Felt good to create this. Want to experiment more with the ghosting effect achieved by not having the posi flat against the paper.
seen from France
seen from United States
seen from Puerto Rico

seen from Malaysia

seen from China
seen from Kazakhstan

seen from United States
seen from France
seen from China

seen from Malaysia

seen from United States
seen from Iraq
seen from Russia
seen from Russia
seen from United States
seen from Belgium
seen from Malaysia

seen from Germany
seen from United States
seen from Mexico
Felt good to create this. Want to experiment more with the ghosting effect achieved by not having the posi flat against the paper.
Falling Stars - 3
Lisha
Om Sagan
Hari ini pemakamannya Bu Ersa, Sha.
Tolong didoakan ya.
Kamu juga semoga lancar di sana. Baik-baik ya.
Itu pesan yang aku terima tadi subuh. Dan pesan itu juga yang membuatku khawatir dan sedih. Mau bekerja sekarang pun jadinya nggak fokus. Sejak tiga bulan yang lalu, aku tahu Tante Ersa memang sakit-sakitan, tapi tetap saja mengejutkan karena setelah sekian lama mendapat kabar, yang aku dapatkan justru ini.
Dan sayangnya aku nggak bisa datang ke pemakamannya. Dengan alasan apapun, aku memang nggak bisa menemui Tante Ersa.
Tadinya aku ingin menelepon Om Sagan untuk meminta informasi lebih lanjut soal Tante Ersa, tapi sayangnya hanya pesan tadi subuh saja yang jadi komunikasi sepihak dari Om Sagan. Aku sama sekali nggak bisa menghubungi balik.
Sungguh, aku nggak tahu siapa lagi yang bisa aku hubungi untuk bertanya soal Tante Ersa selain Om Sagan. Tapi Om Sagan juga mungkin enggan untuk menjawab pertanyaanku.
Atau akan lebih baik kalau aku langsung datang ke tempatnya Tante Ersa? Tapi sopan nggak ya?
“Sha, udah istirahat. Nggak makan dulu?”
Aku menoleh ke belakang, mendapati rekan kerjaku, Mas Pradnan, berjalan sambil memutar-mutar kunci mobil di tangannya.
“Oh, nanti deh, Mas. Saya masih lagi meriksain email dari klien.”
Yah, oke, aku juga memeriksa email lama sih tadi, tapi atasanku yang satu ini sebaiknya nggak tahu akan itu. Well, it’s better that no one knows.
“Kamu bukannya nanti siang mau pergi, ya?”
Ah, iya. Benar juga. Hari ini aku kebagian mengaudit bagian keuangan rumah sakit cabang salah satu klien di daerah Setiabudhi.
“Nah, lupa lagi jangan-jangan?” Mas Pradnan memandangiku sambil geleng-geleng kepala. “Udah deh, Sha, mending makan dulu. Kalau email sini saya yang balasin aja.”
“Duh, Mas, kan ini kerjaan—”
“Yang ini masih proyek buat nanti kok, klien hanya saja suruh email ke kamu beberapa data sama laporan mereka aja. Mending kamu siap-siap aja, daripada ditinggalin Jevan.”
Nama yang Mas Pradnan sebutkan membuat aku meringis. Oh, iya. Hari ini aku berangkat dengan Jevan. Jangan sampai dia pergi begitu saja seperti tahun lalu, meninggalkanku begitu saja padahal siangnya aku harus sudah ke kantor klien di Menteng. Dia pikir dari Bandung ke Jakarta cukup naik angkot sekali?
Mungkin ringisanku terlalu kuat, sampai-sampai Mas Pradnan tertawa. “Nah, kan udah tahu Jevan gimana. Jangan telat lagi deh.”
15 menit sebelum juga buat Jevan sudah termasuk telat sih. Pusing memang sama maniak aturan kayak dia.
“Ah, jadi pengin berangkat sendiri.”
“Sayang duit, Ra. Biaya transportasi juga kan dipake buat bensinnya Jevan.”
Mending naik angkot. Tapi mengingat waktu, ah, rasanya nggak akan mungkin kekejar. Mau naik ojol juga… I don’t even want to make it as an option.
