Heritage commodification is the process by which cultural themes and expressions are assessed i terms of their exchange value.
seen from China
seen from China
seen from United States
seen from United States
seen from Japan
seen from Russia
seen from Germany
seen from United States
seen from China

seen from Bangladesh

seen from Singapore
seen from Paraguay

seen from United States
seen from Russia

seen from Nepal
seen from South Africa
seen from Jamaica
seen from United States

seen from India
seen from Venezuela
Heritage commodification is the process by which cultural themes and expressions are assessed i terms of their exchange value.
Menolak Wisata, Menjadi Warga Dunia? Analisis Identitas Backpacker sebagai Subjek Wisata Alternatif oleh Lisistrata Lusandiana
Identitas backpacker: berebut ruang dalam budaya keseharian ABSTRAK 2014
Industri wisata yang berjalan beriringan dengan wisata massal melahirkan banyak kritik dan respon terkait dengan dampak yang ditimbulkannya. Respon berupa kritik tidak hanya diramaikan oleh akademisi sosial yang menyingkap dampak ekonomi, sosial dan budayanya, akan tetapi juga lahir dari organisasi berskala global, seperti PBB, yang kemudian mengkampanyekan model wisata alternatif. Ramainya kritik yang ditujukan terhadap fenomena wisata tersebut tidak membuat industri wisata semakin surut, sebaliknya, sejalan dengan berkembangnya globalisasi, industri wisata memantapkan diri melalui neoliberalisasinya. Di tengah kondisi tersebut, muncul suatu pola wisata yang banyak disebut sebagai alternatif, wisata backpacking. Kehadiran para backpacker ini memunculkan harapan akan adanya wisata alternatif sekaligus pertanyaan lanjutan untuk betul-betul dicermati. Penelitian ini merupakan usaha untuk melanjutkan pertanyaan-pertanyaan seputar wisata backpacking tersebut. Dari situlah, penelitian ini menempatkan fokus pada identitas dan identifikasi backpacker.
Penelitian ini dilakukan di kota Jogjakarta, yang cukup terkenal dengan wisata budayanya. Dengan pendekatan imajinasi etnografis, penelitian ini berupaya menyajikan kompleksitas dan warna-warni dunia backpacker yang sempat singgah ataupun sementara tinggal di kota Jogja. Dari pendekatan imajinasi etnografis, penelitian ini mampu menyingkap ironi yang hidup pada fenomena wisata backpacking. Ironi tersebut kemudian dilanjutkan ke dalam diskusi mengenai konflik laten yang terjadi antara backpacker dengan ruang wisata neoliberal dan dirinya sendiri.
Untuk kepentingan tersebut, tesis ini pertama-tama menelusuri awal mula munculnya interaksi antara warga setempat dengan pendatang dari jauh yang kebanyakan warga Eropa, di Indonesia, khususnya di Jogja. Dari penelusuran tersebut kita bisa melihat kemunculan pelancong pada jaman pra kolonial hingga paska kolonial dan sampai pada munculnya backpacker di Jogja. Penelusuran tersebut dilakukan dengan penulisan sejarah wisata di nusantara hingga kota Jogja. Setelah itu, dilanjutkan dengan penelusuran atas gaya hidup backpacker yang ditemui di Jogja. Dengan memaparkan budaya backpacker tersebut, penelitian ini juga menggarisbawahi wacana dominan yang menjadi poin perdebatan dan analisis. Dalam analisis terlihat bahwa membicarakan gaya hidup dan bepergian alternatif berarti membicarakan konflik perebutan ruang yang terjadi dalam masyarakat modern kapitalis. Yang kemudian didiskusikan ialah sejauh mana perebutan ruang tersebut membawa transformasi dan emansipasi.
TENTANG PENULIS
Lisistrata Lusandiana adalah peneliti yang besar dan tinggal di Jogjakarta. Ia pernah meneliti tentang politik identitas Backpacker yang ia beri judul dengan "Menolak Wisata, Menjadi Warga Dunia? Analisis Identitas Backpacker sebagai Subjek Wisata Alternatif."
hashtags: backpacker, political identity, alternative tourism, ethnographic imagination, commodification of culture, industry of transportation, travel lifestyle