A sketch, I don't really make finished pieces anymore. But I want to going forward.

seen from Malaysia

seen from United States

seen from United States
seen from China

seen from United States
seen from New Zealand

seen from United States

seen from China

seen from Malaysia
seen from Germany
seen from Australia

seen from United States
seen from Brazil
seen from United States
seen from China
seen from Germany
seen from Russia

seen from United States

seen from United States

seen from United States
A sketch, I don't really make finished pieces anymore. But I want to going forward.
Feliz Cumpleaños Mi Querida #Danddy de Caramelo 🍬🎂🐶✨🤲🏼🤗👏🏼🎉🌟💫 Muchas Bendiciones ☺️🤗🙏🏼♥️ #FelizCumpleaños 🎊🎈🎁 #LoveDog 🐩❤️ #HappyBirthday 🤩 (en Cumana Edo. Sucre) https://www.instagram.com/p/CZQHU1pJHXM/?utm_medium=tumblr
#Tbt #ThrowbackThursday Con Mi Amada #HijaPerruna Danddy de Caramelo #Danddy #DogLove #Cumaná #Sucre #Venezuela #BestOfTheDay #InstaGood #TagsTagram #InstagramPhotos #AmorPerruno #AmorDeCuatroPatas #FelizDía #FelizJueves 🥰❤️🐶😁😍😎😚 (en Cumana Edo. Sucre) https://www.instagram.com/p/CL-88gQBMQm/?igshid=1tu3y25k84tsj
Su traje de gala ... listo para la acción #machoqueserespetausatraje #danddy #sexy #macholatinopechopeludo #disneystoreCP (en Disneystorecp)
Si Friendly, Dzikri Amali Musyaffa
Item manis, kurus. Kemarin sempat berisi tapi kurus lagi hmm. Selalu pulang malam atau jauh lebih lama dari waktu seharusnya. Berdedikasi tinggi terhadap tanggung jawabnya di luar rumah. Pemimpin yang baik, insyaaAllah. Organisasi jauh di atas akademik. Walaupun tetap bagus nilainya. Inilah Dzikri.
Ada kejadian lucu malam ini. Ceritanya setelah cerita bareng Dzaki dan akhirnya Dzikri pulang, dibukakanlah pintu untuk anak bungsu tak jadi ini. Etttt. Ternyata ada dua kawannya yang ikut datang.
Tth: “Iki sama siapa tu dek (Dzaki)?”
Dzk: “Sama kawannya, kayaknya nginap sini. Pake jilbab teh.”
Tth: “Masih planga-plongo kaget karena terlalu larut dan kaget aja.”
*Pergilah si teteh ke ibuknya*
Tth: “Buk, Iki bawa temannya. Kayaknya nginap.”
Ibu: “Eh, iya?” *Kaget, sambil tetep telfonan tapi keluar kamar*
*Datanglah Dzaki kembali*
Dzk: “Nggak rupanya do, kawannya ngantarin dia aja. Rumah kawannya di Sukajadi.”
Tth: *Lebih kaget lagi* “Di mana rumah kawannya dek?” *mastiiin*
Gimana gak kaget, secara sadar diri, ini rumah di (agak) pelosok. Hampir satu jam dari pusat kota. Kalau ditotal ke Sukajadi ya kira-kira lebih dari setengah jam. Gimana gak kaget, anak orang datang ke rumah cuma buat nganterin adek awak. Luar biasa:’)
*Keluar rumah, ngeliatin Dzikri yang dadadada sama kawannya*
Tth: “Ki, kok bisa teman Iki ngantar? Rumahnya di Sukajadi dek?”
Iki: “Iya, Iki udah gamau di antar tadi (barengan dua motor). Tapi gaenak kawan Iki tu. Kan tadi Iki izinnya cuma sampe jam 8.”
Tth: *Ketawa lepas* “Tulah, ibuktu galak kali.” *nyalahin ibunda ratu*
Ibu: *Ketawa* “Ya gimanalah lagi, harus galak lah. Ke mana aja kalian tadi ki?”
