Falling Stars - Chapter 4
Daka
“I still can’t believe you did that, Ka! Sumpah!”
Untuk yang ke sekian kalinya, gue mendengar kalimat itu dari Mikaela. Gue terlalu malas menghitung berapa kali kalimat itu Mikaela lemparkan pada gue sejak pertemuan keluarga kemarin.
Lagi pula, itu nggak akan mengubah apa-apa sekarang. Kenyataan tetaplah kenyataan. Gue tetap sudah mengambil keputusan untuk membawa Yasa pulang ke kediaman gue dan menjadi orang yang bertanggung jawab atas kelangsungan hidupnya. Gue yang memilih itu.
Kalau kata peribahasa, nasi sudah menjadi bubur.
Dan omong-omong soal bubur, gue rasa itu opsi yang bagus untuk sarapan. Sayangnya, membuat bubur masuk ke dalam salah satu kemampuan yang tidak bisa gue kuasai. Actually, kitchen duties are on my so-called-uncapable list. Tapi fakta bahwa sebentar lagi jam sarapan nggak akan menghiraukan bisa atau nggaknya gue masak. Sarapan harus tetap ada. Setidaknya, sarapan yang layak untuk Yasa.
Eksistensi Yasa yang masih tertidur di tempat tidur gue, bergulung dengan selimut, tetap nggak akan hilang. Awalnya gue mau membangunkan Yasa, tapi karena dia kelihatan begitu nyenyak, mungkin capek juga karena perjalanan pulang kemarin macet banget dan kami baru tiba tengah malam, gue memutuskan untuk membiarkan dia tetap terlelap, dan gue mengambil waktu yang ada untuk menelepon bertanya pada Mikaela apa yang sebaiknya jadi sarapan untuk anak
Biasanya gue sarapan di kantor, itu pun dengan roti, bagelan, dan kopi. Nggak mungkin kan gue memberikan hal yang sama pada bocah 5 tahun?
Gue nggak akan bilang gue menyesali keputusan gue, tapi gue harus mengakui bahwa gue bodoh karena menganggap apa yang gue lakukan adalah hal baik dan gue bisa menghidupi Yasa juga diri gue sendiri.
Ngurus diri sendiri aja nggak becus padahal.
“Ya udah sih, El, nggak mungkin juga gue biarin dia dikasih ke panti gitu aja, kan?” balas gue, sesaat gue mengulum bibir sebelum menambahkan, “Yasa adek gue.”
“Yah, iya sih.” Bisa gue dengar Mikaela bergumam. “But still, it was unexpected. Lo yang hidup sendiri, tiba-tiba mau ngurus balita. Padahal gue ingat banget dulu lo bilang anak kecil itu sering bikin rep—”
“Yasa nggak akan kayak gitu,” potong gue cepat. Entah kenapa, jawaban itu spontan keluar dari mulut gue. “Gue yakin dia nggak akan nyusahin.”
“Why are you so sure?”
“Dia… kalem.” Gue menjawab apa yang terlintas dalam benak. Yah, gue nggak merasa itu bohong sih. Karena Yasa memang kalem. Dari rumah sakit sampai ke apartemen gue, dia nggak banyak bicara. Ketika gue menyuruh dia untuk turun, untuk cuci muka, dan tidur, dia mengangguk dan langsung melaksanakan itu semua.
Pintar kan adek gue?
Rasanya masih agak canggung, tapi gue rasa ini cara yang baik untuk membiasakan diri kalau gue sekarang seorang kakak.
Menghela napas, gue bersandar pada daun pintu kamar, masih memperhatikan Yasa sambil memindahkan ponsel ke telinga sebelah kanan. “Gue pengin nanya nih. Buat sarapan. Yasa enaknya dikasih apa, ya?”
“Lho, belum sarapan?” tanya Mikaela.
“Belum, Yasa masih tidur,” jawab gue. “Lagi nyenyak banget. Nggak enak gue banguninnya.”
“Terus lo nggak kerja?”
Pertanyaan Mikaela itu memancing gue untuk menghela napas sekali lagi. Mengingat bagaimana tadi subuh gue mencoba meyakinkan bos gue dan minta untuk menggunakan cuti satu minggu yang tersisa untuk tahun ini—yang hanya dia berikan dua hari sebagai penawaran terbaik—gue jadi mau meringis. Untungnya bos gue cukup mengerti ketika gue bilang ada urusan keluarga, dan gue sedang mengurus keluarga yang sebelumnya tinggal bareng nyokap.
“Dua hari. Take it or leave it. Kamu lagi ada proyek gede, Kamandaka, dan itu harus kamu urus. Kalau kamu mau urus keluarga kamu, sudah seharusnya kamu urus juga apa yang bisa menghidupi keluarga kamu.”
Gue sama sekali nggak bisa mengelak. Bos gue benar-benar nggak bisa membuat gue berkutik. Karena itulah, gue harus menerima apa yang ada dan menggunakan waktu yang ada sebaik mungkin.
