya, aku mau mengucapkan terimakasih buat kakak, sahabat, kawan yang mau/pernah baik dan peduli terhadap ku. Aku belajar mandiri, tapi karena kalian aku juga merasa Ada. Terimakasih banyak. XOXO
22 &27 Agustus 2017
-di jam makan siang berkualitas :)












