Sejuta hari nggak buka Tumblr. Sekalinya buka inginnya curhat sampe jari-jari sengklek. Ah tapi ngantuk beratttttt jadi mungkin cuma bakal curhat sedikit-sedikit (like anybody would notice aja ih).......... Aku selalu suka A Time Traveler's Wife. I so can relate to that Clare Abshire. (Minus dia adalah lukisan Boticelli sempurna dengan bakat artistik yang luar biasa, aku ya aku weh kumaha) A Time Traveler's Wife mengajarkan seni menunggu. Seni menikmati penantian. Bagaimana menanti lalu berjumpa lalu menanti lalu berjumpa kembali. Mengajarkan pula cara menikmati apa yang ada saat ini, saat sekarang, karena tidak ada yang tahu apapun di masa depan (kecuali Henry yang telah pergi ke masa depan, tapi toh dia tidak pernah cerita detail tentang masa depan terkait Kehendak Bebas). Ini bukan review, bukan. Ini tentang menanti. Memastikan. Menikmati masa-masa yang penuh dengan ketidakjelasan. Berusaha menafsirkan emosi. Mencairkan suasana ketika akhirnya berkumpul kembali. Menggenggam seluruh masa. Saat ini. Sekarang. Sampai kontemplasi berikutnya.














