Coaching Class #1: Cerita Pendek
[CERPEN ITU SENI!] Minggu lalu (10/3/19), Literaksi berkesempatan untuk berguru tentang cerpen langsung dari ahlinya, Kak Abdul Hadi. Kak Hadi merupakan seorang mahasiswa yang juga cerpenis dan saat ini berdomisili di Jogja. Kemarin sudah lihat story Instagram kami tentang Kak Hadi, kan? ;)
Dari "Coaching Class #1: Cerita Pendek" ini, kami mendapat banyak pengetahuan baru. Kak Hadi berpesan, agar jangan meremehkan tulisan kita, meski menurut kita jelek, tapi bisa jadi justru berharga buat orang lain. Jangan remehkan tulisan yang bersumber dari kenangan-kenangan kecil kita, karena banyak karya besar justru lahir dari kenangan-kenangan kecil dalam hidup. Harus diingat juga, kalau cerpen itu seni. Bebas. Tidak ada aturan khusus. Bisa jadi hanya bentuk dialog langsung, tanpa ada penjelasan, atau sebaliknya. Yang penting, kunci menulis cerpen adalah: FOKUS PADA KONFLIK, JANGAN MELEBAR & BERTELE-TELE.
Kalau sekiranya banyak konflik, jadikan novel. Selain itu, cerpen itu soal kreativitas: bagaimana penulisnya bisa menyuguhkan hal-hal yang dilihat setiap hari menjadi tulisan yang apik, sudut pandang yang unik, dan fresh! Saat menulis cerpen, penulis tidak mengikutkan emosinya saat menulis, melainkan emosi tokoh yang "bermain" dalam cerita. Fenomena ini dikenal dengan istilah penulis mati. Ini demi totalitas dalam berkarya, hehe. Oiya, Jangan sedih kalau belum ada yang memberi apresiasi saat membaca karya kita. Ingat baik-baik bahwa tulisan kita bukannya jelek, hanya belum bertemu dengan pembaca yang tepat. Ini soal segmen pembaca, Bung! Jangan berhenti berlatih :)
Terakhir, seperti kata Stephen King,
"If you want to be a writer, you must do 2 things above all others: read a lot and write a lot."
Salam Literaksi, #salamliterasi. Sampai jumpa lagi di CC#2!

















