Gokil ya, ternyata jadi sholeh tuh susahnya ampun-ampunan.
Kayak, bayangin lu punya prinsip yang lu sangat senggol bacok terhadap itu, terus ternyata di satu waktu, lu diuji mengenai prinsip itu dan lu sebenarnya sadar bahwa itu ujian. Bahkan konyolnya malah sengaja menempatkan diri dalam kondisi diuji.
Lalu perlahan, simpul pegangan ke prinsip itu lepas satu persatu, sambil bikin excuse macem-macem ke diri sendiri karena sebenarnya sadar kelalaian lu tuh ga sesuai sama ideal self yang pengen lu bangun. Konflik batin lah tuh. Ambyarrr.
Bener-bener ga ada yang bisa disombongin dari istiqomahnya kita hari ini. Mentang-mentang ga pernah, bukan berarti ngga akan kena dan jatuh di sana. Mentang-mentang taat garis keras, bukan berarti ngga akan lalai.
Kalau kata seorang bapak-bapak yang kudengar kemarin, "perbarui ikatanmu dengan Allah. Pengetahuan dan imanmu selama ini mungkin cukup untuk menjaga dirimu tahun ini. Tapi bagaimana dengan tahun depan, dengan diri yang ujiannya bertambah dan segala konteksnya berubah?"
Dalam pembaruan, salah satu yang penting adalah setiap diri perlu aware terhadap dorongan-dorongan dalam dirinya. Sombong banget lah kalo ada yang ngaku terbebas dari itu hanya karena ngga pernah ngelakuin dosa-dosa yang umumnya dilakuin orang-orang. Kita manusia bukan malaikat boy. Sadari, namai, akui itu ada, pahami sumbernya, diferensiasi, terus cari gimana ngakalinnya supaya dorongannya ngga ngegas lagi, tapi diri tetep terpenuhi kebutuhan egonya dengan cara yang benar.
Lagian Allah juga menghadirkan diri kita ke dunia, bukan agar kita "menghapus" diri sendiri beserta pretelan di dalamnya. Allah tuh menghargai eksistensi kita, sampai level atomik. Beserta seluruh kurang lebihnya as human being.
Jadi dorongan itu akan tetap ada, sehingga yang perlu menyertainya adalah kemampuan regulasi (self control). Kayak mobil, ya mesinnya tetep ada karena tetep perlu ngegas buat maju. Yang penting setir dan remnya juga harus ada. Supaya alokasi dorongan-dorongannya ngga lagi ke arah kejahatan.
Dan kemampuan regulasi itu berbanding lurus dengan banyak variabel kayak iman (udah jelas), ilmu pengetahuan, pengalaman dan jam terbang, kesediaan dimuridkan Allah, rasa takut, harap, dan cinta pada Allah, keterhubungan yang sehat dengan keluarga dan teman-teman baik, serta kehadiran guru/mentor kehidupan (masih banyak variabel lainnya sih).
Adapun soal sholeh sendiri, mungkin itu yang sering disebut, "manusia tuh ga pernah selesai dengan dirinya". Maksudnya, algoritma manusia tuh akan selalu nge-running.
Hanya saja, kalau kata Cania mah, "simple bukan berarti easy". Simple mah bahasa framework, easy mah bahasa algoritma.
Realistis aja, pasti ada hambatan saat running algoritma itu, sehingga framework atau prinsip atau rumusan yang simpel juga bakal nggak easy buat dijalanin.
Secara rumusan mungkin simpel, kek "jika x maka y, jika menjauhkan dari Allah, maka tinggalkan", tapi dalam prakteknya kan pasti ada aja nangis-nangisnya dulu, marah-marahnya dulu. Di sinilah kerasa sulitnya menyelaraskan realita diri dengan cita-cita diri. Dan soleh sendiri akhirnya berarti kongruensi. Selarasnya niat, langkah, dan tujuan.
Kita mungkin "selesai" di level framework (pohon) tapi kita nggak pernah "selesai" di level algoritma.
Mungkin pohonnya mah udah jadi, udah ada di dalem diri. Cuma di dalam pohon itu kan selalu ada proses kecil yang berjalan. Kalo cuaca buruk/lingkungan ga memadai/pohon emang sedang tidak baik-baik saja, mungkin penyaluran nutrisi ke seluruh bagian pohon ngga bisa berjalan dengan baik.
Tapi bahkan kenyataannya, framework juga bakal selalu menerima update kok biar ga nge-bug. Banyak pieces yang bisa dilepas pasang juga sesuai kebutuhan, seiring bertambahnya koreksi dan pengetahuan/pengalaman baru.
Atau bahkan, bisa aja ada pemindahan kiblat/peralihan sudut pandang besar-besaran (paradigm shifting). Ini lain cerita.
At the end, sumpah, jadi soleh itu susah. Mudah-mudahan kita selalu aware pada hal-hal yang kontraproduktif (yakni nafs ammarah) dalam proses kita mencapai ideal self kita. Mudah-mudahan kita juga baik-baik sama orang yang lagi berproses dan punya mata yang baik saat lihat orang yang sudah melakukan yang terbaik untuk hidupnya. Dunia sudah kejam dan kita cuma punya satu sama lain untuk selamat.
— Giza, tulisan nggak rapi dan males ditinjau, cuma mau lempar kesadaran dan koneksi pikiran aja.