Iki: “Gak ke mana-mana kami tadi buk. Cuma cari atribut buat besok aja. Terus tiba-tiba udah jam 9 aja kan, Iki bilanglah sama orangtu, ‘Eh, udah jam 9 ni ha woi, aku izin sama ibuk aku cuma sampai jam 8..’ Tu orangtu merasa bersalah, di antarnya Iki sampe rumah. Katanya biar jadi bukti gak ke mana-mana Iki ni. Biar jelas....” *Muka setengah takut padahal mood ibuknya lagi baik wk*
Tth: *Ketawa lepas*
Ini bukti bahwa seorang Dzikri Amali Musyaffa adalah teman yang baik. Biasanya, ia yang selalu lebih dulu mengantar kawannya sampai ke rumah (yaiyalah lebih deket). Tapi yang bikin seneng adalah kawan-kawannya yang dua orang ini mau nganter Dzikri yang rumahnya jauh dari pusat kota dan akhirnya balik lagi ke rumahnya di kota. Kalau diestimasiin mereka baru nyampe rumah jam 11 lewat. Jam yang tetap tidak normal untuk menjadi jam pulang bagi anak SMA se-organisatoris apapun menurutku. *beda kalau asrama ya haha ngomongin diri sendiri:’)
Di antara dua adik lainnya, aku itu paling lama bersentuhan sama Dzikri. Dzikri ini unique. Kenapa? Karena dari kecil (playgroup), tingkah dia ke kita (keluarga) sama ke teman itu beda wkwk. Mamangku pernah nganter dan ngevideoin interaksi awal Dzikri sama teman kelasnya. Lembuuuuuuuuuuuut selembut sutera:p tapi pas di rumah, ngamuk-ngamuk lagi wkwk.
Kalau pengalaman aku selama ngikutin Dzikri pawai ke sana ke mari plus perpisahan TK, Dzikri ini memang selalu punya sahabat. Pokoke lengket aja, Nah, kebawa sampai sekarang. Kalau aku julukin Dzikri ini si friendly. Apa-apa temen. Apa-apa bantu temen alasannya. Mulia, insyaaAllah.
Dzikri ini memang yang paling bandel di antara dua adekku yang lain. Bandel dan keras mungkin karena dia memang jagonya di fisik. Dari dulu selalu main bola. Pulang SD pasti main bola di lapangan. Di sekitar rumah temennya banyak, ada aja yang teriakin nama dia buat ngajak main di lapangan. 3 nama lain gapernah di panggil #krik.
Di SMP aja dia galau, sebentar atlet voli, sebentar basket, sebentar futsal, terus takraw, tapi gaada yang nyampe kejuaraan mana gitu. Ini yang bikin ibuk emosi._. Karena dia gamau olim kayak aa tetehnya. Tapi dikasih kebebasan gajuga optimal. Mungkin sekarang ini baru on lagi dia. Pindah ke Pramuka Passus Paskibra sama bantu-bantu OSIS. Kalau mau upacara pokoknya asik dia aja yang bawa bendera-bendera, acara apapun dia aja jadi apanya, gak ngertilah yang penting positif walaupun makin item:’)
Dzikri memang terlilhat paling cuek sama keluarganya. Sama aa’nya suka gabegitu nurut, sama adeknya suka diusilin, kelahi jadinya, tapi................hatinya tetep lembut. Tau dari mana teh? keliatan. Kedengeran juga dari doanya. Memangsih Dzikri ini pernah juara puisi pas SD, tapi ternyata masihi kebawa sampe SMA. Kalau doa bareng habis shalat dan yang mimpin dia, maasyaaAllaah. Mungkin kalau diibaratin lebay ala tetehnya ini, setara muhasabahnya Ust. Hanan Attaki #INISERIUS. Doanya lembut, PAS, halus, speechless kalau dipimpin doa sama dia. Bacaan qur’annya juga oke walaupun masih menuntut hati ikut menuntun *ini tiga-tiganya masih sama*.
