Mengejarmu tak pernah membuatku lelah
Bagiku ini adalah sebuah perjuangan, yang mana kelak akan menjadi bukti untuk anak-anak bahwa ayah mereka adalah seorang pejuang.
Mendapatkanmu merupakan sebuah pencapaian terbesar dalam hidupku. Aku yang selama ini tak pernah memiliki tujuan pada akhirnya memutuskan satu hal yang dituju yaitu kamu.
Berkaitan dengan perjuangan ini bolehkah aku bercerita? Tapi mungkin cerita ini pernah kau dengar dan agak sedikit membosankan.
Cerita ini tentang pangeran dan putri sepatu kaca. Sang pangeran dan sang putri hanya pernah bertemu sekali dan itupun sangat singkat tanpa perkenalan sama sekali hanya menyisakan sebuah sepatu, ya betul sekali itu adalah sepatu kaca dan dari sanalah asal nama putri sepatu kaca.
Keesokan harinya apa yang pangeran lakukan? Berjuang, mungkin ini kata yang paling tepat dengan apa yang pangeran lakukan. Berlari kesana-kemari menelusuri seluruh penjuru kota, mengetuk semua pintu rumah, bertanya kepada semua putri yang ditemui dan memberikan sepatu untuk dicobanya.
Namun setiap perjuangan tak pernah lepas dari hambatan. Semakin besar apa yang diperjuangkan semakin besar pula hambatannya. Kau tau apa yang jadi hambatan bagi sang pangeran? Ya tebakanmu kali ini benar, ibu tiri dan kedua anaknya yang tinggal serumah dengan putri kaca. Serapi apapun mereka menyembunyikan sang putri dari sang pangeran mereka tak kan pernah bisa melakukannya. Kau tau kenapa? Karena setiap perjuangan memiliki keajaiban.
Oiah aku punya satu cerita lagi. Tentang Layla dan Majnun. Pertemuan mereka sangatlah singkat, namun itu menyisakan rasa yang membuat asa bagi Majnun untuk berjuang. Menyisakan malam-malam yang menyesakkan baginya. Ia terus mencari kesana-kemari hingga tiba pada sebuah pasar. Kemudian berteriak-teriak
"Laylaku laylaku kemanakah engkau pergi?"
"Laylaku laylaku dimanakah engkau gerangan?"
Ketidaktahuan atas keberadaan sang putri bukanlah suatu hambatan yang besar bagi Majnun, akan tetapi cibiran dan hardikan orang-orang yang berada di pasar menganggapnya gila dan memanggilnya dengan julukan "Majnun" yang bermakna orang gila dalam bahasa Arab. Namun baginya hambatan ini hanyalah ujian dan ia tetap mencari sang kekasih tanpa memperdulikan cibiran tersebut.
Tak pernah ku pungkiri bahwa dalam memperjuangkanmu ada sebagian hambatan yang ku ketahui ada pula yang tak ku ketahui layaknya ibu tiri putri sepatu kaca dan cibiran orang-orang pasar seperti cerita diatas yang terus menghasut untuk membuat sang pangeran menyerah, namun itu semua tak bisa mengikis semangatku bahkan menambah keyakinanku bahwa kau memang layak untuk diperjuangkan.
Walupun aku tak layak mendapatkan akhir cerita bagaikan pangeran dan putri sepatu kaca yang berakhir bahagia, namun aku pun belum siap untuk berakhir seperti Majnun yang di temukan di ujung jalan sebagai seonggok daging tak bernyawa yang tak pernah menemukan sang kekasih Layla.
Pada akhirnya dalam setiap perjuangan pasti akan selalu ada sebuah keajaibannya sendiri dan aku percaya itu. Semoga.