Halo! Lama gak cerita di sini, tapi kabarku baik kok. Masih hidup, aman terkendali. Oh iya, FYI, The Wild Robot B-A-G-U-S! Kalau sempat (dan niat) nanti aku buat review sotoynya (itu juga kalau ingat).
Sekarang mari kita tinggalkan jejak sebentar dan cerita soal ujianku kemarin.
Jadi, semuanya berawal dari kebiasaan mamak-mamak pada umumnya yang nge-forward info pendaftaran CPNS ke anak-anaknya, begitu pula mamaknya Faza.
"Dicoba aja kalau ada yg cocok", kata Ibu. Mungkin khawatir kali ya anaknya belum kelihatan progress apa-apa. (Iya, tau kok. Semua orang khawatir, apalagi aku sendiri 🙂). Akhirnya mulai cari tahu formasi mana aja yang mungkin cocok dengan jurusan S1.
Ternyata nyari posisi yang cocok tuh sesusah nyari jodoh ya. Wkwk. Tapi beneran. Giliran ada yang pas, penempatannya di IKN. Ada lagi yang pas, ada syarat TOEFL. Ada juga syarat bebas buta warna. Sampai akhirnya nemu formasi yang sesuai jurusan, jadi analis standardisasi, tapi ternyata formasinya cuma 1 orang, dan peluangnya sangat kecil.
Karena masih setengah hati, pendaftarannya aku tunda dulu, dan (seperti biasa) daftar di detik-detik terakhir. Inget banget waktu itu hujan gak berhenti dari pagi, dan berhenti sebentar jam 9.30 malam. Aku berniat buat nyari fotocopy yang masih buka dan bisa print-scan-dan jual materai. Kalau nggak nemu ya udah, gak jadi daftar. Untungnya fotocopy di bawah kost masih buka, dan akhirnya bisa daftar di detik-detik terakhir.
Pas foto yang dipakai juga sebenarnya gak sesuai ketentuan, karena pakai foto ijazah S1 yang diganti backgroundnya pake PPT. Jadi gak berharap banyak kalau bisa lolos seleksi administrasi. Tapi ternyata lolos juga. Pengumumannya lebih lambat dibanding kementrian lain, dan pengumuman tanggal tesnya juga lebih lambat lagi. Tapi masih ada 2 minggu kurang untuk persiapan tesnya.
Aku baru tahu kalau tes CPNS bentuknya kayak gitu. Ada 110 soal, yang terdiri dari Tes Wawasan Kebangsaan, Tes Intelegensi Umum, dan Tes Karakteristik Pribadi, dalam waktu 100 menit. Waktu coba ngerjain TO online ternyata cukup keteteran juga. Aku jadi sadar kalau kemampuan reading comprehension dan manajemen fokusku sekarang beneran memburuk. Apa gara-gara terlalu lama di internet, sering scroll medsos dan jarang baca buku ya? Mari kita biasakan baca buku dan menulis lagi mulai sekarang. Semoga bisa, wkwk.
Dan akhirnya waktu tes datang juga. Aneh aja rasanya ikut tes yang harus pakai seragam, kemeja putih, kerudung-celana-sepatu serba hitam, berasa jadi anak sekolahan yang lagi mau UN. Prosedurnya juga cukup ketat, harus datang 90 menit sebelum tes, dan pesertanya lumayan banyak. Kayaknya 1 sesi ada sekitar 250 orang. Beneran kayak ujian anak sekolah.
Waktu awal-awal ngerjain tesnya agak ngeblank, rasanya buat baca soal aja harus diulang-ulang, dan jawabannya juga mirip-mirip. Kayaknya memang salah strategi, jadi banyak waktu yang kebuang buat baca soal. Malah soal-soal hitungan aku kerjakan terakhir, bikin panik dan akhirnya gak fokus. Ya sudah, jadikan pelajaran saja.
Akhirnya dapat skor akhir 430, gak jauh beda dari skor TO ku yang terakhir, tapi masih di bawah target. Targetku sampai ke 450 atau 500 kalau mau aman. Waktu nilai keluar akhirnya cuma bisa nyengir aja.
Ya pantes gak dapet nilai sesuai target, orang usahanya aja minimal. Gimana mau dapet hasil maksimal coba? 🙃
Tadi aku penasaran dan nyari skor kandidat lain, dan ternyata sejauh ini sudah ada 3 orang yang nilainya di atas 430, itupun masih ada tes terakhir tanggal 11 nanti. Jadi dapat dipastikan aku gak lolos. Ya sudah, mari kita coba lagi lain kali.