Seharusnya gue menimang dulu bahwa banyak hal yang harus gue urus dari Yasa. Dari semua hal, gue bahkan nggak tahu sarapan yang cocok untuk dia. Duh, payah banget gue.
“Gue dapat cuti dua hari lagi, El,” kata gue akhirnya. “Mau coba ngawasin Yasa dulu. Barangkali ada yang dia butuhin atau apa. Mau lihat juga dia bisa ditinggal atau nggak.”
“Kalau nggak bisa? Lo mau bawa ke kantor lo gitu?”
Duh, El, bisa nggak sih lo ngasih pertanyaan yang mudah gue jawab? Gue malah jadi makin banyak beban pikiran.
“Lihat nanti deh,” balas gue, menolak untuk memperpanjang topik. “Semoga aja nggak rewel. Yah, I bet he won’t.”
“Gue harap juga gitu,” timpal Mikaela. “Oh, ya. Tadi lo nanya sarapan buat Yasa, ya?”
Gue bergumam mengiyakan. “Got any good idea? Kan nggak mungkin dia gue kasih kopi.”
“Lo ada sayur atau apa gitu di kulkas—”
“Lo lagi nyindir atau apa?” sambar gue, dan tak lama tawa Mikaela terdengar.
“Oh, God. My bad. Gue lupa lo kan terlalu jago masak,” sindirnya. Gue hanya bisa mendengus. “Ya udah, coba order online aja pake taksol.”
“Ada tempat makan yang udah buka jam segini?”
“Ada sih, dekat kantor gue. Ah, atau gini deh. Gue yang antar ke sana. Tapi gue udah janjian buat ngantor bareng teman gue. Jadi gue ke sana bareng dia nggak papa, ya?”
Kalau diingat-ingat, kantor Mikaela juga nggak jauh banget dari apartemen gue sih. Masih sekitaran Antapani.
“Bakal lama?” tanya gue lagi.
“Nggak kok. Ini gue lagi nunggu dia jemput,” balas Mikaela. “Jadi gimana? Mau dari gue aja? Lumayanlah, pagi-pagi ada bubur sama roti baru dipanggang gitu. Mau sekalian gue bawain susu buat Yasa?”
Ah, bantuan memang datang pada yang membutuhkan, ya?
“Oke kalau gitu. Tolong antarin ya,” kata gue. “Nanti gue bayar di sini. Atau mau gue transfer aja?”
“Nah, kalau makanan lo nanti, lo wajib bajar dua kali lipat,” tutur Mikaela cuek. “Tapi yang Yasa nggak usah. Gitu-gitu dia juga sepupu gue, kan?”
Jawaban yang cukup mengejutkan, tapi gue cukup senang mendengarnya.
“Serah lo aja deh.” Gue menjawab sambil setengah tertawa. “Makasih, El. Ditunggu ya.”
“Sip, sip.” Mikaela sedikit tertawa. “Nah, teman gue udah datang ternyata. Udah, ya? Nanti gue antarin ke sana.”
Gue hanya bergumam, membiarkan Mikaela lebih dulu mematikan panggilan telepon. Begitu terdengar bunyi ‘tut’ dari ponsel, kembali gue sakukan ponsel gue, mengalihkan perhatian gue pada Yasa. Kali ini tubuh kecilnya sedikit menggeliat, tangan kanan mengucek mata. Gue pikir dia akan bangun, tapi yang ada dia hanya sekadar berganti posisi, membuat selimut bergerak-gerak sesaat.
Biasanya, gue tidur di kamar ini sendirian. Tapi kali ini berbeda. Ada orang lain yang menempati tempat tidur gue, dan gue yang berpindah tempat ke sofa.
Gue bangun sendirian, menjalankan keseharian gue di sini sendirian, tapi sekarang ada orang lain yang menghuni tempat ini.
Satu orang, dan rasanya keseharian dan kebiasaan gue berubah. Dan gue rasa bukan hanya tempat di mana gue tidur saja yang akan berubah.
Kira-kira, perubahan apa lagi yang bakal kamu bawa di hidup kakakmu ini, Yasa?
*
Lisha
Dari dulu, aku mencoba mengira-ngira bagaimana rasanya tinggal di apartemen. Entah kenapa, menyebutkannya saja terasa elit sekali. Aku yang terbiasa tinggal di rumah dan kos-kosan mungkin nggak akan mengerti bagaimana rasanya.
Yah, punya tempat tinggal juga sebenarnya sudah menjadi sesuatu yang harus disyukuri sih.
Hanya tiap kali aku memijakkan kaki ke gedung apartemen bertingkat—seperti saat ini—rasanya seperti ada mimpi lama yang ingin diwujudkan. Lagi pula, wajar kan jika mau hidup di tempat yang nyaman dan kelihatan lebih… gimana bilangnya ya? Lebih rapi dan berkelas, mungkin?
Tapi yang kayak aku begini nggak akan cocok sih.
