Melihat Pendidikan dari Buku Little Men #2021
Kembali menambah cerita baru di blog ini. Hari ini aku ingin menambah sebuah section baru di blog ini agar semakin berisi. Setelah sebelumnya lebih banyak membagikan cerita tentang opini dan refleksi, kali ini aku ingin membuat section rekomendasi dan review (Double R).
Sebagai pembukaan di section baru ini, aku ingin berbagi rekomendasi salah satu buku yang baru aja selesai aku baca. Buku ini aku dapatkan dari donasi buku salah satu teman baikku. Judul bukunya adalah Little Men karya dari Louisa May Alcott.
Sebagian orang mungkin enggak asing sama judul buku ini. Yupss, buku ini adalah lanjutan dari salah satu buku terkenal berjudul Little Women . Sebagai cerita lanjutan, buku Little Men sendiri menceritakan kisah baru dari Jo March (salah satu tokoh di buku sebelumnya) yang kini telah menikah dan membangun sekolah bersama suaminya. Sekolah yang diberi nama Plumfield ini memiliki 15 murid dari berbagai latar belakang. Cerita utama yang disajikan tentunya adalah kisah keseharian para murid tersebut dalam menjalani pendidikan mereka disana.
Kesan yang aku dapatkan ketika membaca buku ini adalah seru! Aku suka banget sama cara penulis menggambarkan beragam tingkah laku dari anak-anak Plumfield. Penuh dengan jenaka dan sudut pandang kepolosan seorang anak-anak. Selain itu aku merasa buku ini menarik khususnya dalam menilai isu pendidikan. Meski buku ini berlatar pada masa perang dunia (sejujurnya aku kurang tau ini perang dunia kesatu atau kedua) tapi pesan moral yang dibawakan masih sangat relevan dengan isu pendidikan saat ini.
Karena aku merasa banyak pembelajaran yang bisa diambil dari buku ini, aku akan berbagi sebagian insight yang aku dapatkan dari buku Little men. So, let's goooo...
Urgensi pendidikan moral tanpa mengesampingkan pendidikan keilmuan.
Plumfield merupakan sekolah yang ingin menghasilkan murid yang tidak hanya berwawasan luas saja melainkan juga berkarakter. Hal ini yang menurutku cukup penting dalam sebuah pendidikan. Pendidikan moral dan pendidikan keilmuan merupakan sesuatu hal yang saling mendukung satu sama lain. Keduanya merupakan bekal agar seorang anak bisa bertahan di kehidupan sosial. Kerap kali anak-anak yang tidak memiliki persiapan bekal ini pada akhirnya harus terseok-seok untuk bertahan di masyarakat. Maka dari itu, kedua hal ini pada hakikatnya memang tidak luput diberikan kepada anak-anak.
Beragam karakter, beragam cara untuk mengajarkan dan memberi pemahaman.
Melalui buku ini, aku semakin percaya bahwa setiap anak memang terlahir untuk diberikan kesempatan untuk belajar. Hal ini bahkan terlepas dari beragam latar belakang yang mereka miliki. Mulai dari kondisi fisik, kondisi mental, hingga kondisi keuangan pastinya. Akan selalu ada 1001++ cara untuk mengajarkan dan memberi pemahaman kepada manusia termasuk anak-anak.
Setiap dari kita pastinya terlahir dengan beragam karakter dan kemampuan yang berbeda-beda. Maka dari itu, pastinya akan berbeda-beda pula bagaimana setiap dari kita melihat dan memahami sesuatu hal. Terdapat ribuan cara yang bisa dilakukan dalam memberikan kesempatan untuk belajar dan memberikan pemahaman. Kesabaran, pantang menyerah, dan kreatif dapat menjadi modal bagi seorang pendidik (termasuk orang tua) untuk terus memberikan pendidikan kepada anak-anak.
Dukungan dari setiap elemen pendidikan.
Salah satu hal penting yang aku bener-bener highlight banget ada di poin terakhir. Aku ngerasa poin ini sangat penting agar sebuah sistem pendidikan dapat berjalan dengan baik. Kalau bicara tentang sistem pasti kita bakal ngomongin setiap bagian yang memiliki peran. Kalau salah satu peran tidak berjalan dengan maksimal, pasti peran lainnya juga akan terpengaruh menjadi tidak maksimal. Nah, hal ini yang terjadi juga pada sistem pendidikan. Perlu banget di sadarin kalau menjalankan sebuah pendidikan baik di sekolah maupun di rumah, tidak hanya bergantung pada satu elemen aja melainkan seluruh elemen yang ada di lingkungan tersebut. Misal di rumah, peran mengajar kepada anak gak hanya jadi peran ayah dan ibu aja. Akan tetapi seluruh elemen lainnya seperti kakak, adik, tante, om, bahkan mbak ART juga termasuk supporting system dari pendidikan di rumah itu sendiri.
Melalui buku ini, aku merasa semakin sadar urgensi dari pendidikan itu sendiri. Meski aku bukan seorang guru dan belum menjadi orang tua, aku jadi mulai paham bahwa aku juga memiliki peran untuk mendukung sistem pendidikan yang baik. Apalagi disekitar aku juga masih banyak terdapat anak-anak yang mungkin mereka sebenarnya melihat aku sebagai contoh mereka dalam berperilaku juga.
Aku merekomendasikan buku ini untuk kalian semua. Secara khusus pastinya untuk kalian yang punya ketertarikan pada isu pendidikan dan anak-anak. Selain itu, aku rasa buku ini juga tepat untuk dibaca oleh orang-orang yang sudah memiliki/ingin memiliki anak kedepannya. Meski buku ini bersifat fiksi, cukup banyak pembelajaran yang relevan dengan kehidupan pengasuhan anak saat ini.