Alasan lain kenapa seorang Dzikri teramat lembut di hati tetehnya ini adalah karena ia mampu bermain dengan seluruh sepupu-sepupu kecilnya. Read: SELURUH. Jadi ceritanya, waktu almarhum mbah kung sakit dan setelahnya dirawat di rumah bude endang di Dumai, hampir semua keluargaku tidur di sana. Main dan meramaikan rumah untuk sama-sama jagain almarhum.
Nah, kepala sukunya banyak bocah di bawah umur ini (Asti, Dzakwan, Naila, Destho, Sea, bahkan kadang datang Biu, Afif, Tsaqif, dll) adalah Dzikri. Dengan sabar ia menjaga, ngeladenin main, dan sampai ngeimamin mereka. Ikhlasnya kerasa, seneeeeng aja liat adek yang dulu aku jaga bisa se-dewasa dan se-friendly itu buat jadi temen main para bocil. Padahal dulunya hmmm:’)
Kalau minjem kata-katanya Ayu di tumblr pasca PAB, “Orang yang dewasa menurut Ayu itu adalah yang bisa benar-benar berinteraksi sama anak-anak.” Itu yang aku dapet dari Dzikri yang tbtb udah gede aja:’)
Dan yang bikin makin saya ke Dzikri maupun Dzaki ini adalah kesabaran mereka dalam ngehadapin tetehnya kalau lagi belajar motor:’) Ahah keknya daku menyusahkan sekali. Mereka suka elus-elus dada sendiri dulu pas ngajarin motor. Sabaaar kali. “Teh, teh... gak gitu teh...” HALAH MELLOW huuuuuuuuu. Melankolis mah gini banget sih nne:’)
Sebenarnya ada satu cerita yang paling nge-enyuhin hati tentang Dzikri dan kasusnya orang jahat lain pas dia SD. Tapi karena tidak ingin sampai berghibah *na’udzubillaahi min dzaalik even kesel dan ingin mendoakan yang baik-baik saja, sampai di sini aja cerita tentang Dzikrinya yaa.
Mohon doanya supaya adekku yang satu ini tidak terlalu mem-forsir dirinya dalam organisasi karena sesungguhnya organisasi di kuliah lebih mantepp weh wk. Mohon doanya teman-teman yang dirahmati Allah, Dzikri juga ingin menjadi taruna STIP, Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran tepat setelah ia lulus SMA nanti. Semoga Dzaki, Dzikri, Dzakwan, dan kita semua senantiasa Allah lindungi dalam iman dan islam, serta senantiasa diberi kelancaran, kekuatan, dan yang terbaik dalam hidup, aamiin yaaAllah yaaRobbal ‘aalamiin<3
Yang Dewasa, Dzaki Amali Muhamdani
Semangat nulis itu, tumbuh kalau ngeliat adek-adek. Berhubung tetehnya ini pelupa, makanya jadi semangat nulis. Biar ceritanya bisa dibaca lagi, disenyumin lagi:)
Malam ini aku tinggal berdua sama Dzakwan, ibu baru pulang jam 9. Dzaki yang janjinya setengah 9 juga baru pulang berbelas menit setelahnya. Dzikri........hmm organisatoris satu ini memang gausah ditanya. Bikin tetehnya cemas-cemas optimis. Baru touchdown rumah hampir setengah 11. Wajar, rumah jauh. Toh, dia sudah izin ibunda ratu.
Adapun sambil nunggu Dzikri, aku bantuin Dzaki yang sudah pulang dan sudah makan buat mengangkut barang-barang di bagasi mobil. Tadinya niatnya cuma bantuin liatin, toh dia nerima wk. Tapi muncullah jiwa sok kuat dan gamau kalah yang akhirnya membantu mempercepat proses pemindahan barang-barang tadi.
Selama mindahin barang, kita-kita gapake sendal keluar rumah. Kotor dong? jelas. Tapi pas disuruh cuci kaki, Dzaki gamau. Katanya kerasa bersih:’)
Nah ininih celoteh Dzaki dimulai.
