5 Orang Teman mencerminkan diri Kita
Jadi dalam episode Bagi Rapot Keliking Tuku Surabaya, ada kata-kata dari Abigail terkait diri kita itu cerminan dari 5 orang sahabat kita, meskipun sebetulnya kata-kata itu sudah lama ada dan bukan dari Abigail sumbernya (Tentu nya), tapi kalimat tersebut beresonansi dengan apa yang saya pikirkan belakangan ini. Contoh lainnya ada dalam buku yang pernah saya baca, bunyi nya kurang lebih seperti ini Tunjukkan siapa orang-orang di sekitar anda, maka saya akan tahu isi dompet anda.
Dari dia contoh diatas, kita bisa memahami bahwa setiap keputusan hidup kita terkadang dipengaruhi oleh suara dari orang-orang di sekitar kita, yang disadari atau tidak, hal ini disebabkan karena kita sebagai mahkluk sosial, ingin berada dalam suatu komunitas agar tidak diasingkan. Pernah atau tidak, anda sebetulnya menyukai musik tertentu, tetapi karena teman-teman anda tidak suka, maka anda jadi tidak mendengarkan musik tersebut lagi? Mungkin itu contoh yang receh, tapi ketika hal tersebut melibatkan sesuatu yang lebih besar, contoh, keputusan finansial ataupun bisnis, bisa menjadi celaka kalau kita dikelilingi oleh orang yang tidak bisa mengatur uang.
Maka frasa kelilingilah dirimu dengan orang sukses maka kamu akan sukses, bisa dimengerti, karena secara tidak sadar, kita akan mengikuti kebiasaan dan sudut pandang dari orang-orang di sekitar kita, apakah kita menjadi baik atau buruk bisa jadi, secara tidak sadar, itu dipengaruhi siapa teman kita yang sebagian besar waktu kita akan kita habiskan berinteraksi dengan mereka dan menyesuaikan sudut pandang dari kita.
Komik Duitto & Co di Harian kontan pada tanggal 3 Agustus juga menuliskan hal yang kurang lebih sama "... Temanmu yang Jahat dapat mempengaruhimu menjadi jahat, jadi hati-hatilah dalam berteman".
Dulu ketika belum menikah, saya tidak pernah memikirkan hal tersebut, sehingga menurut saya pilihan sekolah seseorang tidak akan pernah berpengaruh terhadap hidupnya, namun setelah berkeluarga dan memiliki anak, tampaknya hal-hal seperti lingkungan pertemanan, orang tua dari teman anak dan lain sebagainya itu mempengaruhi pola pikir para anak-anaknya dan akan mempengaruhi ke pembentukan karakter si anak kita, jadi frasa "Untuk anak, jangan coba-coba" mungkin juga jadi bisa kita pahami.
Untuk yang sudah terlanjur dewasa, mungkin saat ini kita bisa mulai merefleksikan, apakah sejauh ini, teman-teman kita sudah menganut nilai yang sama dengan kita dan apakah mereka bisa membantu kita melangkah lebih jauh menuju ke "Sukses" yang kita inginkan? Tidak pernah ada kata terlambat untuk merevisi ulang pertemanan kita, kalau itu membawa kita ke arah yang jauh dari tujuan kita.