Dari semua apartemen yang pernah aku lihat dan datangi, bisa dibilang ini apartemen yang cukup mewah. Aku mungkin nggak akan punya alasan datang ke sini kalau bukan karena Ela, teman sekantorku, yang minta diantar ke sini untuk mengantar sarapan.
Dan sekalipun aku tahu apartemen ini baru pertama kali kudatangi, ada sedikit perasaan yang mendorong kaki untuk berjalan mundur, untuk nggak berkunjung ke apartemen mana pun. Untuk nggak mengulangi kesalahan yang berawal dari satu langkah kecil ke apartemen orang lain.
But, no. Aku nggak boleh terus parnoan begini. Ini tempat yang berbeda. Dan lagi, kali ini ada Ela.
“Sebelum lo nanya, gue mau bilang kalau gue bukan ngantarin buat cowok gue. Yang tinggal sepupu gue.” Itu yang Ela bilang. “Kalau dia bukan sepupu gue, nggak akan mau gue begini. Sori jadi ikut ngerepotin lo, Sha.”
Yah, tapi, kalau pun pacarnya, aku nggak akan kaget sih. Secara tipikal cewek anggun kayak Ela memang lebih cocok sama yang berkelas dan elit.
Kalau yang kayak aku… ugh. I don’t really want to imagine that. Karena harapan hanya jadi pembuka gerbang untuk kekecewaan.
Tadinya aku berniat untuk tetap di parkiran, tapi Ela menyuruhku untuk ikut ke atas. Katanya, setidaknya dia bisa minta uang jalan ke sepupunya, berikut uang bensin untukku. Itu sebenarnya jadi alasan lebih bagiku untuk nggak ikut, tapi menolak permintaan Ela lebih mustahil.
Pada akhirnya, aku hanya bisa ikut, berjalan mengikuti Ela, berhenti di lantai 10, di apartemen paling ujung kanan. Ela menekan bel pintu beberapa kali, hingga tak lama ada yang membukakan. Gagang pintu yang bulat itu terputar, dan tak lama ada sosok yang muncul dari balik pintu, dengan tangan yang yang mengacak-acak rambut.
Cowok itu menggeram sejenak, kelihatan seperti orang yang masih mengantuk—probably he does—dan menatap ke depan, ke arah Mikaela dan aku. Awalnya dia kelihatan mau bicara, tapi matanya langsung membulat begitu tatapan kami bertabrakan.
“Ya Gusti, El, kalau mau ngajak orang bilang dong!”
Aku jadi makin nggak enak. Sudah kuduga, seharusnya aku tetap di bawah.
Buru-buru aku menundukkan kepala. “Eh, maaf. Kalau gitu saya ke bawah—”
“E-eh, anu. Bukan itu maksud saya,” cowok itu langsung menggeleng cepat, entah mataku yang seliwer atau memang dia kelihatan agak salah tingkah, “saya jadi nggak enak Mikaela bawa temannya tapi saya berantakan. Yang dibawa cewek lagi. Saya jadi nggak enak.”
Aku sempat nggak bisa berkedip. Beda sekali dari yang aku perkirakan. Terlebih, cowok di depan ini kelihatan malu-malu.
Aneh? Hm, aku rasa begitu. Tapi di sisi lain, aku merasa cowok ini justru sedikit lucu. Ini efek cowok baru bangun tidur atau memang dia yang biasa malu-malu? Biasanya cowok yang aku kenal selalu, gimana bilangnya ya, pede dengan apapun?
Aku hampir saja tertawa kalau Ela nggak langsung mendesis, tiba-tiba tangannya mengayun, memberi pukulan pada sepupunya itu. “Sok malu-malu dih, udah om-om 30 tahun juga!”
Eh, sudah 30 tahun?
“Gandeng ah, El.” Logat Sunda yang cukup kentara terdengar selagi cowok itu berbalik. “Ya udah yuk masuk. Minum dulu, atau mau ke toilet barangkali.”
Itu tawaran yang baik, tapi sayangnya, aku masih diam di luar, kemudian menggeleng.
“Eh, kenapa?” tanya cowok itu.
Sebisa mungkin aku tersenyum sambil menggeleng lagi, kali ini lebih sopan. “Saya di sini aja.”
“Nggak usah canggung. Nggak papa kok,” kali ini Ela yang menambahkan. “Yah apartemen dia pasti berantakan sih, tapi kan lumayan daripada berdiri di luar.”
Masalahnya, bukan hanya canggung, El.
“Nggak papa, aku di sini aja. nggak haus, kok. Nggak mau ke toilet juga,” balasku sekali lagi. “Sekalian mau coba nelepon paman dulu.”
“Ya udah. Bentar deh ya, Sha, gue minum dulu. Ntar gue langsung keluar lagi.” Ela akhirnya mengangguk, mendorong cowok itu untuk masuk.
Apartemen ini memang kelihatan nyaman, tapi sisi lain dalam diriku tahu betul kalau yang nyaman sekalipun bisa mendatangkan bahaya yang besar. []












