The Duchess of Cambridge laughs during Britain's Creative Industries Event, "Creativity is GREAT", at NeueHouse on Day 3 of The Royal Tour of New York City on December 9, 2014.
seen from United States
seen from Canada

seen from United States
seen from United States
seen from Canada

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States
seen from Réunion
seen from China
seen from United States
seen from United States

seen from Singapore
seen from United States
seen from Australia

seen from Türkiye

seen from Malaysia
The Duchess of Cambridge laughs during Britain's Creative Industries Event, "Creativity is GREAT", at NeueHouse on Day 3 of The Royal Tour of New York City on December 9, 2014.
In terms of perception ( Beauty of creativity)
We human-beings have always been inspired by the creations of nature which resulted in series of different types of symmetrical design with all vivid colours and wondrous energy designed for various purposes mostly in the form of permutaions and combinations is some sort of a reflection of creator itself.
A bit of honesty for this blog
//I'll be honest with y'all. I'm not going to post a bunch of rp memes and such. Not because I don't like them, but because I like to see what you guys can come up with yourselves. Whether that be questions for the muse or a starter you want to send to me as a thread. I'm a creative person, so usually, even I won't use the memes unless they seem like a good idea to start something or ask a question. I'm just that type of person.
//I really hope to see what you all come up with in future posts!
—Admin Amelia
When the creative spirit stirs, it animates a style of being: a lifetime filled with the desire to innovate, to explore new ways of doing things, to bring dreams of reality.
Keep it up honey, don't ever give up on your creativity.
Happy Pills.
FA
Senjamulai merangkak, namun mendung menutupi langit. Tak menyisakan sedikit semburatmerah untuk dinikmati mata manusia. Jalanan sedikit basah oleh gerimis yang pelan-pelan turun, seolah menyulut nuansa sendu sore itu. Kawasan pertokoan dan kafe di salah satu jalan yang menghubungkan wilayah di London Utara dengan stasiun kereta terlihat sepi, hanya satu dua orang berjalan terburu-buru, setengah berlari dengan mengatupkan jaket atau tudung hoodie-nya. Beberapa yang membawa paying memilih berjalan di pinggir, memberi jalan bagi yg lain. Sisanya, lebih memilih menunggu gerimis reda di emperan toko atau masuk ke dalam kafe, hanya untuk memesan segelas kopi penghangat tubuh.
Di Café Gunner, salah satu kafe di kawasan itu, duduk dua orang yang tak acuh dengan sekitarnya. Keduanya duduk saling membelakangi, menghadap mejanya masing-masing. Sendirian.
Di mata orang lain, mungkin mereka hanya pejalan kaki yang memutuskan untuk menunggu gerimis reda. Yang satu hanya ditemani secangkir kopi yang asapnya mengepul tipis, sedangkan satunya membaca buku, dengan satu tangan mengangkatnya lebih dekat dengan wajahnya yang dihiasi kacamata. Tapi tak begitu. Mereka kenal satu sama lain. Terlalu kenal.
“Bagaimana?” ucap pria berkacamata, sedikit lirih, seolah hanya bergumam pada diri sendiri.
“Yah…aku berhasil menjadi kapten. Aksesku sekarang lebih banyak.” Jawab pria satunya, sambil mengaduk kopi di depannya.
“Jadi….kamu sudah tau semuanya?” buku di tangannya sedikit turun. Matanya melirik sekitar.
“Aku pikir….iya.” Nada suaranya sedikit bergetar. Dihisapkan aroma kopi yang membaur bersama uap hangat, sebelum meneguknya pelan.
Di luar hujan semakin deras. Jalanan semakin sepi. Beberapa took menutup pintunya rapat-rapat, menghalangi tampias hujan yang bergerak bebas. Beberapa orang yang berdiri di emperan semakin berdempetan, semakin mendekat satu dengan yang lain, seolah berniat menghalangi udara dingin yang perlahan mulai terasa menusuk.
Si pria berkacamata memperbaiki letak kacamatanya, sebuah gerakan sia-sia, karena pada akhirnya kacamata tetap di posisi semula. Dia menutup bukunya.
Berdeham. “Ehemm…Kamu masih ingat kan tujuan kita?” pundaknya sedikit menegang. Pria satunya meletakkan kembali gelasnya.
“Jangan bilang kamu lupa. Atau…kamu mulai bimbang?”