Pada akhirnya aku nggak punya pilihan lain kecuali mengalah, berdiri dari kursi yang langsung diisi Mas Pradnan. Awalnya aku ingin langsung pergi, namun begitu mengingat sesuatu, aku berhenti dan berbalik.
“Setelah dari sana apa harus balik kantor lagi untuk laporan, Mas?” tanyaku.
“Kalau untuk laporan langsung sih nggak, paling laporan tertulisnya dulu,” jawab Mas Pradnan. “Kenapa, Sha? Mau langsung balik?”
Aku jadi merasa nggak enak sendiri, tapi kalau untuk cabut duluan, memang ke sana arah pertanyaanku.
“Nggak balik sih, Mas. Rencananya kalau bisa aku mau mampir ke tempat lain dulu,” kataku sambil terkikik kecil. “Kalau sempat mau ke sana.”
“Oh,” Mas Pradnan manggut-manggut. “Janjian habis pulang kerja? Ada urusan, Sha?”
“Hehe, iya, Mas.”
“Mau ketemu siapa?”
“Keluarga.”
Hanya satu kata itu yang terlintas dalam kepala sebagai jawaban.
Untungnya Mas Pradnan hanya mengangguk. Karena kalau ditanya lebih jauh, aku nggak tahu harus menjawab apa. Aku belum siap untuk membuat cerita karangan pun mengatakan kejujuran.
Because the truth is just… too complicated to be told.
*
Daka
Bohong namanya kalau gue nggak kepikiran akan apa yang terjadi di rumah sakit. Nama Abiyasa Aradhana terus terngiang dalam kepala gue, dan jelas nggak mungkin gue lupakan begitu saja.
Dan nampaknya, keluarga gue mendukung hal tersebut karena begitu gue, Mikaela, dan Yasa kembali ke rumah, gue langsung ditarik kembali ke perkumpulan ghibah—persetan sudah, mereka bukan diskusi lagi, tapi bergosip—untuk membahas lebih lanjut soal Yasa.
“Harusnya tadi sekalian tes DNA sama darah aja, biar tahu betulan anaknya Ersa atau bukan.”
Untuk makin mengejutkan diri gue? Oh, tidak terima kasih. Bagi gue nama Yasa sudah lebih dari cukup menjadi tamparan juga fakta. Tapi gue nggak perlu cerita itu ke mereka, kan?
Dan kelihatannya, topik soal itu sudah digantikan dengan topik yang lebih ramai. Gue nggak tahu apa yang terjadi selama gue dan Mikaela pergi. Topiknya jelas masih sama, masih tentang Yasa. Bedanya sekarang ada hal baru yang jadi perbincangan mereka.
“Jadi anak itu gimana? Ersa sudah nggak ada.”
Kalau sebelumnya mereka heboh, topik kali ini membuat semuanya cenderung diam. Nggak ada yang bisa langsung menanggapi. Para pasangan suami istri saling tatap, entah tengah mencoba melakukan semacam telepati isi pikiran atau apa, gue juga nggak tahu.
Di tengah keheningan perkumpulan ghibah ini, Mikaela mencondongkan tubuhnya ke arah gue dan berbisik, “Menurut lo gimana, Ka?”
“Gimana apanya?”
“Kira-kira ada yang bakal mau ngurus dia nggak?”
Nggak butuh waktu lama bagi gue untuk memikirkan jawaban atas pertanyaan Mikaela itu. Dari kondisi dan respons orang-orang menanggapi keberadaan Yasa, the answer is just too obvious. Tapi, gue nggak suka jawaban itu, sekalipun gue nggak tahu alasan jelasnya apa.
Gue mungkin nggak begitu mengenal Yasa, tapi dari kenyataan yang ada, membiarkan Yasa begitu saja membuat gue merasa melepas tanggung jawab gue.
But am I really responsible for this?
“Susah mau ngurusnya, asal-usulnya aja masih nggak jelas.” Perhatian gue teralih pada Tante Devia, adiknya Papa, yang akhirnya angkat bicara. Hampir semua orang menanggapi dengan anggukan, menjadi pendukung pendapat Tante Devia barusan.
Well, gue nggak terkejut. Tapi tetap saja kecewa.
“Lagi pula banyak yang sudah terlalu tua untuk mengurus anak kecil begitu,” kali ini Om Tio, suaminya Tante Devia ikut bicara. “Tapi kita juga nggak bisa biarin anak itu sendiri di sini, kan?”
