World's on fire

seen from United States
seen from China
seen from United States

seen from Türkiye
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from China
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Türkiye

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Türkiye
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Saudi Arabia
World's on fire
farmers are gay, aliens are gay and space farmers are even gayer like have u seen luke skywalker
Lelaki Abu-Abu
Hai, kamu yang mungkin tidak sempat membaca surat dariku
Bagaimana kabarmu? Apa kesibukanmu kini? Apakah hari-harimu menyenangkan?. Tentu saja, kau tak perlu menjawab pertanyaanku karena aku tak benar-benar mempunyai nyali untuk bertanya langsung padamu. Pertanyaan-pertanyaan itu hanya berkutat di pikiranku sendiri. Menerka-nerka sesuatu yang membuat riuh isi kepalaku.
Kau tahu siapa aku, bukan? Dulu kita sempat berbincang meski tidak lama. Ingat? Kau tidak ingat? Baiklah, tak apa. Mungkin hidupmu penuh kesibukan hingga tak sempat mengingat aku.
Aku akan membantumu untuk mengingat. Biarkan aku menuntunmu kembali pada pertemuan tak disengaja itu. Pertemuan pada hari ke dua belas di bulan Maret tahun lalu. Saat itu, kau duduk seorang diri di sebuah coffee shop sambil memandang serius pada laptop mungil abu-abu. Secangkir Hot Caffè Latte dengan setia menunggu untuk kau sentuh.
Aku suka matamu. Mata yang berbingkai sebuah kacamata minus merk Lacoste berwarna hitam dengan sentuhan warna abu-abu disetiap sisi frame-nya. Kusebut saja matamu sangat seksi.
Pada wajahmu pula aku tidak ragu menaruh hati. Wajah yang mungkin dapat dikatakan tak bernoda. Ku rasa secuil jerawat sekalipun tak berani singgah disana. Kau terlihat begitu sempurna di mataku.
Oh iya, aku hampir saja lupa. Satu hal yang tak ku suka dari penampilanmu hari itu. Kau perlu sedikit merapikan rambutmu. Ekor rambutmu sudah menyentuh kerah baju. Sepulang dari sini, pergilah ke Barber Shop.
Akhirnya, mata itu dapat terlepas dari jeratan laptop abu-abu yang sepertinya masih ingin diperhatikan olehmu. Pada akhirnya mata kita tak sengaja bertemu, untuk beberapa detik ada hening yang tercipta saat kedua bola mata kita beradu. Kau lemparkan senyum simpul yang untuk sekedar membalasnya pun aku tak sanggup. Degup jantungku terlalu kuat. Aku seperti akan mati dalam senyuman itu.
“Sendirian aja?”. Satu kalimat yang dengannya membuat hatiku berloncatan kegirangan.
“Iya”. Singkat ku jawab. Karena aku sibuk memilih kata yang tepat untuk menjawab pertanyaanmu.
“Aku temenin ya, ntar takutnya kamu di-lalerin”. Katamu sambil terkekeh renyah.
Kau tahu? Kakiku seperti mati rasa. Aku sangat ingin berkata “Iya, duduk aja”. Oh sialnya, lidahku begitu kelu.
Lama tak mendapat jawaban. Kau bilang “Yaudah deh kalo lebih milih ditemenin laler. Aku duluan ya”.
Masih dengan senyum yang sama. Senyum yang sangat manis.
Masih ku lihat kau sibuk merapikan barang yang kau bawa ke dalam sebuah tas ransel berwarna abu-abu. Ku pikir mungkin warna favorit-mu adalah abu-abu.
Aku masih memandangimu, meski kini yang aku lihat hanya semburat bayangan punggungmu yang berjalan menjauh lalu menghilang di balik pintu kaca itu.
Untuk pertama kalinya.
Aku diam-diam memendam perasaan suka.
Dari aku,
-Seseorang di Meja Nomor Lima-
Shop at Sheinside now!
Shop at Sheinside now!
30 Day Song Challenge
Day 20: A song that you listen to when you're angry
All I Want - A Day To Remember