Pengalaman Memulai dan Mengembangkan Startup dengan Layanan CloudKilat
Pada suatu malam di bulan Desember, saya bertemu dengan adik kandung saya. Dua cangkir kopi yang sukses habis mengantarkan kami pada sebuah kesepakatan, yakni mencoba mengelaborasi kemampuan dari hasil studi kami yang berbeda. Saya adalah lulusan TI di sebuah universitas swasta di Yogyakarta, sementara kala itu adik saya adalah mahasiswa agribisnis salah satu universitas terbaik di Indonesia. Ya, kami ingin membuat sebuah terobosan di bidang pertanian melalui pendekatan teknologi.
Singkat cerita kami sepakat mulai merealisasikan ide dengan mengembangkan sebuah situs web yang berisi insights tentang dunia pertanian dan perikanan. Di fase awal tersebut kami bagi pekerjaan utama jadi dua, si adik fokus untuk mencari relawan penulis dari komunitas dan kampusnya; sementara saya menyiapkan infrastruktur teknologi pendukungnya, termasuk memilih domain dan mendesain laman situs.
Dimulai dari program Kilat Start
Banyak kebetulan dalam proses pengembangan, salah satunya program Kilat Start yang diinisiasi oleh CloudKilat. Program tersebut memberikan kesempatan kepada startup pemula untuk mendapatkan dukungan teknologi dari CloudKilat secara gratis – kala itu saya berinisiatif mendaftarkan diri dan puji syukur kami jadi startup ketiga yang berhasil lolos ke program tersebut. Alhasil di tahap awal infrastruktur hosting kami didukung penuh oleh CloudKilat, ditambah dukungan domain dot id yang membuat situs kami jadi makin mentereng: farming.id.
Walaupun mendapatkan voucher gratis, saat itu kami tetap harus melakukan pendaftaran layanan domain secara mandiri – layaknya orang membeli. Ternyata prosesnya sangat mudah, setelah mengisi formulir, untuk domain dot id pengguna perlu mengunggah identitas nasional (KTP/SIM/Paspor) untuk data kepemilikan. Selanjutnya tidak perlu lama menunggu, dalam waktu yang kilat domain sudah siap digunakan. Terlebih CloudKilat juga punya layanan hosting berbasis komputasi awan yang sangat cocok digunakan untuk situs web pemula – bisa langsung terintegrasi tanpa konfigurasi ribet.
Tampilan awal situs Farming.id di perangkat dekstop dan mobile
Selain dukungan infrastruktur, kami juga berkesempatan untuk berkolaborasi dengan tim CloudKilat untuk membuat video profil dari startup yang kami dirikan. Waktu itu perwakilan tim CloudKilat datang langsung ke Yogyakarta untuk melakukan pembinaan dan pengambilan gambar. Ini juga jadi salah satu modal yang cukup berarti bagi kami untuk memulai mempromosikan bisnis.
Tim CloudKilat saat memberikan pengarahan kepada adik saya selaku co-founder Farming.id
Layanan pelanggan yang dapat diandalkan
Beberapa bulan beroperasi, dengan kemampuan pemasaran yang pas-pasan, situs kami berhasil catatkan kunjungan bulanan hingga lebih dari 50 ribu pageviews. Fitur pun terus kami kembangkan, salah satunya dengan menghadirkan kanal social yang memungkinkan pembaca berinteraksi, khususnya dengan tim penulis – waktu itu Farming.id berhasil merekrut sekitar 10 penulis dari komunitas agribisnis dan perikanan. Interaksi di media sosial juga memberikan trafik yang berarti.
Peningkatan teknologi pun menjadi salah satu konsentrasi kami. Dimulai dengan penambahan SSL untuk domain kami sehingga menjadi HTTPS. Ini pun jadi pengalaman saya untuk melakukan konfigurasi terkait. Beberapa kali percobaan sendiri (bermodal Googling) menghasilkan kegagalan, bahkan sampai situs sempat tidak bisa diakses. Setelah mentok, akhirnya mencoba menanyakan permasalahan ini kepada customer support melalui kanal pelanggan.
