Peristiwa Khandaq 5 Hijriah memang fenomenal. Di saat Kaum Muslimin terkepung, dijebak pasukan Arabia, dicekik lapar dan ditusuk dingin; Rasulullah malah memberi isyarat bahwa Umat ini akan menguasai dunia. Tentu saja ini membuat orang-orang munafik membanyol, “bagaimana bisa menguasai dunia, lha wong untuk kencing saja kita tak bisa! (karena menjaga parit)”
Beda frekuensinya, maka akan beda caranya memandang cara kerja kehidupan.
Orang-orang yang sekadar tahu, tidak akan bisa menggambarkan kekokohan orang-orang yang mengilmui dan mengimaninya. Mereka yang tak yakin, barangkali bahasa kekiniannya akan menganggap orang beriman sebagai “Kaum Halu.”
Seperti Firaun yang memandang Musa dengan remeh. Dalam pikirannya, tak akan mungkin lelaki ‘buronan’ negara dan kaumnya akan menggetarkan singgasananya, “Wahai kaumku! Bukankah kerajaan Mesir itu milikku dan bukankah sungai-sungai ini mengalir di bawahku; apakah kamu tidak melihat?” (Az Zukhruf 51)
Tahu-tahu, sudah di bibir Laut Merah. Di hadapan ada samudera bergejolak, sementara di belakang ratusan ribu kereta perang Firaun membelah padang pasir, di situlah Musa berkata amat yakin tanpa ragu,
“Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.”
Totalitas keyakinan pada Allah, diiringi ikhtiar strategis merupakan ciri sejati orang beriman. "Ketika kezaliman makin kalap, dan orang beriman makin kokoh, di situlah pertolongan Allah akan mendekat”, kata Khalifah Ali. Dan benar, situasi terbalik dengan plot twist:
Firaun pemilik Mesir itu tewas, hanya dengan guyuran air!
Bahkan di antara orang beriman, tingkat keyakinannya pada pertolongan Allah pun bisa bertingkat-tingkat. Ada yang merasa, “tak mungkin, susah sekali rasanya kita menang.” Narasi itu ada pada kisah Thalut melawan Jalut. Ketika sebagian pasukan berkata, “Kami tidak kuat lagi pada hari ini melawan Jalut dan bala tentaranya.” (Al Baqarah 249)
Abu Bakar pun pernah merasa khawatir —dan itu fitrah— ketika ia dan Rasulullah bersembunyi di Goa Tsur, "Andai mereka melihat ke bawah, mereka akan bisa membunuh kita”, Namun, setelah ikhtiar strategis bernama hijrah itu, Rasulullah mengajarkan keyakinan total pada pertolongan Allah,
“Apa pendapatmu wahai Abu Bakr, jika ada dua orang, dan Allah menjadi pihak ketiganya?”
Memang sulit secara hitung-hitungan kekuatan untuk menang, rasanya tak ada jalan selain pasrah. Begitulah yang mereka inginkan. Dunia menganggap kemenangan kita sebagai halusinasi. Utopia. Namun jika kamu lihat lembar sejarah kita; seringkali sejarah kita mengandung miskalkulasi.
Kita menang, dengan cara-cara spektakuler yang mematahkan hipotesa banyak orang.
“Dan sungguh, janji Kami telah tetap bagi hamba-hamba Kami yang menjadi rasul (dan para pengikutnya), yaitu mereka itu pasti akan mendapat pertolongan. Dan sesungguhnya bala tentara Kami itulah yang pasti menang. Maka berpalinglah engkau (Muhammad) dari mereka sampai waktu tertentu. Dan perlihatkanlah kepada mereka, maka kelak mereka akan melihat.” (Ash Shaffat 171-175)