Kalau rata-rata enam puluh sampai tujuh puluh tahunan mungkin baru sepertiganya aku habiskan. Dalam perjalanannya di seperempat abad ini banyak hal yang terlewati, banyak cerita, banyak canda dan banyak pula duka. Pertumbuhan karakterku bagaikan berjalan di tempat, entah kenapa aku hari ini masih sama seperti diriku yang dulu. Kedewasaan, kebijaksanaan dan kemandirian yg seharusnya sudah mulai mengeluarkan kelopak daun pertamanya belum juga muncul ke permukaan. Mungkin asupan air, nutrisi dan oksigenku kurang, mungkin pula aku masih dalam kegelapan masa lalu yang selalu menghantui dan menyebabkanku berpaling dari cahaya mentari kemandirian.
Dulu umur segini bapak sudah punya anak pertama, bekerja banting tulang mencari uang untuk makan di esok hari. Pun demikian dengan ibuku yg kadang ikut konsinyasi di warung dengan menjajakan bakwannya. Perjuangan itu tak akan pernah terlepas dari ingatanku, perjuangan itu yang selalu menjadi motivasi kuat untukku mengarungi samudera kehidupan ini.
Jadi, jatah hidup atau masa aktif nyawa ini tinggal berapa tahun lagi?
Itu hanya Allah yang maha tahu, mungkin besok atau lusa masa aktif kita habis. Maka ada pepatah berkata:
Bekerjalah untuk urusan duniamu seakan-akan engkau hidup selamanya dan beribadah lah untuk akhiratmu seakan-akan engkau mati esok hari.
اعمل لدنياك كأنك تعيش ابدا واعمل لآخرتك كأنك تموت غدا.
Untuk kamu yang sedang menunggu aku lamar. Mungkin agak sedikit tertunda jadi tenang saja, aku pasti akan datang. Dengan senyuman manis dan buah kedewasaan. Paling sekitar satu atau dua tahun lagi aku datang.
Oiah aku lupa katanya umur dua puluh lima itu masuk dalam waktu waktu krisis, dalam artian bakal banyak tantangan baru yang belum dirasakan akan hadir di depan mata. Aku akan berusaha sekuat tenaga bahkan sampai tenaga terakhir pun aku tetap berusaha melewati waktu krisis ini. Jadi maukah kamu melewatinya bersamaku?