*Keluar kamar mandi*
Dzk: “Teh, tau nggak, waktu pramuka ya, Dzaki gapake sendal 3 hari.”
Tth: “Kenapa gitu dek? Kenapa gapake sendal?”
Dzk: “Iya, soalnya becek. Nanti sendal Dzaki kotor. Terus kan ya teh, Hari ke 6 Dzaki pergi ke kantin, kakak kantinnya nanya,
‘kok gapake sendal dek?’ / ‘Gapapa kak, becek, nanti sendal saya kotor’ / ‘ooo gapapa sih, tapi gatakut cacingan?’.”
Dzk: “Nah, teteh taulah kan, Pas sholat isya habis itu, di pikiran Dzaki kebayang-bayang, ‘cacingan....cacingan...cacingan’. Belum lagi kaki Dzaki gatal-gatal semua. Seeram teh.”
Tth: *Ketawa lepas* *apalagi ngeliat ekspresi dia*
Dzk: “Sampe ini ni teh kaki Dzaki yang ini, penuh lingkaran merah... takut Dzaki teh”
Dan cerita seru seputar pramuka terus berlanjut.............................sampai Dzikri pulang.
Sebelumnya, Dzaki dan Dzikri ini anak pramuka banget. Salah satu rasa syukur yang besar rasanya melihat mereka begitu aktif di pramuka ini *Tetehnya cuma pernah 1 kali latihan pramuka dan itupun planga-plongo gajelas. Padahal pramuka diwajibin di zamannya waktu itu*. Kenapa bersyukur? Karena Dzaki adekku yang pertama ini dulunya autis. Autis yang alhamdulillah pinterrrrr. Jenius._. Apa ya, Asperger Syndrome sekian persen jenis autisnya.
Pas mulai masuk SMP, qadarullaah mulai normal dan makin hebat (anak olim bio banget), dia..... jadi pembersih sekali. Mandi 3 kali sehari, gamau berkeringat. Alhamdulillah Allah pertemukan dengan pramuka dan bisa gamandi 3 hari di kemah itu......wah bagi tetehnya:’) You’ve grown up bro:’)
Dzaki.
Dulu panggilannya Idzak. Tapi karena dia sering sakit, diganti lagi jadi Dzaki. Dzaki ini seperti yang tadi aku sebutkan, dia jenius sejak kecil. Setidaknya bagi tetehnya <3. Di umur yang begitu kecil dia selalu ingin tau banyak hal, terobsesi sama Dinosaurus dan semacamnya, hobi bereksperimen, dan lain lain. Alhamdulillaahnya, almarhum selalu bisa memfasilitasi keingintahuannya Dzaki maupun Dzikri. Aaah kalau dijelasin makin mellow. Bukan mellow karena mengenang yang lalu, tapi mellow karena Dzakwan tidak bisa merasakan hal yang sama di masa-masa emasnya yang lalu.
Aku sama Dzaki pernah kelahi hebat hanya karena sebuah bantal. Dulu kita punya bantal kesayangan masing-masing. Bukan sayang bantalnya sih, lebih tepatnya sarung bantalnya. Dia suka mickey mouse berlatar garis diagonal biru putih, aku suka sarung bantal bulan purnama berlatar warna peach tapi tua yang polos. Aku suka karena bahannya ademmm.
Nah, suatu hari Dzaki pengen pake bantalku. Tapi aku egois banget gamau ngasih. Hasilnya? rebutan sampe jambak-jambakan. HAHA. Itu sepertinya the one and only kelahinya kita. Itu pas Dzaki mungkin masih 3 tahunan. Perkelahian itu terhenti karena almarhum bapak sudah terlewat geram dan akhirnya merebut bantal tersebut lalu berjalan cepat sambil membuka pintu rumah dan..................................... bantalnya di lempar keluar.
K-e-n-a T-a-n-a-h
kalau gasalah. Eh apa cuma nyampe batu batu gitu ya lupa. Yang pasti, si teteh MENYESAL karena bantalnya akhirnya ternodai wkwk. Egois bener sih jadi kakak ya gitu.