Kali ini gue mengangguk, setuju dengan pendapat Om Tio. Tapi nampaknya yang lain nggak begitu, karena kendati mengangguk, mereka semua kembali ke fase saling tatap, bahkan ada yang sampai menundukkan kepala.
Suasana kembali hening. Kalaupun ada suaranya, yang ada hanya bisik-bisik kecil. Mikaela kelihatan cemas, tapi nggak berkomentar. Gimanapun, hanya kami berdua yang tahu kalau Yasa benar-benar adik gue.
Sekarang gue jadi ikutan waswas. Nasib Yasa seperti ditentukan lewat obrolan orang-orang yang kelihatan enggan melibatkan Yasa dalam kehidupan mereka. Gue juga cukup sadar bahwa itu hal yang wajar.
Tapi kalau menempatkan diri jadi Yasa, dia bakal bagaimana ya?
“Atau, gimana kalau gini.” Kali ini Tante Misa, kakaknya Bapak, yang bersuara. “Teman kamu itu, Sev, ada yang punya panti, kan? Kalau dimasukin ke sana aja bisa nggak? Teman kamu itu coba dihubungin.”
Panti katanya?
“Oh, ada? Kalau begitu lebih bagus.
“Nah iya betul.” Yang lain mulai ikut menambahkan. “Gimana, Sev? Bisa? Kalau soal biaya awal, mungkin kita di sini bisa bantu sedikit.”
Mereka benar-benar mau masukin Yasa ke panti?
“daripada nggak ada yang urus, lebih baik masukin ke panti aja. Kita juga nggak usah repot—”
“Nggak perlu panti,” gue memotong cepat. “Yasa tinggal sama aku aja.”
Meski sempat sedikit gusar—atau bahkan harus dibilang kalau gue cukup terkejut dengan ucapan gue sendiri, secara ajaib kata-kata itu keluar dengan begitu yakin dari mulut gue, sekalipun dengan cepat semua orang melemparkan pandangan heran dan terkejut ke arah gue, bahkan Mikaela sekalipun. Tapi tatapan itu nggak akan pernah cukup untuk membuat gue menarik lagi ucapan yang sudah terlontar.
Gue nggak akan mundur.
Dan untuk saat ini gue hanya bisa berdoa, meyakinkan diri.
Ibu, Daka masih nggak ngerti dengan semua ini. Tapi untuk kali ini, nggak papa kan Daka mencoba menjaga hal terakhir yang Ibu tinggalkan? []
*
Origami Moon.
Haven’t folded in a while. Miss the calm and focus it brings. A piece of paper and my hands.
I still like the flat shapes. The pureness of the circle. Circular shapes. Like a constellation of stars.
Scanography.
And then we started scanning. Oh my. This is joy. Pure joy. The noise, the pull, the light, the unknown, the reveal. From the murky, dark depths the image appears and reveals itself. Like the canal where I live on a dark night with the moon shining it's beautiful light. There's something about it. The lo-fi aspect, the immediacy. The lack of mess. The dust particles. Like you're looking at objects through a glass barrier - like in an aquarium. Or a David Attenborough documentary of deep sea, alien creatures. Emotions have been stirred. Not sure what. Just a feeling of depth. And then we started pulling the objects and moving them as the scanner beam (no idea what the technical term is) did its thing. And that was a whole other level of joy. And squeals. Some things worked, others didn't. It was fun to play. To see these beautiful textures created, and elongated. Like the pull of something putty-like almost. Something you couldn't resist. I loved the length of it. More please.
The flow of time. And light. And reflection.
Realising that the moon itself is a dark, cold object and its light comes from the sun reflecting off it. I had kind of forgotten that little part ;)
Think I’d like to work with these images more. There’s something about the colour of the print.
Upcoming fiction on Tumblr. Choose your fighter as main character.
JJK or KTH?