고마워, 얘들아!
Tahu tes kepribadian yang hasilnya INTP, ESFJ, bla bla itu? Meyers-Briggs atau apa lah itu judulnya.... Tahu kan? Sempet seliweran di media sosial sekitaran tahun aku mau lulus kuliah, untuk nulis CV katanya berguna tuh. Aku juga coba-coba, hasilnya entahlah lupa apa ENTP atau ENTJ persisnya ada di inbox email, ujung-ujungnya nggak ditulis juga di CV :)) Tapi yang kuingat dari keseluruhan tes karakter, apapun itu, adalah betapa ekstrovert/sanguinis (dan koleris)nya diri ini dengan hanya sedikit titik introvert.
Pengaruhnya apa pada kehidupan?
Nggak tahu juga hahahaha
Satu hal yang pasti, semua tes karakter itu keluar aslinya ketika aku dihadapkan pada situasi-situasi genting. Deadline kerjaan/tugas, kerja sama tim, sampai waktu... liburan sama temen-temen. Istilahnya, keluar aslinya. The Sanguine in me always works as a clown, lighten up the mood. The Choleric in me always wants to make sure everything stays in order, up to the smallest detail like “Which exit should we take to this market? How long should we walk to that Doshirak Cafe? What kind of cheap transport can i use to go from this place to that place?” etc etc. And The Melancholic in me.... shows up right after i get home, filling my head and my heart with this weird feeling that can make me end up texting my trip-gang: WITHDRAWAL SUCKKSSSSS I WANNA GO BACK TO THAT PLACE!
((Preambule yang ciamik, kan?))
Seminggu kuhabiskan di kota orang, seminggu yang butuh persiapan hampir setahun dari mulai beli tiket promo empot-empotan, nabung, bikin visa, deg-degan nunggu visa, beli tiket kereta antar kota, atur itin sampe mabux baca sekian puluh blog dan pdf, belajar bahasa setempat (karena nafsu ingin ngobrol dengan orang lokal), sampai ngabisin kuota modem bulanan untuk jelajah google streetview! So much for a week!
A week!
Tapi dari seminggu itu, semua kelelahan setahun seakan lunas. Berhasil mencapai 80% itin, berhasil ngobrol sama orang lokal (yang amburadul entah ngomong apa tapi nyambung), berhasil ke tempat-tempat tak terduga, dan berhasil berkompromi.
Sure, travelling in a group pushed you to your limit, and compromizing is key.
Berhasil juga tidur di AirBnB (2, lagi! Thanks Kak Opi), berhasil jajan streetfood yang diidamkan, berhasil merasakan transportasi lokal dari yang bagus sampai yang aduhai.... :)
Sekarang yang tersisa tinggal melankolisnya. Rasa haru yang muncul setiap lihat foto, setiap lihat potongan boarding pass, setiap lihat jam dan keinget
“ih kalau di sana, jam segini tuh....”
setiap chat di grup.... I feel so happy an fulfilled, alhamdulillah. Sedih tapi senang, terharu karena berhasil juga liburan from scratch! :))
Duit habis, tapi duit bisa dicari.
Liburan habis, ada pengalaman dan memori untuk disimpan dan di-recall kapanpun dengan hati hangat :”)
Aku bersyukur karena 7 hari kemarin kulewati dengan buying experiences (sheetmask termasuk experience gak ya.... kekeke) while fulfilling bucketlist.. bareng-bareng temenjalan.com.
Tahun depan, kemana?