Responsnya sangat cepat, tanpa menunggu berjam-jam saya langsung mendapatkan asistensi. Ternyata waktu itu ada setelah yang harus dilakukan di CMS – mengikuti saran tim support saya menggunakan plugin yang mempermudah prosesnya. Dan ternyata semudah itu melakukan konfigurasi SSL. Benar-benar bantuan yang memberikan solusi, tentu selain jawaban kilat sesuai brand yang dibawa.
Makin mantap dengan traksi yang didapat, fitur baru pun terus bermunculan. Salah satu yang kami kembangkan adalah sistem crowdfunding untuk membantu petani yang mengalami gagal panen. Sederhananya, para pembaca kami bisa memberikan sumbangan dana agar para petani di pelosok dapat melanjutkan bercocok tanam walaupun harus mengalami rugi karena wabah hama maupun bencana alam.
Fitur crowdfunding yang dikembangkan di kanal Farming.id
Di masa trial-nya, kami juga sempat menggunakan layanan platform as a services KilatIron untuk mendukung pengembangan aplikasi. Karena ada kebutuhan pengembangan aplikasi dengan Java (untuk platform Android). Layanan PaaS ini ternyata sangat lengkap, bisa mengakomodasi berbagai framework dari bahasa pemrograman. Dan dasbor yang diberikan memungkinkan pengembang untuk mengelola seluruh stack dalam satu platform terpusat – sangat membantu juga karena bisa terintegrasi dengan GIT.
Aplikasi Farming.id dikembangkan untuk menjadi asisten virtual yang membantu pengguna untuk melakukan urban farming, alias bercocok tanam di rumah. Sistem dikembangkan memanfaatkan beberapa pendekatan kecerdasan buatan untuk melakukan beberapa hal, seperti memberikan rekomendasi tanaman yang tepat sesuai dengan daerah dan cuaca terkini. Aplikasi ini didesain untuk mendampingi proses penanaman sampai pengguna bisa benar-benar memanen tanaman atau buah di sekitar rumahnya – menggunakan pendekatan seperti hidroponik atau vertikultur.
Purwarupa aplikasi asisten virtual Farming.id
Kesempatan untuk terus berkembang
Untuk memvalidasi ide bisnis, saya dan adik saya waktu itu memutuskan untuk mengikutsertakan Farming.id ke dalam sebuah kompetisi. Di akhir 2017 kami menjadi peserta Hackathon yang diadakan oleh Bank BNI. Tantangannya, selain integrasi dengan API yang mereka miliki, adalah membuat solusi digital yang bermanfaat untuk sektor riil di masyarakat. Sistem crowdfunding kami suguhkan ke dewan juri. Dan sangat bersyukur waktu itu kami mendapatkan juara kedua.
Adik saya Arinda Dwi Yonida (kiri) dan saya (kanan) saat menjuarai hackathon yang diadakan BNI
Dari awal tujuan kami benar-benar ingin mendapatkan masukan dari para mentor dan juri untuk memastikan konsep yang kami terapkan sudah sesuai. Selepas dari acara tersebut, kami berkesempatan untuk bergabung dalam Bekraf for Pre-Startup, dan menjadi 10 besar startup dari seluruh Indonesia yang berkesempatan untuk melakukan pitching di hadapan investor di Jakarta. Ini juga jadi pengalaman yang menyenangkan, karena kami melakukan presentasi dari sebuah yacht di kawasan pantai Ancol. Seorang angel investor akhirnya terpikat untuk mendanai pengembangan bisnis, tertarik juga dengan konsep aplikasi Farming.id.
Aplikasi kami juga sempat menjadi top 20 dalam ajang The Next Dev yang diselenggarakan oleh Telkomsel di tahun 2018. Dan menjadi modal penting (portofolio) saya untuk mendapatkan beasiswa belajar bisnis di Australia pada tahun 2019. Tidak menyangka juga, dari situs sederhana yang kami kembangkan dengan domain dan hosting CloudKilat bisa mengantarkan banyak pembelajaran dan prestasi penting buat kami.
Pelajaran penting yang kami dapat: “ide itu harus cepat dieksekusi, kalau gagal biarlah berlalu, kalau sukses tetaplah dipangku. Pilih mitra yang tepat (termasuk penyedia teknologi), karena mereka juga berpengaruh penting pada setiap perjalanan ide kita.”













