Tentang Iltizam
Tak terasa betul waktu berlalu, Ramadhaan bulan kemuliaan kembali meninggalkan kami. Yaa Rabb Ballighna Ramadhaan. Kendati kualitas amalan di Ramadhan kali ini tidak begitu optimal (menurut saya) di sisi lain banyak pengalaman baru dan pembelajaran yang saya temukan di Ramadhaan 1445 H ini. Tentang Iltizam, Jauh sebelum berada pada titik ini, biar kupahamkan sedikit makna "Iltizam" yang saya maksud. Defenisi iltizam menurut bahasa adalah berpegang teguh, memeluk, menempel dengan sesuatu. Mewajibkan sesuatu pada dirinya. Sedang ditinjau dari segi istilah Iltizam ialah suatu transaksi yang munculnya atau berakhirnya suatu hak katas kehendak pribadi ataupun kehendak orang lain. 29 Ramadhaan beberapa tahun silam. Saya menerima dengan niat baik, untuk melanjutkan proses perjalanan dakwah jamaah yang sekarang sedang kujalani. Jalan kemuliaan ini tentu tidak senantiasa mulus jalannya, silih berganti ujian diperhadapkan oleh-Nya. dan disisi lain agar melihat sebagaimana kuat para hamilud-da'wah ini bertahan dalam perjuangan ini. Memilih berada pada jalan perjuangan berarti harus siap terikat pada suatu 'komitmen' ketaatan dengan Rabbul izzati. Kurang lebih menapaki jalan dakwah dengan berbagai amanah. Tentu sebagai pengemban yang juga manusia biasa tak luput dari kesalahan. Termasuk dalam hal 'komitmen'/ iltizam ini. Tulisan ini hanya sebagai pelipur lara. Sebab tentang iltizam atau 'komitmen' beberapa hari terakhir ini saya merasa terhantui dosa. saya merasa telah mengambil hak ruhiyah para mad'u dengan dalih kepentingan pribadi. Astaghfirullah... Tentang Iltizam, sewaktu bimbingan pada ustadz Firman, beliau sempat menyinggung tentang iltizam pada alur penelitianku. "Iltizam ini kan bagian dari syakhsiyah Islam". Seketika saya teringat betul keterkaitan dua kata ini dalam perjalanan dakwah yang saya jalani. Tentang Iltizam, sempat terlintas dalam benak, apakah ada orang lain selain saya yang lalai dalam menjaga kualitas iltizam sedang dirinya dalam keadaan tidak stabil? oh atau ini hanya pertanyaan perasaan yang butuh dikasihani dan dibela?
Tentang iltizam, Selama dalam lingkaran pertemanan yang Allaah ridho atas itu, maka iltizam akan selalu serasi dengan sentilan-sentilan yang tidak perlu kita kemas untuk diolah sebagai rasa yang lain melainkan sebagai kayu bakar yang senantiasa mengundang api semangat untuk berbenah. one day, hard times will be over and everything will pay off. Mohon maaf lahir dan bathin, Taqabalallaahu minna wamingkum; shiyaamanaa washiyaamakum. [Ainfzh,01 Syawwal 1445 H]













