Seiring berjalannya waktu, cara dan alasan bersyukur akan berubah.
Ketika kita belum bisa memahami hal-hal abstrak seperti konsep pahala, kebaikan berlipat ganda, dan surga neraka, kita merasa sudah bersyukur dan mengucapkan alhamdulillaah..
Alasan kita bersyukur terhubung dengan sesuatu yang berasal dari luar diri kita. Contohnya saat masih kecil, rasanya bersyukur sekali jika teman sebangku saya tidak terpilih juara kelas daripada saya. Parah memang, tapi perasaan bahwa hidup saya lebih baik daripada orang lain adalah alasan bersyukur yang saat itu cukup masuk akal.
Namun alasan tersebut tidak adil buat mereka yang nilainya paling jelek. Tidak ada yang nilainya lebih jelek lagi di kelas, apakah alasan untuk bersyukur menjadi hilang?
Sedikit banyak, cara dan alasan seperti itu masih terbawa meskipun usia tidak lagi muda.
Tapi, rasanya bersyukur juga tidak mesti sedemikian jahatnya.
Saya pikir, apakah untuk bisa menjadi seorang yang bersyukur, kita harus memulai dengan merasa lebih baik dari orang lain dan menganggap orang lain tidak lebih beruntung dari kita?
Jika kita bersyukur karena memiliki sesuatu, lantas apa yang membuat kita akan bersyukur saat kita tidak memiliki apa-apa?
Bagaimana kalau kita bersyukur bukan karena hidup kita begini di saat hidup orang lain tidak begini. Bukan karena kita memiliki ini sementara orang lain tidak memiliki ini. Bagaimana kalau kita bersyukur karena Allah sangat baik, semata-mata hanya karena Allah memang sangat baik, kepada semua makhluk-Nya.
Bagaimana jika syukur tidak lagi digantungkan pada hal-hal di luar diri kita, sehingga ada tidaknya syukur tidak lagi ditentukan oleh perihal ini dan itu.
Bagaimana jika kita memulai menjadi seorang yang bersyukur dengan sepenuhnya menyadari, bahwa bersyukur, layaknya mencintai, adalah pekerjaan mulia yang tidak mensyaratkan apapun.