Dan sampai sekarang aku masih takjub sama cara almarhum menyelesaikan masalah. Beliau have no words but we got his point on his action. Ya mau ngapain lagi setelah bantalnya dibuang... Cuma bisa pasrah liatin bantalnya dari jendela di tengah malam yang kian sunyi itu HAHAHA. Pathetic:’)
Dzaki.
Sekarang, Dzaki sudah kelas 3 SMA. Dia berulang kali berkata demikian kalau tetehnya ngajak liburan di liburan semester kayak gini. Sebenarnya sebelum kelas 3 SMApun, Dzaki sama Dzikri gapernah mau diajak liburan. Kalau ujungnya mereka ikut, percayalah ada unsur ketidakikhlasan di awal perjalanan. Mengapa? Karena mereka cinta sekolah dan seisinya:’) 2 anak tengah ini beda sama 2 anak ujung yang hobi cabut wk.
Mohon doanya netizen yang dirahmati Allah. Dzaki punya impian bisa menjadi taruna di STIP, Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran. Alasannya mulia, karena waktu itu kita pernah liburan ke kampung mbah kung di Bengkalis. Dan ketika sedang dalam sebuah percakapan di rumah adeknya, almarhum dengan bangga mengatakan bahwa Dzaki adalah calon penerusnya. Ini alasan yang membuat Dzaki tidak akan bisa pindah dari mimpi awalnya untuk dapat menimba ilmu di sana.
Ketika menyebutkan alasan ini, aku dan Dzaki sedang di dalam mobil dengan posisi tidak saling berhadapan. Alasan yang ia sebutkan dengan suara bergetar memang meng-enyuhkan hati. Membuktikan bahwa ia anak berbakti. Ditambah lagi, di SNMPTN ia akan tetap mengambil Kedokteran (insyaaAllah Kedokteran UI, mohon doanya<3). Ini dia ambil bukan karena keinginan sepenuhnya menjadi dokter.
Menurutnya menjadi dokter adalah pilihan yang berat karena tanggung jawab akan nyawa orang lain sangatlah berat. Namun, lagi-lagi ia mau karena ia menuruti keinginan ibu yang memang dari dulu pengen anaknya jadi dokter (terbukti aku juga akhirnya milih Kedoteran di pilihan pertama SBMPTN. Alhamdulillaah galulus:’))
Qadarullaah, Alhamdulillaah.
Adekku bukan hanya kian bertambah usia, tapi juga bertambah dewasa. Berlibur dan berdiskusi di rumah memberikanku kenyataan bahwa aku tidak sendirian. Ada Dzaki yang juga ‘mengerti’ banyak hal, ‘menyetujui’ banyak hal tanpa aku harus mengungkapkan apa yang aku fikir dan rasakan.
Terima kasih yaaAllah, Engkau memang mengambil bapakku lebih cepat. Membuatku kehilangan teman ‘rahasia’, teman ‘cerita’, teman ‘main’, teman ‘menambah ilmu dan wawasan’ yang dulu ada. Namun kini, Engkau hadirkan semuanya dalam diri adek sulungku. Adik yang insyaaAllah menjadi penghuni rumah impianku di syurga, bersama seluruh keluarga dan sahabatku lainnya aamiin yaaAllah yaaRobbal ‘aalamiin <3
LA casual for a Monday 👞👖👟 - - - - - - #danddy #denium #jeans #jeanswear #mensclothing #mensdenim #mensjeans #menslook #menstyle #menswear #mensweardaily #mensdenim #mensclothing #rippedjeans
Jeans and white converse still classic style 👖👟 - #danddy #denium #jeans #jeanswear #mensclothing #mensdenim #mensjeans #menslook #menstyle #menswear #mensweardaily #mensdenim #mensclothing #rippedjeans #richesquire