You are Good enough
Photo by Nik on Unsplash
Tulisan kali ini mungkin sedikit santai sebagai bahan permenungan bersama juga, belum lama ini, dalam pekerjaan saya menghadapi krisis kepercayaan diri, karena dalam mengerjakan pekerjaan, ekspektasi yang saya berikan mungkin terlalu tinggi atau ideal, sehingga saat menghadapi permasalahan ditengah pekerjaan, tiba-tiba perasaan "galau" muncul, ditambah penyakit lain kumat, penyakit membanding-bandingkan diri dengan orang lain lebih tepatnya, karena orang lain pasti akan selalu terlihat lebih baik, lebih ahli dan lain sebagainya, disaat seperti itu rasanya kalau melihat cermin ingin berkata "I am not good enough" atau "Saya tidak cukup baik".
Pikiran seperti itu, menurut saya pribadi, tidak boleh dibiarkan terlalu lama atau berlarut-larut, karena pasti akan menjadi semacam racun untuk diri kita, karena secara bawah sadar kita seakan memberikan label dan menutup potensi kita yang sebenarnya, nah disaat seperti itu perlu rasanya untuk memiliki perasaan legowo dan memaafkan diri sendiri. Sebagai pembelaan, toh di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna dan selalu berhasil setiap saat, bahkan kalau boleh berkaca dari bidang lain, misal olahraga, bertahun-tahun tim bulu tangkis Indonesia selalu menorehkan hasil gemilang dari perhelatan Asian Games, tapi di tahun ini kita sedang berduka karena tidak berhasil membawa pulang medali satupun, ini menjadi bukti, sebagai seorang mahkluk hidup, manusia tidak selalu berada dalam keberhasilan, mungkin ada sesekali kita tersandung dan mendapatkan hasil yang tidak sesuai harapan, apakah lantas kita layak menyalahkan diri atau nasib atau menyimpan pikiran bahwa kita tidak cukup baik? Masih ingatkah kita terhadap keberhasilan yang pernah kita dapatkan sebelumnya, bagaimana menyenangkannya perasaan tersebut, apakah sebuah kegagalan lantas menurunkan nilai diri kita? (Tapi lain ceritanya kalau kita melakukan kesalahan yang begitu fatal, seperti membunuh orang).
Mungkin kekecewaan kita saat ini begitu besar, hal yang kita harap-harapkan tidak atau belum tercapai, mungkin kita bisa melihatnya dari sudut pandang lain, apakah kegagalan ini tidak bisa dimanfaatkan untuk menjadi batu pijakan kita untuk meraih keberhasilan lain? Misal, saya ambil contoh ketika kita terobsesi untuk masuk ke suatu perguruan tinggi top nomor 1 di dunia, lantas kita mati-matian belajar sampai setengah gila, tapi saat ujian ternyata kita gagal, tapi toh segala pengetahuan dan ilmu yang kita miliki selama persiapan sebetulnya masih ada, apakah tidak mungkin kalau kita mengubah target untuk mencoba di universitas yang mungkin nomor 1 di Asia atau nomor 1 di Indonesia?, atau contoh lain , misalkan di dalam pekerjaan, mungkin dalam suatu proyek kita gagal, tapi mungkin di luar sana ada proyek lain yang bisa kita dapatkan dengan pengalaman dan kemampuan yang sudah kita miliki.
Dalam banyak kesempatan, mungkin kita harus belajar untuk mengapresiasi keberhasilan yang kita dapatkan, sekecil apapun, tujuannya adalah agar kita bisa menumbuhkan rasa percaya diri, sehingga ketika mengalami kegagalan, di perpustakaan pikiran kita, kita bisa melawan setiap keragu-raguan dengan keberhasilan yang kita miliki, mungkin skala nya tidak sama, tetapi kemampuan untuk bangkit ini lah yang akan membantu kita terus melangkah kedepan, lagipula selama kita masih hidup, akan selalu ada kesempatan dan tantangan di hadapan kita, jatuh bangun adalah hal yang biasa, maka memiliki pola pikir yang benar akan membantu kita untuk bangkit dan mencoba tantangan berikutnya dengan lebih mantap, jadi ganti kata-kata "I am not good enough" segera dengan "I am Good enough". Semoga tulisan saya bermanfaat.













