Rencana, saya selalu suka membicarakan rencana, rencana yang teratur juga tersusun. Bukankah itu menandakan kita adalah pribadi yang disiplin? Liburan kali ini, liburan ke empat ramadhan saya selama kuliah, liburan dengan misi tertentu, untuk meyakinkan bahwa kuliah lanjut adalah sebuah rencana yang mungkin meski saya adalah anak dari seorang guru Sekolah Dasar Swasta yang apa adanya. Rencana #1. Ibu adalah pribadi yang lembut hatinya. Ibu saya dan ibu anda mungkin adalah makhluk paling perasa di dunia, apalagi kalau soal buah hatinya. Rencana pertama ini dimulai usai kedatangan saya di Jakarta. Saya membawa cukup amunisi untuk menjelaskan kepada Ibu, bahwa tak perlu ada yang ditakutkan dalam mencari ilmu. Kalau pekerjaan para koruptor saja ada bagian rejekinya meski haram pastinya, tak mungkin rasanya Allah tak menjamin orang yang mencari ilmu, ikhlas karena-Nya. Tapi itu saja tak cukup untuk ibu. Harus ada senjata "Ak-47" yang tepat sasaran, sehingga membuat hati ibu terenyuh kemudian "pintu" itu mulai terbuka, meski sedikit tapi cahaya akan selalu menjadi inspirasi bagi cahaya lainnya, bukan? Rencana pertama ini saya siapkan sebelum puasa. Bertanya tentang LPDP kepada si awardee, harapannya sedikit banyak informasi saya kuasai sehingga kekhawatiran ibu menjadi sirna. Simpel memang apa yang ditakutkan ibu, pengalaman meraih bidikmisi dengan segala macam sedih dan dukanya membuat ibu semakin percaya, beasiswa dari indonesia tak pernah bisa diandalkan. Well, itu memang fakta yang agak memalukan pun sekaligus fakta yang membuat saya harus membanting tulang untuk meraih restunya. Untuknya, langkah pertama harus saya kuasai, demi kepastian dan keyakinan pintu itu bisa terbuka, meski kedepannya keraguan ibu bisa saja terjadi lagi. Puasa ke 3, 1437 H, pelataran serambi timur Masjid Manarul Ilmi menjadi saksi bisu akan rencana pertama saya. Jauh sebelum kepulangan pemahaman akan LPDP sudah saya kuasai. Hal yang sederhana tapi perlu dengan persiapan matang. Sesampainya di Jakarta, amunisi pemahaman tak cukup kalau hanya dipaparkan kepada ibu. Momen dan wawasan juga harus jadi perhatian utama. Sambil menunggu waktu berbuka, saya bercerita. Dimulai dari saat ini tinggal Skripsi dan sidang akhir, dengan kemungkinan lulus (agak) telat dari normalnya (4.5 tahun) itu semua saya beberkan. Sampai pada kesempatan itu, saya beri tahu rencana yang (mungkin) ibu sudah bosan mendengarnya. Bermula dari cerita tentang link yang dimiliki akibat organisasi, potensi yang Allah berikan di dalam diri. Hingga melipir pada kesempatan terbuka lebar untuk melanjutkan studi. Semua sudah tersampaikan, tak lupa saya sampaikan keinginan untuk menjadi orang berguna di sektor kemaritiman negeri dengan menjadi pembuat kebijakan yang memiliki integritas diri. Semua sebenarnya sama, tapi dulu saat di telpon saya berjanji untuk menceritakan lebih dalam dari hati ke hati dengan pembicaraan antara anak dan ibunya langsung. Semuanya sama, bahannya sama, pun reaksi yang dihasilkan juga sama. Ibu menangis dan saya hanya berdiam sambil menatap atap-atap langit kamar. Sekian lamanya ibu berdiam diri, lantas saya bertanya kepada ibu. Tentang rencana saya selain kuliah, yang (ini akan saya jelaskan di bagian itikaf malam 27) tapi ibu hanya diam sambil melanjutkan pembicaraan lainnya. Sementara saya ingin melanjutkan lagi, Adzan maghrib sudah berkumandang di seantero langit. Aduh, belum waktunya! Usai tarawih saya sengaja tidak tilawah seperti biasa selain untuk melanjutkan rencana, saya ingin punya waktu bersama ibu lebih banyak. Sayang waktu itu abang saya menganggu waktu kami berdua, saat saya memutuskan untuk melakukan itikaf di masjid bersama teman lainnya, Abang saya yang tadi mengganggu waktu saya dengan Ibu menanyakan kesediaan saya untuk meng-kerok ibu. Apa? Ini waktu yang saya tunggu, oke saya siap! Ibu memang agak lelah seharian ini, sambil mengerok badan yang tak muda lagi, saya memulai pembicaraan. Mulai dari cerita pendapat ibu tentang wanita dengan hijab besar. Ini bagian dari rencana, rencana besar yang akan saya rasakan efeknya nanti pada waktunya. Pada kesempatan itu juga saya menyampaikan "AK-47" lainnya. Ibu kembali terdiam, tapi cara saya menyampaikan lebih fun, lebih ceria, sambil tertawa juga sambil memberi contoh yang mudah dipahami. Hingga akhir kerokan di badannya, saya punya satu harapan. Ibu mulai terbuka hatinya, saya sebenarnya tahu masalah yang digusarkan Ibu, lagi, penjelasan kali ini hanya satu rencana dari rencana lainnya. Tunggu saja rencana #2 lainnya. @panduheru