Impian
Oleh: Affinsyah Arrafiqah Rahmah
Seorang gadis SMA baru saja turun dari angkutan umum yang mengantarkannya pulang ke rumah. Ia berjalan sangat pelan sambil menundukkan kepalanya, menatap sepatu ketsnya yang bergesekan dengan jalan. Pikirannya sangat berkecamuk hingga ia tidak sadar bahwa dirinya sudah berada di depan pagar rumah berwarna hijau tua. Rumahnya.
Ayara Prisha, nama gadis itu. Ia membuka pintu dengan cepat tanpa mengucapkan salam, tentu saja ibunya menjadi kaget.
“Mana salamnya?”
“Assalamu’alaikum.” Jawabnya dengan suara sangat lemah seperti anak yang belum makan seharian.
“Nah gitu dong. Wa’alaikumsalam.” Ibunya tersenyum dari arah dapur karena sedang sibuk memasak untuk makan siang.
Alih-alih berbincang kembali dengan ibunya, ia justru langsung masuk ke kamarnya. Lebih tepatnya, mengunci diri di dalam kamar. Tak lama kemudian, terdengar suara musik keras yang sangat memekakkan telinga datang dari arah kamar Ayara. Lagu-lagu K-Pop kesayangannya.
Iringan lagu tersebut membuat pikiran Ayara terbang kemana-mana, kemudian sampai pada suatu momen yang tidak bisa ia lupakan hingga hari itu.
“Sebentar lagi kamu akan lulus SMA, kemudian kuliah. Kamu sudah tahu ingin kuliah di jurusan apa?” tanya seorang lelaki paruh baya berumur 51 tahun yang sedang duduk menghadap layar televisi.
“Aku ingin kuliah di jurusan Bahasa dan Sastra Korea, yah. Atau sekolah fotografi.” Ayara memandang ayahnya dengan mimik wajah penuh berharap.
“Ngapain kamu kuliah jurusan itu? Kamu kuliah di Bahasa Korea karena Oppa-Oppa koreamu itu kan? Nyanyi-nyanyi, nari-nari nggak jelas. Buat apa, Nak.. Kan Ayah sudah bilang, hal seperti itu sama sekali nggak ada manfaatnya buat kamu. Itu banyak mudharatnya, Nak.. Dalam agama Islam dilarang umat muslim mengikuti orang-orang kafir. Musik itu haram.. Kan kamu sudah tahu hukumnya.” nada bicara Ayahnya tiba-tiba naik drastis, memperlihatkan amarah yang tersembunyi.
“Tapi, Yah, aku ingin kuliah disana bukan karena mereka. Aku ingin belajar tentang budaya Korea. Aku ingin belajar bahasa Korea. Kan nggak ada salahnya kalau aku bisa menguasai bahasa asing selain Bahasa Inggris?” Ayara terbawa emosinya. Air matanya mulai berlinangan.
“Ya kalau kamu ingin belajar bahasa asing, alangkah lebih baik kamu belajar bahasa Arab. Bahasa Arab digunakan dalam kehidupan kita sebagai umat muslim, dalam bacaan sholat, dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Lebih baik kamu belajar itu saja, bisa menambah pahala. Sebenarnya Ayah bukannya melarang kamu. Ayah hanya memberikan nasehat agar kamu tidak melenceng dari ajaran agama, Nak. Ayah ingin kamu bermanfaat di dunia dan akhirat.” Ayahnya menghela napas dalam-dalam dan beranjak dari tempat duduknya, berlalu begitu saja.
Ayara tahu, kalau sudah begitu, ia tidak bisa berbuat banyak. Ia hanya harus menuruti perkataan ayahnya. Tapi, bagaimana bisa? Kuliah di jurusan Bahasa Korea adalah impiannya. Hasratnya untuk berkuliah disana sangat besar, yang ia sendiri sulit untuk membendungnya.
Ayara beranjak dari ruang tengah, kembali masuk ke dalam kamarnya. Ia merasa lelah. Bukan badannya, tapi pikirannya. Semakin ia pikirkan impiannya, ia tetap saja tidak bisa merubah keadaan.
Karena impiannya hanyalah sebuah impian.