Nilai segitu untuk percobaan pertama gak buruk-buruk banget lah ya. Anggap aja pengalaman pertama, jadi punya gambaran dan dapet banyak pelajaran yang bisa diambil buat tes selanjutnya.
Pelajaran dari tes kemarin:
Siapa tahu tahun depan beneran berminat daftar.
Berlaku juga buat kehidupan keseluruhan.
Beneran deh, segala sesuatu itu bergantung sama niat. Kalau niatnya cuma buat main-main ya usahanya juga gak akan maksimal. Kalau niatnya cuma buat nyenengin hati orang tua apalagi, malah rasanya terpaksa buat ngejalaninnya. Harus bener-bener punya tekad yang kuat dan niat yang bener biar bisa menikmati semua prosesnya.
Kata orang, “gagal mempersiapkan berarti mempersiapkan kegagalan”. Sebenarnya gak sepenuhnya setuju dengan statement ini, tapi memang ada benarnya juga. Intinya kita harus mempersiapkan diri semaksimal mungkin, semampu kita, masalah hasilnya berhasil atau gagal sudah urusan yang di atas. Kata “gagal mempersiapkan” di sini mungkin lebih mengarah ke persiapan yang belum maksimal (atau malah usaha yang dikeluarkan sangat sedikit). Kalau usaha kita sudah maksimal tapi tetap gagal ya sudah, gak akan ada penyesalan, karena memang tidak “gagal mempersiapkan”.
Persiapan yang maksimal butuh waktu. Semuanya butuh proses dan waktu yang gak sedikit. Walaupun menjadi deadliner sepertinya sudah jadi kebiasaan (buruk) ku, tapi sudah seharusnya aku mulai mengurangi kebiasaan ini. Dari sekian banyak waktu yang ada untuk bersiap, ya gunakanlah sebaik mungkin. Ada ratusan orang lain yang sama-sama berjuang meraih hal yang sama. Dengan persiapanmu yang singkat apakah sudah layak untuk disebut “berhasil mempersiapkan?”
Mari kita persiapkan keberhasilan itu 🫡
Seperti berperang, ujian juga perlu strategi. Urutan pengerjaan soal, sampai cara menyelesaikannya secepat mungkin. Gimana cara tahu strategi yang tepat? Sering latihan. Semakin sering berlatih, kita bakal semakin paham kelemahan dan kekuatan diri kita.
Dari tes kemarin aku sadar kalau harus mengasah lagi skill membaca cepat dan memahami konteks pertanyaan. Setelah tes aku sadar kalau sepertinya soal-soal panjang tentang kepribadian dan wawasan kebangsaan gak perlu dibaca seluruhnya. Cukup cari jawaban yang paling sesuai dengan konteks dan tema soal. Jadi gak perlu bolak-balik baca soal yang akhirnya malah jadi gak fokus. Harus pintar-pintar ngatur waktu juga, tapi harus tetap tenang dalam saat yang bersamaan.
Ini semua bisa dilatih dan strategi yang sesuai bisa diperoleh kalau apa, teman-teman?
Yak, betul.
Kalau sering latihan dan mempersiapkan dengan matang 😀
Kalau semua usaha sudah dikeluarkan, hal terakhir yang bisa dilakukan hanya berserah. Percaya kalau apapun hasilnya pasti itu yang terbaik. Kalaupun gak sesuai dengan harapan, artinya kita dapat pelajaran. Pasti akan ada jalan lain yang lebih baik dan menunggu untuk diusahakan.
Berserah loh ya, bukan pasrah. Berserah artinya kita sudah berusaha semampu kita, dan menerima apapun hasilnya. Kalau pasrah berarti kita belum berusaha dan akhirnya menyerah.
Jangan lupa berdoa. Se-bagus apapun usahanya, kalau Allah gak mengizinkan ya gak akan tercapai. Minta doa orang tua dan orang-orang terdekat. Berbuat baik sama semua orang. Kita gak tahu doa siapa yang dikabulkan, kan?
Terakhir banget. Ini apresiasi buat aku yang sudah mencoba dan berusaha. Mungkin ini bukan usaha terbaikku. Niat dan doa nya juga masih kurang. Tapi setidaknya sudah berani mencoba. Kita gak akan pernah tahu rasanya kalau belum mencoba, kan?
Terima kasih sudah mencoba.
Jadikan ketidakberhasilan (gak mau nyebut kegagalan wkwk) sebagai pelajaran. Skor segitu untuk percobaan pertama sudah baik, kok. Kita coba lagi kapan-kapan.