Kita Memilih Kandidat Lain! - Penolakan Aplikasi S3 Pertama
So yeah, you read it right.
Saya sudah membaca perjuangan-perjuangan orang lain yang mendaftar S3 dengan total yang dikirim sebanyak puluhan aplikasi, lalu tidak ada balasan atau tidak diterima. Penolakan memang sebenarnya hal yang wajar terjadi.
Mari mendengar cerita penolakan pertama saya yang mungkin tidak berfaedah ini.
Saya baru memasukkan aplikasi ke 5 lowongan, dan dari 5 hanya satu yang diproses, kebetulan sampai proses interview terakhir (cuma ada dua interview sih). Kelima universitas yang saya apply berlokasi di Swedia.
Dari kelima ini, yang cocok banget dan berasa jodoh dateng dari langit itu emang cuma satu ini, karena fokusnya ke Rural Telecommunication. Fokus saya sejak S1 dan juga thesis master kemarin memang simulasi Matlab untuk 5G deployment di Banten.
Dari Interview pertama, oke, masih grogi dan masih agak umum yang ditanya. Sedikit agak pede proses nya berlanjut karena diskusinya enak.
Kemudian memang benar berlanjut! Interview kedua ialah presentasi thesis, yang diselipkan juga dengan tanya jawab. Ditanya hal-hal practical juga seperti berapa lama butuh persiapan Residence Permit dari Migrationsverket, apa masih ada kontrak dengan LPDP atau tidak, gimana kontrak kerja sama kantor yang sekarang, dan sebagainya dan sebagainya.
Setelah interview terakhir, buka e-mail itu selalu deg-degan. Karena penentu hidup dan mati (yaelah lebay), tapi yang tadinya ga ngarep, jadi agak ngarep. Sampai akhirnya, 3 minggu setelah interview kedua, yaitu hari ini, jam 03:00 WIB, pas bangun mau nyicil kerjaan, saya buka e-mail.
*aseli sejujurnya kalo buka lagi e-mailnya rasanya gemes sendiri, potongan dibawah ini sudah diartikan ke Bahasa Indonesia dan dipersingkat banget*
“Hai Annisa! Terima kasih atas waktu anda untuk pertemuan terakhir kita!
Namun, karena banyaknya high-caliber kandidat dan kami hanya bisa memilih satu kandidat, proses pemilihan memakan waktu lama, dan kami memutuskan untuk memilih kandidat lain untuk diproses pada rekrutmen ini.
Tetapi anda patut berbangga karena jujur kami sangat kagum dengan kemampuan dan motivasi anda. Terima kasih atas minat anda dalam mengikuti rekrutasi“
OK! MY FIRST EVER REJECTION *since 2010, penolakan yang dinyatakan tertulis benar-benar ditolak*
Dari dulu sempat khawatir, hidup suka berasa mulus-mulus aja. Daftar S2 langsung keterima alhamdulilah, termasuk beasiswanya, lulus baik-baik aja (walaupun nilai mah jelek juga sih). Tapi saya yakin pasti ada kena sialnya nih, entah kapan. Dan itu sekarang.
dari nangis jam 3 pagi, mau bangunin suami juga kasian, akhirnya saya telen aja itu berita, kemudian belajar materi kelas buat ngajar hari ini di jam 8 pagi dan jam 11 siang. Kemudian jam 6 pagi pas mau berangkat ngantor, saya baru info ke suami. termasuk ke keluarga yang selama ini selalu saya mintain doa.
Mungkin memang bukan jodoh ya.
Perasaan pertama dari menerima penolakan:
Kecewa sama diri sendiri, sedih, takut ngecewain suami juga karena rencana hidup kita cukup bergantung sama keputusan S3 saya.
Heran dan penasaran. Siapa sih yang diterima? kandidat kayak gimana sih?
SEBEL DAN GEMES, ga usah sok-sok memuji juga gapapa kok kalau akhirnya orang lain yang diterima :))
Dan akhirnya, mendendam (sedikit, in a positive way)
Jujur saya dari dulu selalu menerima kekalahan atau penolakan dengan dendam. Bukan dendam kesumat mau mendoakan mereka yang jelek-jelek, tapi dendam mau buktiin: “Hehe, liat aja kalian, akan menyesal ga nerima saya waktu itu”
Berarti ada poin ke-5, dari dendam jadi --> Semangat, to be a better person.
Dulu waktu ditolak kedokteran di 8 PTN, sempat ditawarkan ibu untuk tes ulang di tahun depannya dan tidak perlu pikirin biaya yang sudah dikeluarkan setahun. Tapi saya memilih untuk fight dan menerima kekalahan, dan ingin membuktikan bahwa saya bisa sukses kok di ranah telkom.
Jujur sekarang juga malah jadi makin-makin sedikit ambisius,
Proyek apa yang bisa saya kerjakan biar bisa expand networking? Networking itu bisa membawa opportunity lain kan?
Mulai baca banyak paper lagi! Teliti dan cari-cari informasi di semua platform
Dan sebagainya, dan sebagainya..
Katanya kalo satu pintu ditutup, pintu lain akan terbuka kan ya? mungkin memang tidak sekarang, tidak yang ini, tapi saya percaya tuhan memiliki skenario yang jauh lebih baik dari pada ciptaan-Nya.
Mungkin, jodohnya S3 di Amerika?! Kanada?! Terus networking di tempat lain lebih bagus, lebih berkah, lebih gak dingin kayak di Swedia?! ha ha ha.
Mungkin, memang harus fokus mengurus anak perempuan yang sudah bersangkar di perut selama lima bulan ini? kamu memang mau lahir disini ya nak? :)
Saya selalu percaya didepan nanti, walaupun mungkin sama mata saya belum terlihat, ada sesuatu yang lebih nyaman untuk saya dan keluarga.
Mari bersyukur dan ikhlas.