Pria satunya masih diam. Dalam keheningan, tanpa disadari pria berkacamata, dia menarik nafas dalam, menghembuskannya perlahan, berbaur dengan uap hujan yang mulai mengembun di dinding kaca.
Satu detik. Lima detik.
“Ya…aku masih ingat.” Akhirnya dia membuka suara. Dia bisa mendengar suara kekehan pelan lawan bicaranya.
“Bagus…kita merencanakan ini sudah lama. Jangan ragu! Apapun yang kamu alami di sana beberapa tahun ini, lupakan. Termasuk orang-orangnya.”
Pria itu hanya memandang kopi pekat di depannya. Mencari bayangannya di sana. Mencari dimana jati dirinya selama ini. Siapa dia, darimana dia berasal, apa tujuan hidupnya.
Dari permukaan pekat kopi seolah memantul wajah-wajah yang menemaninya beberapa tahun ini, wajah tertawa ketika menang, wajah menangis ketika kalah, wajah kelelahan dengan keringat bercucuran, wajah tersenyum di ruang ganti, wajah bijak kepala pelatih….dan wajahnya sendiri yang ikut di keramaian itu.
“Aku sudah menyiapkan semuanya. Waktu kita semakin habis. Bos sudah kehilangan kesabarannya. Rencana kita harus segera dilaksanakan.” Kata-kata pria berkacamata memecah lamunannya.
“Eee…apa kita memang harus melakukannya? Apa tidak ada cara lain lagi? Atau…bagaimana kalau kita berbicara lagi pada Bos?” nafasnya memburu, kata-kata keluar dengan cepat.
“Hey!!!” bentak si pria berkacamata, cukup keras untuk didengar lawan bicaranya, tapi cukup pelan untuk didengar orang lain. Kata-katanya berhenti, menggantung, menunggu seorang pelayan yang berjalan melewati mereka untuk mengantar pesanan.
Pria berkacamata melanjutkan,”Jangan bodoh. Kita sudah tak bisa negosiasi lagi. Tak ada tawar menawar. Kamu tahu kan, nyawa kita taruhannya.”
Pria satunya hanya menundukkan kepala. Kopi di depannya tak lagi mengepul, mendingin.
Si pria berkacamata meletakkan bukunya di meja. Kemudian berdiri. “Kita akan melakukannya. Tak ada kata mundur. Waktunya telah ditentukan.” Ucapnya sambil membetulkan dasi, lagi-lagi suatu gerakan yang sia-sia, karena dasinya masih tetap di posisi yang sama.
“Siapkan detilnya. Juga siapkan dirimu.” Ucapnya, sambil berjalan melewati lawan bicaranya, menuju pintu keluar kafe, lalu menerobos hujan yang tak juga reda.
Pria satunya masih duduk terdiam sambil menahan nafas, mencoba berkompromi dengan emosinya yang tak stabil. Beberapa detik kemudian, dia baru terlihat bergerak, memutar otot kepalanya menengok ke belakang, tempat yang tadi diduduki si pria berkacamata.
Di meja itu hanya ada gelas kosong dan buku yang tadi dibaca. Creativity is GREAT, judul buku itu. Pria itu berdiri dan mengambilnya, membuka halamannya satu demi satu. Ada secarik kertas bertuliskan catatan di sana.
“25 April 2015
02.05”
Pria itu menatap catatan itu lama. Kemudian mengalihkan pandangannya pada hujan yang tergambar di dinding kaca kafe, memantulkan ekspresi yang belum pernah ditunjukkannya selama ini. 3 hari lagi.
******
Breaking News. Ditemukan mayat di dekat ruang penyimpanan piala klub sepakbola Arsenal di Emirates Stadium. Korban dikenali sebagai Kazuhiko Naoki, pemain Arsenal yang baru saja ditunjukan sebagai kapten 3 bulan yang lalu. Penyebab kematian diduga karena pukulan benda tumpul di belakang kepala, mengakibatkan luka yang berujung kematian. Darah tampak berceceran di sekitar mayat. Waktu kematian diperkirakan dini hari sekitar pukul 02.30. Saksi yang menemukan korban adalah Henry, karyawan bagian perawatan lapangan, pada pagi hari pukul 07.35. Dari olah TKP mengindikasikan korban tewas akibat pencurian, karena Piala FA yang dimenangkan Arsenal tahun lalu juga menghilang. Saat ini sedang dilakukan investigasi oleh kepolisian London Utara terkait tindakan kriminal ini.
Belum diketahui pula alasan korban berada di tempat ini pada dini hari.
Demikian Breaking News hari ini.
******
Hujan masih mengguyur London Utara sore ini. Senja masih sama, masih tertutup mendung. Di sebuah kafe bernama Café Gunner, duduk seorang pria berkacamata, di depannya ada segelas kopi pekat yang asapnya mengepul dan di tangannya ada sebuah buku berjudul Creativity is GREAT. Di sampul depannya terdapat beberapa titik bercak merah.
Mata pria itu berembun.
Dan hujan belum juga reda.